Sensasi Mudik

Kiranya, ‘mudik’ itu berasal dari asal kata ‘udik’; pergi ke udik, alias pergi/kembali ke desa. Udik adalah desa atau kampung. Kata udik menerima simulfiks (imbuhan yang tidak berupa kata, tetapi justru mengubah kata), seperti halnya ‘meminum kopi’ menjadi cukup ‘ngopi’ saja; ‘pergi naik taksi’ cukup dengan ‘naksi’. Udik sendiri tampaknya mengalami peyorasi, yakni nilai atau rasa suatu kata yang seolah lebih rendah dari kata yang lain, seperti desa misalnya. Makanya, kata ‘udik’ kadang dibuat makian untuk merendahkan: “Dasar udik! Norak, Lu!”  

 Namun, itu tidak akan dibahas di sini karena tulisan ini akan membahas fenomena seorang kawan (saya) yang unik terkait seputar. Tersebutlah dia bernama Rian, tinggal di Jakarta. Boleh jadi, nenek-moyang Rian ini awalnya juga dari desa atau kampung atau kota yang jauh lebih kecil dibandingkan Kota  Jakarta. Mungkin karena sudah turun-temurun dan beranak-pinak di Jakarta, jadinya si Rian tidak lagi punya kampung halaman.

Mudik itu adalah kepergian sekelompok banyak orang dalam waktu tertentu namun bersifat sementara (bukan eksodus), dari kota besar ke desa masing-masing. Jadi, pemudik itu punya tujuan rumah kampung halaman; bisa jadi ia berupa tempat dilahirkan; rumah orangtua, rumah kakek nenek, atau rumah kerabatnya, yang dijadikan tempat tujuan mudik.

Rian yang lahir dan besar di Jakarta ini sudah tidak punya tanah moyang. makanya, kalau dia melihat cerita teman-temannya yang bersiap mudik, atau mendengar cerita mereka sepulang kembali dari kampung ke Kota Jakarta dan sekitarnya, dengan sederet kisah sedih membawa barang berjibun, macet minta ampun (misalnya, seperti kisah kawannya yang menempuh perjalanan 44 jam untuk waktu tempuh yang semestinya 14  jam saja), dia pun merasa ingin dan teratarik untuk tahu, seperti apakah rasa dan sensasi mudik itu. Maka, terbentuklah keinginan itu yang akhirnya ia lakukan sekali-dua setiap menjelang dan sesudah lebaran. Ia pun bergaya ‘pura-pura mudik’, ikut berdesak-desakan antri tiket, padahal tidak jelas pergi ke tujuan tertentu.

Tak heran, jika hal itu ia lakukan menjelang hari-H, seperti 3 atau 4 menjelang lebaran, percakapan unik seperti ini akan terjadi di kios/agen tiket.

Mo kemana, Mas?”
Rian biasanya akan menjawab dengan bertanya.

“Yang asih ada kursi kosong itu tujuan ke mana?”

“Lho, Mas ini mau pergi ke mana?”

“Eh, nanti saya sebutkan tujuan malah nggak ada tiketnya, jangan-jangan kursi sudah terpesan semua. Sudahlah, Mbak. Sebutkan saja tujuannya, yang masih ada kursi kosong itu ke mana saja?”

Tentu, dengan masih terheran-heran, penjaga kios akan menyebutkan beberapa tujuan dan Rian akan memilihnya sesuka hati.

Menurut cerita yang saya dengan dari si Rian ini, suatu hari, pada saat masa mudik Lebaran, dia nonton tivi di rumahnya. Sedang tayang di sana: berita mudik. Ia pun melihat orang rebutan naik bis, rebutan naik kereta, ada pula wawancara calon penumpang yang ingin mudik, menggambarkan semangat yang besar agar sampai di kampung halaman untuk bertemu keluarga.

“Gak tau kenapa jadi nyetrum, refleks aja saya ambil tas lalu berkemas, pergi deh ke terminal, cari bis ke arah mana saja, yang penting masih ada peluang untuk saya ikut, hehehehe…”’ selorohnya.

 Rian bercerita, ia akan benar-benar trenyuh manakala, dan terutama, mendengar percakapan antar-penumpang yang sedang menelpon sanaknya di kampung, seperti misalnya memberitahukan keadaannya, ‘Pa’e/Bu’e, aku dah di bis, besok dijemput, ya!’, atau hal-ihwal pembicaraan sesama penumpang sendiri, entah yang kenal atau tidak, yang becerita tentang kampung halamannya masing-masing.

Baginya, pemandangan semacam ini akan terus terasa hingga saat (menjelang) tujuan akhir dan ia melihat para penumpang turun lalu disambut keluarga yang sudah menunggu di suatu tempat, dlsb. Dalam bayangannya, terlintas bagaimana para pemudik itu bertemu sanak keluarga di kampung halaman, melepas rindu, saling bercerita pengalaman selama setahun di rantau. Bagi mereka, ini semua merupakan rangkaian aktivitas mengumpulkan semangat untuk bertarung lagi di rantau.

Memang, mudik itu khas Asia (Tenggara). Konon, di belahan dunia yang lain, nyaris tak ditemukan tradisi mudik seperti ini. Terlebih, fenomena orang yang tidak bisa mudik namun ingin merasakan sensasi mudik seperti ini tidak banyak, namun benar-benar ada. Rian adalah satu contoh dari yang sedikit itu.

Iklan

2 thoughts on “Sensasi Mudik

  1. SETELAH seminggu harus menjadi ‘penjaga gawang’ di tempat kerja karena sebagian besar teman-teman yang lain pada pulang berlebaran di kampung halaman, mulai besok (Selasa, 13 Agustus) sampai seminggu ke depan, giliran saya mudik ke LA. Tak apa-apa, sekali pun itu sebagai mudik yang tertunda. Toh, lebaran di kampung halaman istri saya tak sesemarak di daerah asal saya.

    Ini link catatannya: http://www.ediwinarno.blogspot.com/2013/08/berlebaran-di-malam-takbiran.html

    • Hebat, Mas Edi. Saya tidak dapat membayangkan dapat bekerja dengan baik dalam situasi seperti yang Anda ceritakan itu. Namun, Mas Edi akan merasakan kebahagiaan yang hebat, yang seolah-olah melebihi semua kebahagiaa semua pemudik lebaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s