Seminar Sastra di Bawah Langit

Tak terhitung kali saya menghadiri kegiatan sastra di Madura atau di tempat yang lain, baik sebagai peserta maupun sebagai pemateri. Demikian pula, beberapa kali saya telah hadir dalam kegiatan sastra di pondok pesantren (PP) Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan khususnya. Selain PP Banyuanyar yang letaknya juga tidak jauh dari situ, PP Bata-Bata merupakan salah satu pondok terbesar di Pamekasan, mungkin juga di Madura (secara jumlah santri). Beberapa kali saya diundang ngomong sastra di kedua pondok pesantren tersebut. Dan kalau tak salah, ini kali keempat saya diundang untuk bicara sastra di Bata-Bata.

Acara sastra kali ini (Kamis malam Jumat, 13 Maret 2014), tergolong unik. Oleh karenanya saya tuliskan dalam sebentuk laporan kegiatan. Bukan lantaran tema acaranya yang unik, melainkan karena kemasannya yang tidak biasa, yakni berupa seminar dan dilaksanakan di tengah halaman, di bawah langit, di malam hari.

Bertempat di halaman madrasah, malam itu saya didapuk menjadi pemateri dalam sebuah seminar sastra bertajuk “Sastra dan Pesantren: Membaca Historisitas Perilaku Sastra Pesantren dan Tantangan di Masa Mendatang”. Menimbang judul banner yang begitu panjang, maka beruntunglah saya yang sudah membuat makalah dan juga tak kalah panjang: “Sastra, Pesantren, dan Sastra Pesantren: Sebuah Tinjauan” dengan tebal 6 halaman dan berjumlah 3.433 kata.

Di duduk di panggung dengan moderator Abdul Waris Husni, acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Dalam hati saya berpikir, di acara ini, saya merasa lebih pantas seperti seorang penceramah, menjadi muballigh, dan bukan ngomong sastra. Situasi dan setting panggung lebih pas saya andaikan jika saya berdiri sendirian, ngomong secara monolog, satu arah, tanpa tanya-jawab ini dan itu, dengan durasi waktu kurang lebih 2 jam saja lah. Kalau ingat ini, saya senyum-senyum sendiri.

Sejauh mata memandang, semua peserta adalah perempuan. Di depan panggung, kanan dan kirinya, semuanya, adalah santri putri PP Bata-Bata. Menurut Ahmad Khusairi, salah seorang pengurus pesantren yang mengantar saya ke lokasi acara, semua santri putri hadir di acara itu. Ini artinya, jumlah ‘hadirat’ (hadirin perempuan) mencapai 3000-an orang. Astaga, saya bilang. Memang, jumlah tersebut mungkin masih kalah banyak dengan peserta/penggembira di malam pentas seni yang saya hadiri beberapa bulan sebelumnya di pondok yang sama, dan seluruh pesertanya adalah laki-laki. Namun, untuk ukuran kegiatan sastra, ini adalah acara dengan jumlah peserta paling banyak yang pernah saya hadiri.

Setelah acara seremoni selesai, mulailah saya cuap-cuap dengan mengacu kepada makalah yang telah saya tulis dan telah disebarkan oleh panitia kepada peserta seminar. Memang, tidak semua ‘hadirat’ yang memegang makalah. Saya maklumi ini, sebab tentu akan memberatkan panitia andai harus menggandakan makalah sejumlah 6 halaman itu untuk 3 ribu orang, semuanya. Di samping menjelaskan wacana “sastra pesantren” dari berbagai orientasi, saya juga mengajak hadirin untuk merenung dan berpikir, bahwa nyaris semua ilmu (keagamaan) di pondok pesantren itu diturunkan melalui ‘nadzam’, gampangnya lewat puisi. Jadi, sangat wajar kalau sastra dan pesantren itu dekat sekali hubungannya. Dan oleh karena itulah mengapa kehidupan santri itu begitu dekat dengan puisi, membuat kehidupan mereka jadi puitis.

Akhirnya, setelah berlangsung hampir dua jam penuh, acara berakhir menjelang pukul 23.00. Setelah turun dari panggung, saya dijamu “makan tengah malam” dengan hidangan prasmanan. Kabarnya, hidangan ini dipersiapkan oleh siswi-siswi SMK pesantren yang menekuni tataboga.

Itulah laporan kegiatan seminar sastra yang dilaksanakan di tengah halaman, di bawah langit, di malam hari.

GambarGambar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s