Mogok adalah ‘Mobiliawi’

Sabtu, 8 Pebruari 2013

Pernah mengalami mogok? Jika Anda tidak pernah mengalaminya, maka segeralah berempati atau merasakan bagaimana rasanya mogok mendadak menimpa Anda. Langkah ini tentu diharapkan sebagai simulasi, agar Anda tidak panik jika suatu saat mengalaminya.

Kalau tidak pernah mengalami mogok, mungkin Anda pernah mengalami macet dan kemacetan? Nah, mogok dan macet bisa dipastikan pernah dialami oleh kita yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia, terutama di Jawa. Mogok, misalnya, terkadang kita alami dengan kendaraan umum, namun juga mungkin saat berkendara sendirian. Tapi, pernahkah Anda menikmati dan menyaksikan bagaimana kendaraan-kendaraan yang mogok? Menyaksikan kemacetan secara langsung? Inilah yang akan saya ceritakan.

Berangkat dari alun-alun Mall Kudus, dijemput teman-teman BMC Jogja, saya akhirnya ikut mereka naik Travello pada pukul 14.40 menuju Jogjakarta. Rencana semula, naik bis via Semarang, gagal sudah. Bersama mereka terasa untung jika tahu apa yang terjadi belakangan di seputar Ungaran-Bawen.

Bersama Dono di belakang kemudi dan Aryo di sisi kiri depan, saya numpang Travello yang dibawa oleh teman-teman BMC Jogjakarta, pulang dari kopdar di garasi PO Haryanto di Ngembal, Kudus. Bowo dan Febri di samping saya. Joni dan sang kakak di belakang, bersama Plentonk, Hanif dan Iyang.

Sore itu saya menikmati pemandangan ala tol Cipularang, tol dengan jembatan berpenyangga tinggi menuju Ungaran. Sementara jalan ramai namun normal. Ini malam Minggu memang. Kemacetan mulai terasa di suatu titik, Dono sang pengemudi, ambil jalan ke kanan, keluar di Ungaran.

Saya menikmati pemandangan sore hari di jalan bebas hambatan yang baru saja selesai dibuat itu. Lembah dan ngarai yang dalam pun menjadi seolah rata dengan penyangga jembatan yang tentu sangat tinggi. Seberapa kokoh tiang-tiang itu bertahan? Konon, jembatan sempat ditutup beberapa saat karena tiang penyangga tidak kuat menahan beban kendaraan yang lewat.

P1000851

P1000862

Macet Bawen 1

Saat masuk Ungaran untuk menuju Bawen, tampak beberapa orang pulang kerja. Di situ terdapat beberapa pabrik minuman yang besar, Coca-Cola dan Pepsi antara lain. Jalan mendadak ramai dan arus pun mulai tersendat.

Puncaknya adalah beberapa kilometer menjelang Bawen. Macet tak terelakkan. Mobil-mobil akhirnya tidak bergerak sama sekali. Dua lajur jalan menanjak mendadak statis, tak bergerak. Sementara arus sebaliknya berjalan lamban. Sesekali mobil bergerak, namun tetap tersendat.

Sayangnya, entah karena kebiasaan atau karena tergesa-gesa, beberapa kendaraan nekat buka jalur 3, yaitu melawan arus dengan menyalip karnaval kendaraan yang sedang berada dalam posisi menanjak. Dua bis, Safari dan Rajwali, diantaranya, diikuti beberapa truk dan mobil MPV yang juga tergoda membuntuti. Akibatnya, dua atau tiga menit setelah itu, macet total tak bisa dihalau.

Terdengar bunyi sirene. Awalnya saya kira mobil patroli polisi. Eh, ternyata sebuah ambulan. Kasihan, mobil yang mungkin sedang membawa pasien yang sakit keras itupun tidak bisa memanfaatkan ‘fasilitas lawan arus’-nya. Ia juga terjebak dalam kemacetan. Saya tidak bisa membayangkan betapa kesal perasaan keluarga pasien yang sedang bersama si sakit di dalam mobil ambulan itu.

“Buka jalur 3 sih masih oke, tapi buka jalur 4 itu kebangetan,” Plentonk berkomentar dari jok paling belakang.
“Hai, itu ada mobil mogok!”
“Yuk, kita bantu.”

Saya dan beberapa teman turun dari mobil, menghampiri  sebuah mobil Zebra tua yang tanpa seorang pun ada di dalam. Mobil dalam keadaan di-handrem dalam kondisi menanjak. Tapi, di mana pak sopir?

Seorang ibu dan anak gadisnya yang belia tampak kebingungan. Kami akhirnya tahu bahwa mereka berdua adalah penumpang mobil ini dan sang bapak sebagai pengemudinya.

“Bapak sedang turun, Mas, cari orang untuk bantu mendorong.”
“Paaak !!” Si ibu memanggil lelaki 45-an yang ada di seberang jalan.

Bapak naik ke mobil dan kami mendorong mobil itu. Di luar dugaan, ternyata sopir tidak bermaksud untuk menyalakan mobil, melainkan putar 180 derajat. Hampir saja Zebra itu jatuh ke selokan yang dalamnya saya taksir lebih dari 1 meter. Gila. Kami semua terkejut. Klakson-klakson pada cerewet.  Hiruk pikuk menjadi-jadi. Terdengar ucapan terima kasih si Ibu pada saat kami sudah meninggalkan mereka, kembali ke mobil kami.

P1000853

Mobil berjalan lagi, tersendat. Gerimis membayang. Langit mendung dan matahari mulai terbenam. Tiba-tiba, dengan membawa kamera saya, Plentonk meloncat lewat kaca belakang mobil, pergi entah ke mana. Dia berjalan telanjang kaki.

“Ke mana dia?”
“Saya tidak tahu dia hendak ke mana dan apa maunya.”
“Kenthir!”

Jalan terkuak, arus lancar sesaat. Didapati sebuah Avanza mogok dengan posisi serong kiri, persis di tengah jalan. Pengemudinya, sendirian, adalah seorang gadis muda. Ia tampak mengatur lalu lintas dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memegang ponsel, mungkin menelepon teman, atau bengkel, atau sejenis bala bantuan lain.

Kalau awalnya tadi saya lihat mobil lawas yang mogok, kali ini justru mobil-mobil baru yang mogok. Ada apa dengan jalan dan tanjakan ini?

P1000863

Tiba-tiba, terdengar suara Bowo.

“Bau angus.”
“Mana?”
“Mobil ini.”
“Ah, masa?”

Kami segera cari tempat untuk parkir. Saya turun duluan, lalu seseorang menyusul. Yang lain tetap di mobil. Saya mengambil jarak dan segera melihat kemacetan dari jarak dekat, di tepi jalan. Akhirnya, saya temukan dan melihat Bung Plentonk. Ia sedang menjepret-jepret situasi lalu lintas.

Mobil diparkir di depan sebuah pabrik, atau gudang apa lah, entah. Beberapa mobil lain juga parkir di sana. Rupanya, di tanjakan panjang  itu, saya perhatikan banyak sekali mobil yang mogok. Ada Kijang Super, Feroza, Panther, Xenia, sedan Toyota Corolla, bahkan Innova yang berdasarkan plat nomornya baru sebulan dipakai. Mereka semua mengaku ‘mogok’. Beberapa orang di antaranya menyatakan kalau mobil mereka ‘kebakaran’ entah pada bagian apanya sebab bau hangus yang mereka endus.

Usut punya usut, sumber masalah mobil-mobil yang mogok itu ternyata kampas kopling yang kepanasan lalu terbakar. Dari tepi jalan saya berdiri, jelas sekali tampak banyak asap membumbung, keluar dari bawah mobil. Bau hangus dan sangit sangat menyengak. Beberapa orang yang kelihatannya tidak mengerti mesin sama sekali dan hanya bisa menjalankannya tampak panik. Bahkan, sempat ada dua orang yang tergopoh-gopoh menghampiri kami. Mereka melaporkan adanya kebakaran mobil. Dengan tenang, teman-teman menjelaskan duduk masalah asap itu; bahwa kampas kopling terbakar karena tidak mampu menahan putaran mesin yang tinggi dan terus-menerus. Hal ini disebabkan karena handrem jarang digunakan. Wajar saja, mungkin mereka capek mengingat macet itu  lebih 2 jam lamanya, apalagi di jalan yang menanjak. Mobil-mobil dengan transmisi otomatis mungkin aman dari masalah ini, hari ini.

Saat itu, kami menyaksikan kecemasan. Air muka takut dan khawatir tampak dari wajah orang-orang. Saya rasakan, betapa manusia itu sesungguhnya benar-benar tidak bisa hidup sendirian. Namun, pada saat itu pula saya menyaksikan dua hal yang penting dan duduk sejajar: keruwetan jalan raya sekaligus kehebatan bangsa ini dalam hal sifat gotong-royongnya.

Saya kagum pada teman-teman yang dengan suka cita membantu menguraikan kemacetan, mengatur lalu lintas. Polisi mungkin sedang menguraikan kemacetan di tempat lain sehingga tidak saya lihat di tempat itu. Maklum, tanjakan ini sangat panjang sehingga mungkin di saat arus menurun sedang lancar, ganti tanjakan yang macet. Teman-teman melakukan ini mungkin atas suara hati, bukan karena sanjung dan puja-puji.

Ya, kami semua tahu. Mogok itu ‘mobiliawi’, seperti deman dan flu bagi manusia. Jadi, kita mesti mengajak hati agar bersimpati ketika melihat orang lain mogok (bersedih), siapa tahu kita kelak akan mengalaminya di saat tidak ada seorang pun yang peduli.

Karena tidak tahan melawan kantuk, saya tidur di dalam mobil. Bahkan, saya tidak tahu kapan kami bergerak meninggalkan lokasi. Tahu-tahu, kami mencapai sebuah warung makan di Ambarawa pada pukul 21.00. Selesai makan di “Warung Pojok”, saya cuci muka dan shalat di masjid seberang jalan.

Kami berangkat lagi 30 menit kemudian. Jalan pun mulai sepi, pun demikian situasi di Secang, Kota Magelang, Muntilan. Pengemudi melajukan Travello pelan-pelan saja. Akhirnya, saya turun di Jalan Timoho pada pukul 23.40. Maksud hati, saya hendak menjumpainya teman yang menghabiskan malam Minggunya dengan main futsal. Ya, saya akan numpang tidur di rumahnya untuk mempersiapkan tenaga agar besok siap menempuh perjalanan pulang ke Madura.

Iklan

4 thoughts on “Mogok adalah ‘Mobiliawi’

    • Enggak, Mas Ed Win. Ke Madura naik MIla Sejahtera sampai Mojokerto. Dari Mojokerto naik Sugeng Rahayu sampai Surabaya, dari Surabaya naik Akas sampai Madura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s