Suatu Hari di Leipzig

Saya kumpulkan catatan ini di hari ini, 28 Juni, untuk kenangan yang saya alami di tanggal 27-28 Juni 3 tahun yang lalu (2011). Entah mengapa tiba-tiba saya kangen suasana kota Leipzig itu, kota yang hanya saya singgahi semalam namun kesannya, sudah tiga tahun ini, tidak hilang-hilang.

Berlin Hauptbahnhof

Sore itu, Senin, 27 Juni 2011, saya akan pergi ke Leipzig. Kami (saya, Mas Joni Ariadinata dan Irwan Nuryana Kurniawan, mahasiswa Indonesia yang tinggal di Jerman) akan mengunjungi seorang rekan juga guru saya, Farid Mustofa, yang saat itu sedang menempuh studi di Universitas Leipzig. Kesempatan ini saya manfaatkan mengingat di hari-hari itu (26 Juni 2011 – 3 Juli 2011) saya sedang berada di Jerman untuk serangkaian acara Bombardier Berlin HauptbanhofJakarta Berlin Arts Festival di Berlin.

Kami memilih kereta ekonomi, DB (Deutsche Bahn) untuk keberangkatan 19:16 sesuai dengan yang tertara di tiket. DB mengumbar janji, bahwa perjalanan kami ini akan menempuh durasi waktu “2 jam 44 menit”. Berdasarkan janji ini, saya simpulkan, pukul 22.00 kami pasti telah tiba di Leipzig.

Kami membeli tiket melalui mesin di stasiun utama kereta api Berlin, Berlin Hauptbahnhof. Setelah memasukkan lembaran 50 dan koin 10 euro, mesin memuntahkan selembar kertas cetak plus kembalian. Tiket kami pegang. Tarip ini relatif mahal karena keberangkatan dipesan di hari yang sama. Memesan tiket seminggu sebelum hari keberangkatan atau bahkan sebulan sebelumnya akan jauh lebih murah, apalagi dengan tiket gruppen (berkelompok).

Karena saat itu masih jam 6 sore, Irwan mengajak kami menunaikan shalat di sebuah masjid. Kami berjalan ke tempat yang dimaksud, agak jauh dari stasiun. Letak tempat itu sangat terpencil. Kami melewati sebuah pintu menuju apartemen, masuk ke dalam. Ada sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, mungkin seukuran 6 X 9 meter. Itulah yang disebut Masjid Al-Falah, sepetak ruangan yang disewa mahasiswa asal Indonesia untuk beribadah.

Pada jam yang ditentukan, saya, Joni Aridinata, dan Irwan naik ke dalam RB atau Regional Bahn bertuliskan “Regio 2”. Kereta dua lantai ini tanpa AC. Namun, kebersihan, kelapangan, dan semua interiornya mirip kereta cepat. Saya mengajak mereka berdua untuk duduk di atas. Dengan cara itu, panorama sepanjang jalan akan lebih leluasa dinikmati.

Seperti umumnya kereta yang lain, di dalam kereta regional ini pun disediakan area khusus untuk pesepeda di lantai bawah. Banyak penumpang yang masuk ke dalam kereta dengan sepeda kayuhnya. Di Jerman, meskipun konon tidak sesemarak di Belanda, para pesepeda cukup banyak. Mareka memiliki kenyamanan karena disediakan jalur khusus sepeda di sepanjang trotoar, serta tempat-tempat parkir khusus di dekat stasiun dan tempat umum lainnya. Sang pemandu, Iwan Nuryana Kurniawan

Tak lama setelah kereta bergerak meninggalkan kota, pemandangan rasa Eropa terbentang di depan mata: ladang gandum yang luas, kincir angin di kejauhan. Ada banyak rumah mungil dan selalu dilengkapi kebun di sisi bantalan rel. Setiap saya melihat sungai, permukaan airnya tampak selalu bersih. Airnya tidak kecoklatan dan tanpa sampah. Di kejauhan, ada jalan beraspal hitam. Di atasnya, jarang sekali kendaraan yang lewat. Barangkali, penduduk di sini menyukai angkutan massal, seperti kereta dan bis. Sudah pasti, alasannya tak lain adalah karena angkutan massal sangat rapi dan tertib.

Pemandangan itu tidak lantas membuat saya merasa perlu membanding-bandingkan wahana dan suasana transportasi di Jerman dengan di tanah air tercinta. Kalau pun saya ceritakan bahwa selama 9 hari saya tidak pernah menjumpai macet, hanya kurang lebih 5 kali mendengar orang membunyikan klakson, juga belum menjumpai adanya pintu perlintasan kereta api, ya, ini hanya sebagai bumbu cerita saja. Toh saya datang ke sini untuk menghadiri festival, bukan seperti anggota dewan yang hendak studi banding untuk menghasilkan kesimpulan: “Mass Rapid Transit di sono berjalan dengan baik karena dikelola oleh pemerintah. Sudah.”

Di samping itu, ada catatan lain untuk pemandangan dari atas kereta ini. Saya tahu, Jerman merupakan negara industri. Banyak industri mobil besar tumbuh di sini, sebut saja Mercedes Benz, VW, BMW, Audi. Konon, pesawat airbus juga banyak diproduksi di sini. Meskipun demikian, kekayaan dan perlindungan terhadap kehidupan flora tetap terjaga. Pohon-pohon tumbuh rimbun di mana-mana.

Jauh meninggalkan kota, kereta yang kami tumpangi merambah desa demi desa. Pohon-pohon tumbuh lebat di kanan kiri; batang-batang tumbuhan, atau hutan buatan hijau rimbun. Beberapa petani tampak sedang memanen hasil taninya. Ladang luas sepanjang kiloan meter hanya ditangani beberapa orang saja. Barangkali, teknologi benar-benar banyak menggantikan keterampilan yang dimiliki manusia. Terus terang, saya masih terus mencari celah, kira-kira, apa saja “keterbelakangan” masyarakat ini.

Di tengah perjalanan, Irwan bercerita tentang kondisi Jerman (Timur) sekitar dua dasawarsa yang silam, anggaplah sebelum runtuhnya Tembok Berlin.

“Sungai-sungai di sini, konon, awalnya juga kotor. Yah, mungkin seperti Sungai Ciliwung. Lalu, pemerintah mengupayakan perubahan yang terus-menerus dengan tetap menjungjung tinggi supremasi hukum. Dengan aturan yang ketat dan berpegang teguh kepadanya tanpa tawaran, negera ini menemukan identitasnya kembali setelah dikoyak krisis. Saya kira,Lutherstadt dengan upaya yang serius, Indonesia bisa melakukannya juga,” nadanya berapi-api seperti seorang motivator. Irwan terus bercerita tentang banyak hal, penuh semangat, tak terkecuali dalam hal ekonomi dan pendidikan.

Matahari masih bersinar terang ketika kami tiba di sebuah stasiun kecil, Lutherst Wittenberg, pukul 20.29, seperti yang tertera di tiket. Karena ada rentang waktu hampir 30 menit untuk berpindah pada kereta yang lain, kami turun dan duduk menikmati panorama sore di sebuah bangku kayu, mengamati bangunan stasiun tua yang terawat.

“Kalau di rumah, jam segini orang-orang sudah pada tidur.”
“Ya, musim dingin di sini, jam seperti sekarang pun sudah gelap.”

Tepat pukul 20.56, kereta datang. Kami naik. Tujuan selanjutnya adalah halten Bitterfeld. Maka, sesuai jadwal yang akurat, kami tiba di sana pada pukul 21.26. Sayangnya, kami tidak bisa berbuat apa-apa di stasiun itu kecuali begerak cepat sebab tenggang waktu yang ada hanya empat menit untuk stopover.

Langit barat memerah. Matahari hampir tenggelam. Leipzig tak jauh lagi.

Dari Bitterfeld, kereta bergerak membawa kami ke Leipzig. Tiga puluh menit kemudian, pukul 22.02, kami menjejakkan kaki di Hauptbahnhof kota itu. Dari kejauhan, Farid Mustofa memanggil. Rasanya seperti mimpi. Saya menjabat tangan dan memeluknya. Ya, karena seingat saya, terakhir saya bertemu dengan beliau pada suatu hari (jika tak salah tanggal 22) di bulan Agustus tahun 1996, 15 tahun lalu, di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, pada acara dies natalis. Setelah itu, kami tidak pernah saling bertemu secara langsung kecuali sesekali di dunia maya.

“Bagaimana perasaanmu?”
“Asyik. Tak percaya saya bisa berada di sini,” jawab saya sambil tersenyum.
“Iya, kamu kan dulu juga pernah bilang kalau pengen datang ke sini.”
“Betul, Mas.”
“Selamat, ya. Doamu terkabul.”

Malam itu, dari stasiun, kami putuskan untuk berjalan kaki ke flat-nya. Kami berjalan agak cepat, seperti umumnya orang di sini, melewati jalan lebar untuk pejalan kaki (pedestrian) dan jalur sepeda, menyeberang lampu lalu lintas, melewati kafe, gereja, sambil tak henti-henti mengamati bangunan-bangunan besar dengan arsitektur abad pertengahan. Farid Mustofa, “pemandu wisata” sekaligus tuan rumah kami malam ini, mengajak mampir ke sebuah gedung pertunjukan orkestra, tentu sambil menjelaskan komponis siapa saja yang pernah bermain di sana. Dia juga mengajak kami masuk ke dalam sebuah kastil yang lantai dasarnya berada di bawah tanah, Moritzbastei namanya.

Leipzig, Kota yang-“Ter”

Leipzig itu—sepintas saya lihat—mirip kota budaya, semacam Jogjakarta-nya Jerman, mungkin. Banyak hal penting, mencakup pembicaraan politik, hukum, musik, yang mengacu pada kota ini. Kotanya, dengan sekian banyak gereja, gedung tua, dan bangunan bersejarah lainnya, seolah-olah menyimpan daya tarik tersendiri bagi para palancong. Eksotismenya terselip pada sejarahnya, tidak hanya pada apa yang tampak di depan mata.

Stasiun utamanya bernama Leipzig Hauptbahnhof. Ini merupakan stasiun buntu. Cukup dengan berjalan kaki saja untuk langsung mengunjungi Kafe Goethe yang kononGoethe merupakan tempat penyair Johann Wolfgang von Goethe menulis masterpiece-nya, Faust. Di tempat itu, masyhur sebuah kalimat yang kira-kira begini tertera: “Barangsi
apa yang pernah ke Leipzi

g dan tidak tiba di tempat ini, maka ia tidak sungguh-sungguh sampai ke Leipzig”. Ya, saya nyaris yakin itu bukan ditulis oleh Goethe, melainkan oleh pemilik cafe.

Namun, yang membuat Leipzig ‘wajib dikunjungi’ terutama oleh musisi klasik jelaslah bukan lantaran kafe itu, melainkan karena di sana terdapat makam Johann Sebastian Bach, seorang komponis Jerman yang kesohor itu. Ya, makam Bach berada di altar Thomaskirche, sebuah gereja yang besar. Dalam sekilas pandang, sudah dapat _MG_9079disimpulkan bahwa gereja Lutheran ini merupakan bangunan terawat yang dibangun berabad silam. Aroma masa lalu terumbar pada bangku-bangku kayu dan ornamen yang menghiasinya. Pusaranya rata dengan lantai, tanpa kijing, dengan kursi berderet rapi di kedua sisinya. Karena memang komponis gereja, maka hanya Bach, satu-satunya komponis musik klasik Jerman, yang dimakamkan di dalam gereja.

Kota Leipzig punya banyak hal menakjubkan yang membuatnya menjadi kota yang punya banyak “yang ter-” alias “the most”. Sebut saja Leipzig Bayerischer Bahnhof. Ini adalah stasiun tertua di Jerman, mungkin pula di Eropa/dunia. Lokasinya hanya seperjalanan kaki dari stasiun besarnya, Leipzig Hauptbahnhof. Adapun stasiun yang disebut terakhir ini juga tak kalah “ter”-nya. Ia merupakan stasiun kereta api terbesar di dunia. Di bawah atapnya yang melengkung, terdapat 24 gleis (rel/jalur). Begitu banyak rute yang dilayani (kita bisa melihat melalui citra satelit, bagaimana jalinan rel stasiun besar tersebut berderet dan mengular).

Adakah “yang ter” lainnya?

Tersebutlah sebuah gedung bernama Gewandhausorchester. Ini adalah salah satu gedung orkestra tertua di dunia. Komponis-komponis besar nyaris punya catatan sejarah tersendiri dengan gedung ini. Beberapa jembatan yang tak jauh dari gedung pun diberi nama komponis, semisal Beethovenbrücke atau Jembatan Beethoven. Dari hal semacam ini, saya pun tahu akhirnya, mengapa suasana musik klasik begitu kental dengan kota ini.

Di samping itu, ada pula universitas tua, Universität Leipzig. Tahun lalu, universitas ini baru merayakan dies natalisnya yang ke-600. Memang, universitas ini bukan yang tertua di Jerman, namun ia termasuk yang paling awal didirikan, tepatnya hanya berselang 3 bulan setelah universitas tertua, Heidelberg. Cikal-bakal ilmu psikologi pun berkembang dari sini, dari tangan Wilhelm Wund yang laboratoriumnya—lab psikologi pertama di dunia—masih sangat terawat hingga kini. Beberapa alumninya yang ngetop antara lain adalah Goethe, Wagner, dan Nietzsche. Namun, yang paling utama adalah filsuf W. Leibniz. Untuk menghormatinya, pihak universitas menempatkan patungnya di gerbang kampus sebagai ikon universitas dan kota.

Seperti masyarakat kita mengenal dan menghormati petilasan, hal seperti ini pun juga ada di Leipzig. Tempat-tempat yang disinggahi, dikerasani, ditempati, oleh orang/tokoh penting, juga ‘dikeramatkan’ oleh masyarakat. Dekat stasiun buntu, menjadi bagian dari Kafe Goethe, teronggok sebuah patung hitam yang pudar warnanya pada bagian kaki. Saat saya bertanya apa dan mengapa? Pak Farid menjawab, itulah bekas gosokan telapak tangan para pelancong. Menurut cerita, patung itu merupakan representasi Faust. Percaya setengah percaya, banyak orang yakin bahwa dengan menggosok kaki patung ini akan menyebabkan seseorang bakal datang kembali ke Leipzig. Adapun patung penyair Goethe sendiri tegak kokoh di depan gedung The Old Stock Exchange, tak seberapa jauh dari situ.

Lalu, siapakah Goethe itu? Mengapa dia begitu sering disebut? Dia adalah penyair terbesar di Jerman, namun namanya dikenal secara masyhur ke seluruh dunia.

Satu lagi: yang perlu dicatat dari kota ini adalah Gereja Nikolai Lutheran. Dari gereja tersebut revolusi damai dimulai. Gereja bersejarah itu menjadi salah satu kata kunci bersatunya Jerman kembali, reunifikasi, dan juga menandai saat-saat runtuhnya Tembok Berlin. Di halamannya, disemat lempengan kuningan bertatah tulisan “9 Oktober 1989” dengan cap “jejak-jejak telapak sepatu” untuk menandai “Demonstrasi Senin” pada tanggal dimaksud. Martin Jankowski, seorang seniman setempat, menuliskan kisah-kisah itu dalam novelnya, “Rabet: Runtuhnya Jerman Timur”, secara dramatis.

Kembali ke Berlin

Sore esoknya, Selasa, 26 Juni 2011, kami pamit pulang. Kami berjalan kaki menuju stasiun. Namun, sebelum langkah kaki kami mencapai Leipzig Hauptbahnhof, Farid Mustofa memperkenalkan kami sebuah patung, Gottfried Leibniz, filsuf dari sono. Namun, karena rasa letih dan capek mulai terasa, enggan kami menambah jarak perjalanan dengan kaki. Sadar kalau sudah menyusuri trotoar begitu jauh, kami menyempatkan diri menikmati lalu-lalang manusia dari balik meja sebuah kafe tenda (backwerk/freisitz), sambil memesan kopi dan roti. Kami duduk sambil bertukar cerita pengalaman hidup masing-masing, ulang-alik, hilir-mudik, seperti pejalan kaki yang melintas di sekitar kami.

Nah, saat tinggal beberapa langkah kaki lagi untuk mencapai stasiun, tiba-tiba, seseorang mencegat saya. Kami berhenti.

“Mari, ikut kami menikmati wisata naik bis atap terbuka. Hanya 14 euro.”
Saya kaget. Ini tawaran yang sangat menggoda. “Dankeschön. Sayang, kami mau pulang ke Berlin.”
“Kamu dari Indoneisa?” Lelaki jangkung itu memperhatikan peci hitam nasional yang saya kenakan.
“Ya.”
“Ajib. Assalamualaikum.”

Oh! Rupanya, dalam beberapa detik tadi, lelaki itu membuat pra-anggapan, atau semacam premis: “jika berpeci hitam, pasti dari Indonesia; jika dari Indonesia, kemungkinan besar seorang muslim”. Makanya, tak segan dia mengucapakan salam dan kami pun menjawabnya. Saat itu, lelaki yang jambangnya dicukur bersih tersebut masih sibuk memperkenalkan diri kewarganegaraan aslinya, Maroko. Namun, meskipun dia berjanji akan memberikan potongan tarip sampai setengah harga yang tertera, saya sudah tidak berminat karena yakin jika tawaran itu kami turuti, pastilah kami akan tiba di Berlin malam sekali.

* * *

Sore itu, Leipzig Hauptbahnhof tampak lebih megah daripada yang saya lihat kemarin malam. Sinar matahari tertahan di atapnya yang melengkung, namun cahayanya menerangi semua sisi stasiun buntu tersebut. Inilah urat nadi transportasi Jerman yang berada di bagian timur. Dari stasiun ini, konon, kita bisa pergi ke pelosok mana pun di Eropa.

Sungguh, rasanya berat sekali meninggalkan Leipzig. Tapi apalah daya, tiket sudah terbeli. Kami pun harus berjabat tangan dengan Farid Mustofa untuk pulang kembali. Siang itu kami berpisah penuh rasa haru. Kami (Irwan, Joni, dan saya) pulang dari Leipzig Hbf (Hauptbahnhof) pada pukul 15.11 dengan kereta RB (Regional Bahn) 26114 di gleis 14. Berbeda dengan saat berangkat, kali ini kami hanya berpindah kereta sekali saja, yakni di Dessau Hbf, gleis 2, pada pukul 16.09. Kami melakukan transfer transit, berpindah ke gleis 6, ganti kereta menuju Berlin. Dari Dessau Hbf, pukul 16.19, kereta RE (Regional Express) 18726 membawa kami ke Berlin Hbf. Lantas kami turun di gleis 11 pada pukul 18.06. Perjalanan kami dari Leipzig menuju Berlin memakan waktu 2 jam 55 menit.

Foto-foto lainnya:
_MG_9118_MG_9044_MG_9061Joni Ariadinata dan M. Faizi di Leipzig Hauptbahnhof (Statsiun Buntu Terbesar di Dunia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s