Perubahan Orientasi Fotografi

National Geographic September 2013Robert Draper, kontributor tulis pada majalah National Geographic, di dalam esai bertajuk “Energi Fotografi” edisi September 2013, memulai tulisannya dengan komentar Kierkegaard untuk masa depan fotografi : Tiga puluh empat tahun sebelum kelahiran majalah ini (National Geographic; dan tahun 2013 ini adalah ulang tahunnya yang ke 125) seorang filsuf Denmark bernama Søren Kierkegaard dengan sinis meramalkan masa depan suram seni fotografi, yang ketika itu baru saja populer. “Gara-gara ‘daguerreotype’,” ungkapnya, “semua orang akan dapat mengambil potret mereka sendiri—padahal dahulu hanya orang penting yang dapat melakukannya—dan pada waktu yang sama, berbagai hal akan diusahakan agar kita semua tampak serupa, sehingga yang kita perlukan sebenarnya hanya satu potret”.

Draper menyatakan bahwa ia tidak sedang menguji tesis Kierkegaard itu. Namun, pada bagian lain, secara tersirat, ia membuktikan bahwa fotografi telah menjadi fenomena yang mendunia seperti yang kita lihat sekarang.  Dengan paparan seputar tugas ‘mulia namun tidak glamor’, seperti tindakan seorang fotografer yang berada di garis depan peperangan, terjun ke daerah sulit, eksplorasi medan berat, sepertinya Draper ingin membantah statemen Søren Kierkegaard di atas dan sinisme Einstein sekaligus, yang pernah menyamakan fotografer dengan ‘lichtaffen’, yang berarti “monyet yang tertarik pada sinar”.

Bagaimana pun, saat ini fotografi telah menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Fotografi tidak hanya identik dengan kegiatan resmi dan mewah, tapi juga bahkan telah merambah ke semua sisi, termasuk ke angkringan dan terminal-terminal.

Kita lihat, hampir semua orang memilik gadget, baik itu ponsel atau tablet, yang dilengkapi dengan kamera, seberapa rendah pun kualitasnya. Dengannya, sesungguhnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk merekam momen-momen di dalam kehidupan mereka dalam bentuk gambar/foto. Kelak, pada suatu saat nanti, foto-foto tersebut akan dilihat kembali, baik oleh kita sendiri atau orang lain. Pengetahuan akan fotografi, seberapa pun dangkalnya, hendaknya membuat kita sadar bahwa fotografi mestinya tidak lagi menjadi kegiatan suka-suka semata, melainkan harus diupayakan menjadi aktivitas yang sekurang-kurangnya dapat memotong waktu untuk mengambil gambar dalam sebuah momen, sambil merencanakan siapakah yang akan melihat foto itu, kelak. Maka, agar tidak kehilangan esensi, kata-kata George Steinmetz ini perlu kita selami: “Tugas saya adalah membuka mata orang-orang agar melihat hal-hal menakjubkan yang tidak mereka ketahui pernah ada.”

Iklan

2 thoughts on “Perubahan Orientasi Fotografi

  1. Perkecualiannya, adalah ponsel saya. Sebagai Nokia 103, sekali pun sudah ada radio FM-nya, ia hanyalah sekadar dilengkapi kebutuhan asazi sebuah ponsel, asal bisa buat telepon dan SMS. Sama sekali ak ada kameranya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s