Santri dan Gaya Makannya

Photo0523

Bagi Anda yang hidup di kota dan tidak pernah merasakan tinggal di pondok pesantren, atau pernah tinggal di asrama pondok tetapi pondok moderen, model makan seperti dalam gambar ini barangkali merupakan sesuatu yang asing. Pernahkah Anda melihatnya secara langsung? Ini adalah model makan ala santri. Memang betul, tidak semua santri, sih, yang model makannya beginian. Tetapi, pemandangan seperti ini akan Anda temukan di pondok pesantren.

Umumnya, santri mendapat jatah kiriman ransum dari orangtuanya pada hari Jumat. Pondok pesantren yang rata-rata santrinya berasal dari desa sekitar relatif sama situasinya. Jatah libur sekolah/madrasah jatuh pada hari Jumat, bukan Ahad. Karenanya, hari itu merupakan hari ‘hari lebaran’ santri: liburan plus jatah dapat kiriman. Biasanya, di hari itu, santri tidak menanak atau membeli nasi, tidak seperti hari-hari yang lain. Mereka menunggu jatah ‘kiriman’ makanan dari rumahnya, atau jatah kiriman temannya yang nanti bakal disantap bersama. Ya, biasanya, jika satu dari teman mereka dapat jatah kiriman nasi, maka nasi tersebut nanti akan dituang ke dalam sebuah talam besar dan mereka makan bersama-sama. Di pondok moderen, pemandangan seperti ini jarang terjadi.

foto oleh M. Faizi

foto oleh M. Faizi

Dalam kesehariannya, biasanya ada sekelompok santri yang menanak nasi secara berkelompok; terdiri dari 3-5 orang, misalnya. Setiap hari, mereka mendapat jatah giliran memasak, mencari kayu (sekarang banyak yang menggunakan kompor gas), dan juga membeli atau mencari sayur ke rumah tetangga. Daur kelor/marunggai (moringa oleifera) merupakan sayuran paling populer di kalangan santri di Madura karena mudah didapat dan umumnya tidak dijual.

Pondok-pondok moderen cenderung melarang santri untuk memasak nasi sendiri. Ada anggapan dan aturan tersendiri agar santri benar-benar hanya fokus untuk belajar. Namun, di pondok-pondok yang lain, pondok pesantren memiliki tujuan sendiri pada praktik ini; mempersilakan dan bahkan menganjurkan santri-santri untuk memasak nasi sendiri. Salah satu alasannya adalah mendidik murid mandiri karena notabene mereka tidak pernah melakukan hal itu di rumahnya sepanjang masih ada orangtua yang mengerjakannya.

Konon, makan bersama satu talam akan membuat semua orang merasakan kenikmatan dalam kebersamaan. Kenikmatannya bukan karena makanan yang enak. Kebersamaanlah nilainya. Setelah sebelumnya mereka mengerjakan tugas masing-masing, seperti mencuci beras, membuat sayur, dll, makan bersama merupakan puncaknya. Internalisasi nilai-nilai budi pekerti dan emosi berlangsung pada saat itu. Memasak nasi bersama dan makan bersama merupakan sesuatu yang kelihatannya sepele namun sejatinya dapat membentuk watak seseorang agar mandiri dan berwawasan kebersamaan, seutuhnya.

Iklan

2 thoughts on “Santri dan Gaya Makannya

  1. di pondokku dulu sdh pakai “kos” untuk makannya. cara makan bersama seperti ini bisa dipraktikkan kalau ada santri yg disambangi dan dibawain nasi. rasanya memang jadi tambah enak dan nikmat sekali 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s