Chord, Modulasi, dan Kecerdasan Musikal

oleh M. Faizi

“C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi
A minor, D minor, ke G, ke C lagi
A minor, D minor, ke G, ke C lagi…”

Ini adalah refrain lagu band Kuburan yang berjudul “Lupa-Lupa Ingat”. Sepintas, lagu ini seperti main-main. Namun, sejatinya, intro lagu tersebut menyiratkan sebuah fenomena musikal; sebuah pernyataan dan kenyataan. Apa itu? Bahwa lagu yang sederhana, yang umum, adalah lagu dengan chord-chord yang simpel, seperti tampak pada susunan di atas, misalnya. Chord lagu yang sederhana biasanya mengandung unsur Do, La, Mi, Sol, Do. Jika Do = C, maka susunannya tak akan jauh beda dari susunan sebagaimana pada lagu Kuburan di atas itu.

Betul memang ada komposer atau musisi yang bereksperimen dengan chord, seperti pada lagu “Hio” dari kelompok “Swami”. Lagu yang dibawakan oleh Sawung Jabo ini hanya menggunakan satu chord saja, dari awal sampai selesai, chord-nya cuma E minor. Tentu, adalah tugas berat mengaransemen lagu seperti itu agar tetap menarik dan tidak menoton. Sebab, varian-varian lagu yang semula dan biasanya dikembangkan berdasarkan chord, kini tiada sama sekali. Swami, mungkin juga yang lain, melawan mainstream dengan mencoba-coba pola pengembangan pada bebunyian nada-nada yang selaras dengan E minor.

Berkebalikan dengan itu, ada pula lagu yang sangat ruwet, yaitu menggunakan banyak chord. Hal ini tentu juga ada banyak pertimbangannya. Salah satunya, mungkin, adalah modulasi, yakni perpindahan nada dasar. Dengan modulasi, chord akan bertambah dan lagu akan makin semarak. Dengan modulasi sederhana sekalipun, seperti dengan mengganti chord asal dengan chord yang lain, seperti naik satu tangga saja, dari C ke D. Jika lagu dimulai dari nada dasar C, lalu A minor, D minor, ke G, terus ke C (seperti intro lagu “Kuburan” di atas), untuk mendapatkan modulasi tinggal menaikkan satu saja, C ke D. Dengan begitu, lagu akan berubah menjadi “D, B minor, E minor, ke A, ke D lagi. Untuk modulasi “sederhana” seperti ini, barangkali hanya cukup satu atau dua chord sebagai “jembatan”. Contoh, jika kita hendak berpindah dari C ke D, misalnya, kita cukup masuk ke A mayor setelah G mayor dan baru ke D.

Yang saya tahu, salah satu tokoh komposer penting dalam urusan modulasi ini adalah lagu karya-karya garapan David Foster, seorang arranger asal Kanada. David Foster banyak mengorbitkan bintang-bintang tenar dunia. Salah satu karya garapannya yang cocok dijadikan permainan modulasi ini adalah lagu “Hard to Say I am Sorry” yang populer lewat vokal Peter Cetera. Mengapa lagu ini yang saya ambil contoh? Ya, lagu ini saya kenal sejak kecil dulu, kira-kira tahun 1986-an, dan baru saya ketahui belakangan kalau ternyata lagu itu memiliki ragam permainan chord yang cukup menawan. Pada lagu itu, David Foster tidak sekadar berimprovisasi bermain modulasi, namun tetap menjunjung tinggi nilai harmonis sebuah lagu, poppish, enak didengar.

Berikut chord untuk lagu “Hard to Say I am Sorry”

C-Em (verybody needs…)
F-G-Am-G
C-Em
F-F-G-Am-G

Am-F (hold me now…)
Am-C
Am-F-Gsus4-G

C-F-G (after all…)
Em-Am
D-C-F-G-C
C-F-G-Em
Am-D7-Gsus-G

Modulasi “After all…”
Bb7-Eb-Ab-Bb
Gm-Cm
F-Eb-Bb

(Interlude)
Eb-Ab-Bb-Gm,
Cm-F7-Bbsus-Bb
Eb-Ab-Bb-Gm,
Cm-F7-Bbsus-Bb

You are going to be the lucky one…
C#m-F7-G-C

Jika selama ini kita hanya terbiasa mendengar lagu tersebut, sensasi permainan modulasi akan biasa saja. Namun, sebagai orang biasa, saya menjadi kagum setelah menyadari kecanggihan variasi chord yang dimainkan untuk mencapai modulasi pada lagu yang dipopulerkan oleh band Chicago di tahun 1982 itu. Saya lantas berkesimpulan, bahwa salah satu kecerdasan musikal seorang komposer itu akan tampak pada saat bagaimana dia memilih dan mencari varian chord untuk mencapai sebuah modulasi dalam sebuah lagu. Ini pendapat saya, entah bagaimana dengan Anda.

* Catatan: artikel ini diterbitkan pertama kali di MySpace, 26 Maret 2013. Namun, karena ada kebijakan baru dari MySpace yang menyebabkan artikel-artikel saya di sana tidak dapat diakses kembali, maka artikel ini saya terbitkan ulang.

Iklan

10 thoughts on “Chord, Modulasi, dan Kecerdasan Musikal

  1. menikmati bacaan ini…. dalam tulisan ini perpindahan nada dasar sepertinya gampang, namun ketika saya main-main dengan gitar, tetap saja sangat sulit. jemari saya tersa kaku dan berat. 😦 senadainya dalam blog ini ada uraian tentang tips mahir main gitar untuk pemula versi gitaris mahir seperti ajunan…. 🙂

  2. @Muktir: saya bukan musisi dan bukan pengajar di sebuah lembaga kursus musik, dan oleh karena itu tidak menyediakan keinginan seperti yang Anda sebutkan. Ini adalah tulisan tentang musik dalam sebuah sudut pandang, bukan musik secara teknik. Saya tidak begitu paham kalau urusan teknik seperti itu. Terima kasih sudah membaca.

  3. menarik untuk membacanya, namun tetap saya tidak paham hehe.. karena saya memang tidak paham perihal musik.

  4. Hola bro..numpang nimrug ni..td di bahas tentang jembatan bwat perpindahan nada dasar..klo bleh nanya nih apa emang ada aturan jarak intrval untuk jembatan tsb agar terasa lebih smooth/mungkin harmonis saat berpindah ke nada dasar lain..maaf klo ada yang salah..thxx.

    • @Lumino: mungkin memang ada teorinya. Sementara ini yang saya lakukan hanyalah mengamati perpindahan chord ketika akan masuk reffrain. Dari semua yang saya perhatikan, salah satu yang paling mencengangkan (mungkin karena pertama kali saya dengar) adalah lagu Hard to Say I’m Sorry ini.

  5. hebat mas. Permainan modulasi itu bertahan berapa Bar biasanya mas ???
    Apakah dengan modulasi bisa diulang ulang?? (depan & belakang ) ???
    jika sudah terkena 7>>, apakah modulasi x ditambahin 7>> jga ??

    • Saya tidak memperhatikan seberapa banyak modulasi diulang dalam setiap bar. Yang sempat saya ingat biasanya cuma `1 kali. Serius saya tidak memperhatikannya, Mas. Nah, sekarang, tugas Mas Alfian lah untuk memperhatikan dan mencatatnya, haha

  6. Mas kalo mau modulasi 2 nada akor bridge nya yang enak gimana ya mas? Contohnya dari nada dasar C ke E atau dari F ke A . Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s