Memberi Secara Elegan

Ada orang yang berbuat baik yang hanya karena salah caranya, kebaikannya tampak menyakitkan si penerima. Baiklah, bagi si penerima, itu mungkin jadi tak masalah karena ia benar-benar membutuhkannya. Akan tetapi, caranya itu, bagaiman pun, akan tampak tidak sedap di mata orang lain.

Begini misalnya: Ada orang mau berderma Rp 50.000 untuk 100 orang. Namun, si dermawan ini mengharuskan calon penerima menyerahkan beberapaa syarat; foto kopi KTP, keterangan tidak mampu yang ditandatangani kepala desa, pas foto, dll. Niat mulia si pemberi ini akan ternodai oleh keruwetan prosedurnya. Sebetulnya, hal itu bisa dilakukan dengan lebih sederhana, misalnya ia mencari orang yang dipercaya untuk membagi-bagian uang itu kepada mereka yang berhak, secara langsung, mudah, sesuai cara orang yang dipercaya itu.

Di Italia, konon, ada sebuah kebiasaan unik menyangkut kopi dan kafe. Karena minum kopi di Italia itu sudah menjadi tradisi, maka minum kopi ini sangat populer dan nyaris menjadi kebutuhan primer. Tersebutlah "kopi yang digantung" atau "cafe suspeso". Jadi, jika ada seorang kaya/berduit membeli kopi di kedai, dia bisa pesan begini: "Duo cafe, uno suspeso". Artinya, "Saya pesan dua, satu buat saya dan satunya lagi digantung". Maka, dia akan meminum hanya secangkir kopi namun membayar untuk dua cangkir. Lalu, untuk siapa yang satunya? Untuk siapa pun yang ingin minum kopi namun tak punya uang.

Apabila ada ‘pengemis kopi’, yakni mereka yang butuh minum kopi namun tak punya uang, ia bisa masuk ke kafe sambil melihat-lihat manatahu ada nota kopi yang digantung di tempat khusus. Jika nota itu ada, ia akan mengambilnya dan menyerahkannya ke kasir dan serta merta secangkir kopi pun akan diserahkan kepadanya.

Kiranya, cara berbagi seperti ini elegan untuk dua pihak: bagi si pemberi, berderma secara rahasia dan tanpa diketahui identitasnya sebagaimana anjuran nabi; bagi si penerima, menerima bantuan tanpa harus malu karena mendahkan tangan.

(bahan bacaan: ‘Kopi yang Tergantung’ oleh Astri Katrini Alafta di majalah Mata Air, vol.I, no.1 (Jan-Peb-Maret 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s