Ironi Daging Kurban

Saya punya sapi kurban lebaran ini. Dan ini adalah tahun keempat saya berkurban untuk orang-orang. Ya, saya dapat sapi itu dari seseorang dan bukan kurban buat dirinya. Maksud saya, ada seseorang memberikan sapi pada saya dan mempersilakan saya mendaftar sendiri sejumlah tujuh orang yang akan berkurban.

Kemudian, saya pun minta saran pada Ibu untuk mendata nama-nama yang akan saya niatkan berkurban itu. Alhamdulillah, semua orang yang dihubungi ternyata memang tak satu pun yang sudah berkurban. Artinya, mereka ini benar-benar senang karena ‘telah berkurban’ namun tidak perlu membeli sapi/kambing.

Nah, ini cerita ironisnya:

Kemarin saya dapat cerita dari–sebut saja namanya–Pak Rauf, seorang imam masjid di desa tetangga, bahwa ia baru saja mengalami kisah unik tetangganya yang berkurban seekor kambing. Si tetangga ini membawa seekor kambing ke rumahnya untuk dikurbankan. Kambing kurus itu pun disembelih, ditunggui sampai pembagian selesai, dan dibagi menjadi 30 bagian. Hanya 5 bagian saja jatah untuk keluarga Pak Rauf, termasuk untuk anak dan menantunya. Sedangkan yang 25 bagian dibawa kembali oleh si pengurban, entah buat siapa. "Seolah-olah, si pengurban itu hanya numpang nyembelih di sini," kata istri Pak Rauf.

Demikianlah cerita tentang daging kurban. Pak Rauf menyampaikan kisahnya pada saya dengan perasaan sedih karena ia merasa si pengurban tidak percaya penuh kepadanya sehingga pembagian daging kambing yang hanya sebesar kepalan tangan itu (karena dibagi terlalu banyak) malah diambil lagi oleh si pengurban dan–katanya–mau dibagi-bagikan sendiri.

Saya pun berbagi pengalaman saya menerima sapi dari seseorang yang bahkan bukan untuk kurban dirinya. Si teman bagitu pasrah sepenuhnya mau saya bagaimanakan sapi itu. Pak Rauf dan istrinya terheran-heran pada cerita saya, terutama jika dibandingkan dengan pengalamannya menerima kambing kurban, karena ada orang yang suka memberikan sapi untuk dikurbankan atas niat siapa pun dan itu terserah saya.

Ada pula kisah tetangga yang ogah-ogahan menyambut tawaran saya saat dirinya mau didaftarkan sebagai ‘orang yang berkurban’; ada pula yang gembira luar biasa sehingga ia menyampaikan terima kasihnya dengan datang ke rumah dengan setandan pisang. Ada cerita pemulung yang berkurban dari hasil tabungan bertahun-tahun. Tentu, masih ada banyak kisah lain yang lebih unik dan ironis namun tidak saya dengar.

Ada banyak cerita daging kurban yang mengandung ironi. Kisah di atas adalah salah satunya. Tanpa ironi, hidup menjadi datar dan biasa-biasa saja. Ironi memberikan banyak inspirasi bagi orang untuk menertawakan hidup. Ironi juga memberikan inspirasi bagi kita untuk merenung, berpikir, dan menghayatinya dalam menjalani kehidupan agar lebih pasrah dalam berbagi kekayaan dan kegembiraan untuk orang lain.

Iklan

4 thoughts on “Ironi Daging Kurban

  1. BEBERAPA kali saya ikut terlibat dalam kepanitiaan penyembelian kurban, baik di desa dulu, atau di kota sekarang. Setitik ironi yang selalu saya alami; ada saja orang, sekalipun bukan panitia, tetapi ikutan sibuk, namun membawa alat seadanya. Semacam pisau kecil yang tentu tak sepadan dengan daging kurban yang akan ditanganinya. Misalnya saja, tahun ini di musholla kami menyembelih enam ekor sapi.

    Tentang ini saya menjadi terlanjur berburuk sangka. Bahwa, ‘panitia siluman’ macam ini punya misi khusus. Yakni, degan alat seadanya, mengharap bagian daging lebih dari umumnya. Karena, untuk anggota panitia, timbangan daging –biasanya– memang lebih berat dari yang akan dibagikan kepada khalayak. Sudah begitu, saya sempat melirik, ia menyendirikan beberapa potong daging terbaik, dimasukkan tas plastik secara diam-diam untuk kemudian dibawa pulang tanpa ikut ditimbangkan.

    Untunglah saya ada potensi hipertensi. Sehingga sama sekali tak ‘kemaruk’ untuk urusan daging, lebih-lebih daging kambing.

    • ternyata banyak kejadian yang tak kalah unik di dekat kita. cerita Sampeyan salah satunya. saya tidak pernah memperhatikan jika ada orang sejenis itu dalam setiap peristiwa pembagian daging kurban. Semoga itu tidak terjadi di dekat-dekat rumah saya 🙂

  2. “Tanpa ironi, hidup menjadi datar dan biasa-biasa saja. Ironi memberikan banyak inspirasi bagi orang untuk menertawakan hidup. Ironi juga memberikan inspirasi bagi kita untuk merenung, berpikir, dan menghayatinya dalam menjalani kehidupan agar lebih pasrah dalam berbagi kekayaan dan kegembiraan untuk orang lain”
    ———
    Seperti biasa, tulisan yang renyah dan gurih; serta menu penutup (seperti kutipan di atas) yang bergizi (y)

  3. Sebaiknya penulis blog ini dan pak rauf yg saudara sebutkan membaca Surat Al Hajj ayat 28 sampai 38.
    Hadits sahih muslim no 3635. Kitab Bulughul maram hadits no. 1381
    Bila saudara membaca itu maka saudara dan pak rauf akan malu dengan praduga saudara sendiri thp yg kurban membawa daging kurbannya tsb.
    Al hajj ayat 28 : supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kpd mereka berupa binatang ternak maka makanlah sebahagian daripadanya dan ( sebahagian lagi) brikanlah untuk dimakan orang2 yang sengsara dan fakir.
    Dari ayat di atas mestinya saudara paham maknanya sebahagian dari dahing kurban adalah ha.milik si pengkurban untuk dimakan sendiri atau mau di hadiahkn terserah dia.
    Sebahagian itu berapa? bisa separo bisa tiga perempat bisa seperempat bisa sepertiga bisa 80% terserah pengkurban. dan sebahagian lagi sedekahkn kpd yang fakir dan sengsara.
    Jadi klo sodara bisa beli daging maka sodara tdk termasuk yg fakir maupun sengsara.
    Jdi tdk berhak menerima daging kurban.
    Org yg berkurban yg memberikn lngsung kpd tetangga ato org yg dikehendaki itu hadiah bisa juga sedekah trgntung dari niat si pengkurban.
    Hadits 1381: dari Ali bin Abu thalib RA berkata : Rasululkah SAW memerintahkn kpadaku untuk mengurusi kurban2nya mbagi2kn daging, kulit dan pakainnya kpd org2 miskin dan aku tdk diperbolehkn memberi suatu apapun dari kurban kpd penyembelihnya. (Muttafaq Allaihi).
    Smoga sodara jelas dg hadits diatas. Bila ada panitia kurban mminta bahagian dari daging kurban dari yg disembelihnya maka dia telah mlanggar ktentuan Rasulullah. Dia hnya boleh klo diberi hadiah/sodakoh daging oleh pngkurban.
    Masih bnyak lagi yg mesti saudara dan pak rauf pelajari dari Alquran & Hadits Shahih…
    Jgn hanya mndengar kata pk kiai ato ustadz krn yg mereka berikn itu trbatas sekali kdng ada yg disembunyikn bila itu td mnguntungkn mereka krn sifat manusia itu cenderung berbohong dan serakah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s