Menanam Pohon di Lereng Gunung

Tanggal 28 Pebruari 2014, bersama beberapa orang guru pendamping, saya mengantar Pemulung Sampah Gaul (PSG), siswi-siswi SMA 3 Annuqayah, ke Klakah, Lumajang. PSG merupakan satuan yang secara organisatoris berada di bawah naungan OSIS SMA 3 Annuqayah dan bervisi-misi penyelamatan lingkungan. Tujuan kami adalah silaturrahmi ke Laskar Hijau, sebuah kelompok pemuda di Klakah yang mempunyai visi cinta alam dan misi penyelamatan Gunung Lemongan, gunung berapi yang dulu aktif erupsi dan kini krisis, gundul di sana-sini.

P1000486P1000492

Kami menyewa sebuah bis. Enampuluh orang lebih yang ikut, sehingga kursi ekstra pun digunakan. Satu-satunya anak kecil di dalam kendaraan itu adalah anak perempuan saya yang seusia anak TK. Atas izin yang lain, saya mengajaknya untuk menanamkan pelajaran cinta alam sejak dini kepadanya.

Malam itu, kira-kira pukul 9 malam kami berangkat dan hari baru saja fajar ketika kami masuk daerah administratif Lumajang. Sesuai dengan dengan komunikasi yang sebelumnya telah dijalin oleh Ibu Musi’edah dan Bapak Humaidi, kami langsung menuju rumah Iklilah Ramli, salah satu alumni sekolah SMA 3 Annuqayah dari Kota Lumajang. Di sana, kami bershalat subuh, istirahat, mandi, dan sarapan. Semua jaminan dan layanan ini dipersiapkan oleh ayah-ibu Iik (panggilan Iklilah) secara cuma-cuma.

Lebih dari itu, Pak Ramli mempersiapkan sebuah Hiace bak terbuka yang nanti akan dipergunakan untuk mengangkut penumpang ke pos terakahir di kaki Gunung Lemongan, sebab bis hanya bisa mencapai Ranu Klakah. Bukan hanya mobil dan sarapan pagi, Keluarga Iklilah pun bahkan membekali kami puluhan nasi bungkus agar tidak perlu lagi membeli makan siang. Lagi pula, mana ada warung nasi di atas gunung? Setelah mandi dan sarapan, kami pun berpamitan dalam keadaan hati serba-pakébu (pekewuh) karena sudah mendapatkan pelayanan sangat baik dan gratis. Pukul 8 lewat sedikit, kami pun bertolak dari rumah Keluarga Ramli dengan satu bis dan 1 mobil bak terbuka.

P1000498

Setelah tiba dan kendaraan kami diparkir di areal Ranu Klakah, kami pun bergerak, bersiap berangkat ke gunung. Akan tetapi, karena ternyata jarak dari Klakah ke Peseban Agung Sonyoruri sebagai pos tujuan pertama, yakni kediaman Mbah Tjitro yang terletak di Desa Papringan, jaraknya adalah 5-6 kilometer ke arah timur dari Klakah, tentu kasihan kalau mobil pick-up sumbangan Haji Ramli ini harus menempuh trayek ulang-alik hingga beberapa kali, sementara medannya, konon, cukup berat. Maka, diputuskan: kami akan sewa sebuah truk saja untuk mengangkut semua penumpang dalam sekali jalan. Beberapa saat setelah menunggu, kami pun bertolak, berangkat bersama-sama, kira-kira pukul 09.45.

Saya bersama rombongan Hiace pick up tiba duluan. Beberapa orang dengan sepeda motor menyusul. Ada juga yang membawa mobil, yang kebetulan merupakan wali murid dari salah seorang siswi kami. Truk datang terakhir kali. Bagi saya, ini adalah kali kedua mencapai tempat ini. Dulu, saat masih usia belasan tahun, saya pernah datang ke sini, juga bersama Aak, menemui Mbah Tjitro, seorang lelaki tua “penjaga” gunung yang usianya sudah lebih 1 abad. Hari itu, Mbah Tjitro juga ada di paseban agung.
P1000544

P1000555

P1000559
Setelah semua anggota berkumpul di paseban, acara dimulai. Dalam sesi bagi pengalaman, Aak Abdullah Al-Kudus selaku kordinator Laskar Hijau, mengawalinya dengan bercerita seputar ini-itu Gunung Lemongan. Tuturnya: pada kisaran tahun 1779 hingga 1899, gunung ini tercatat sebagai gunung paling aktif di Indonesia. Hampir setiap tahun terjadi letusan. Gunung ini unik karena letusannya ada di bawah, bukan di puncak. Karena itu, letusan terkadang membentuk gundukan, terkadang berupa cekungan (maar) yang sebagiannya berisi air dan disebut ‘ranu’ atau semacam danau kecil. Ada 60 bekas erupsi (letusan); 24 berupa cekungan dan 13 yang terisi air. Menurutnya, satu dari 13 ranu itu sudah cukup untuk menghidupi ratusan hektar pertanian. Ranu memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menangkap ikan secara langsung atau dengan keramba, juga manfaat pariwisata dan terutama pengairan.

Sebelum 1998, keadaan pohon di kaki gunung sangat lebat. Keadaan alam masih gelap karena banyaknya pohon besar. Namun, setelah itu, masyarakat mulai menebanginya, membabatnya, hingga tahun 2002-an. Kenyataan ini disebabkan adanya “salah paham” (yang menurut Aak memang disengaja “disalahpahami”) pada pernyataan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid, bahwa “hutan itu untuk rakyat!”. Menurutnya, pernyataan Presiden Gus Dur ini adalah bentuk perlawanan kepada rezim Orba yang selama mereka berkuasa hutan rakyat dan nyaris dikuasai oleh keluarga Cendana serta kroni-kroninya. Nah, oleh lawan-lawan politik Gus Dur, pernyataan tersebut dipelintir, diubah arah dan tujuannya. Masyarakat pun menebang secara serampangan dan orang-orang yang berkepentingan itu jualah yang jadi penadahnya, yang membelinya. Hanya dalam kurun waktu 4 tahun, Gunung Lemongan pun menjadi gundul.

Apa dampaknya? Dari sekitar 34-36 mataair di sekitar ranu, sekarang tinggal 6 mataair saja yang tersisa, itupun dengan debit air yang menurun tajam. Melihat situasi ini, ia merasa terpanggil. Maka, sejak tahun 2005, Aak mulai menanam pohon di sekitar ranu bersama anak-anak setiap selesai belajar mengaji Alquran. Begitulah kisah awal mula panggilan hatinya untuk alam itu dimulai.

Pada akhir tahun 2008, bersama sekitar 300 orang yang menyatakan diri sebagai relawan, dia membentuk Laskar Hijau. Kelompok ini merupakan gerakan penghijauan nirlaba dan tanpa didanai oleh instansi atau institusi mana pun. “Ini kelompok mandiri,” paparnya, “yang bergerak karena panggilan hati nurani.” Perjanjian ini ia buat di peseban agung Mbah Tjitro. Akan tetapi, pada minggu-minggu berikutnya, anggota terus berkurang dan bahkan ia pernah mengalami masa menyedihkan, hanya tinggal sendirian saja. “Terkadang, saya hanya seorang diri naik ke kaki gunung untuk menanam sekitar 30-an bibit pohon dalam sehari,” desahnya.

Setelah itu, ia menggagas untuk melaksanakan “Maulid Hijau”, peringatan maulid Nabi dan sekaligus kegiatan penghijauan. Kegiatan ini sempat dilarang pada tahun 2007 oleh MUI dan difatwa sesat. “Entah alasan apa fatwa sesat ini,” kisahnya secara retoris. Namun, di tahun berikutnya (2008), menurut pengakuannya, animo masyarakat semakin baik. Simpati masyarakat semakin tinggi. Lama-lama, datang lagi satu dua orang. Kebanyakan, anggota relawan Laskar Hijau merupakan pengangguran yang memiliki kesepakatan bersama untuk menyelamatkan hutan di sekitar Gunung Lemongan, Kec. Klakah, Kab. Lumajang.

Nah, hari itu, selepas tengah hari, bersama Pemulung Sampah Gaul dan relawan Laskar Hijau serta komponen masyarakat lainnya, kami mendaki, menjelalah lereng gunung. Kami bergerak bersama dari Paseban Mbah Tjitro menuju posko Laskar Hijau yang berjarak sekitar 1000 meter dalam keadaan menanjak. Kami membawa bibit dan bebijian yang akan ditanam.

Sepanjang perjalanan, tampak sisa-sisa pangkal pohon yang habis ditebang, sebagian tampak pula dibakar. Sebagaimana tersiar kabar sebelumnya, terjadi penebangan liar oleh instansi yang notabene memiliki kepedulian terhadap alam dan hutan (sumber berita: lumajangsatu). Setelah tiba di titik yang telah ditentukan oleh relawan Laskar Hijau, mulailah penanaman bibit-bibit pohon pun dimulai.

Kami menyebar pada beberapa penjuru. Adapun pohon yang ditanam adalah jenis pohon yang berbuah. Harapannya, kelak, Gunung Lemongan akan hijau kembali dan penuh dengan pohon-pohon yang berbuah; durian, rambutan, alpukat, dll. Orang-orang, binatang, bahkan siapa pun, boleh mengambil manfaat darinya, asal tidak menebangnya. Aak lalu memetik buah alpukat hingga sekarung banyaknya. Ia kemudian menyerahkannya kepada saya sebagai oleh-oleh. Keren juga, ya? Oleh-oleh sekarung alpukat. Lereng Gunung Lemongan tak ubahnya kebun buah raksasa yang pohon-pohon berbuahnya sangat melimpah.

Matahari kian condong ke barat. Pelajaran luar-ruang-kelas ini pun berakhir. Anak-anak turun ke posko, lalu bersama turun ke paseban. Setelah semua berkumpul, kami pun pulang bersama, menuju titik pertama tadi kami bertolak, yakni Ranu Klakah. Kami numpang shalat duhur-ashar di mushalla dan rumah-rumah penduduk yang terdapat banyak di sekitar ranu. Aak bahkan sempat mengajak saya, juga anak saya dan anaknya, mengelilingi Ranu Klakah dengan perahu motor sebagai hiburan sebelum pulang.
* * *

Pendidikan secara langsung untuk “mengenal alam demi mencintai dan merawatnya” ini diharapkan tertanam ke dalam sanubari. Semua berharap agar kami, bahkan kita semua, dapat memperbaiki cara pandang tentang bagaimana kita memposisikan diri sebagai manusia berhadapan dengan alam: ia yang diciptakan untuk dirawat, menjadi penyeimbang kehidupan. Maka dari itu, terkait ini, sebaiknya kita ingat pesan Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من مسلم يغرس غرسا أو يزرع زرعا فيأكل منه طير أو إنسان أو بهيمة إلا كان له به صدقة – رواه البخاري

Anas bin Malik ra berkata; Rasulullah, saw bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang menanam sebuah tanaman atau menyemai benih tumbuhan lalu burung, manusia, dan binatang pun makan darinya kecuali ia akan mendapatkan shadaqah dari amal perbuatannya itu (hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari).

Demikian pula dengan hadits yang lain:

عن انس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ان قامت الساعة وفى يد احدكم فسيلة فان استطاع ان لا يقوم حتى يغرسها فليغرسها – رواه الامام احمد وغيره

Anas ra berkata; Rasulullah saw bersabda: Apabila Kiamat sudah menjelang dan di tangan seorang saja dari kalian ada bibit pohon (palem; pohon kurma), maka jika ia sanggup untuk tidak beranjak hingga menanamnya, hendaklah ia menanamnya! (hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lain-lain).

Wawasan cinta alam, peduli lingkungan, penghijauan, sejatinya sudah sejak dulu kala diwasiatkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Bahkan, pesan-pesan serupa pun telah disuratkan oleh Allah swt di dalam Alquran. Jadi, gerakan semacam ini bukanlah gerakan main-main. Lalu, kita masih mau menunggu apa lagi untuk bertindak? Belumkah hati kita tergerak?

P1000563

P1000566

P1000572

P1000581

P1000578

P1000591

Iklan

2 thoughts on “Menanam Pohon di Lereng Gunung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s