Tampa’an

Tampa’an (Madura) berasal dari kata nampa/tampa yang artinya ‘menerima’. Tampa’an memiliki arti ‘waktu menerima’ atau ‘penerimaan’. Frase ‘tampa’an reppot’ berarti ‘waktu penerimaan raport’ yang biasanya berlangsung akhir masa studi di sekolah.

Pada saat ini, tampa’an mengalami penyempitan makna. Sekurang-kurangnya itu yang saya amati selama beberapa tahun terakhir. Frase ‘tampa’an reppot’ sudah mulai jarang digunakan orang. Masyarakat Madura lebih cenderung menggunakan istilah ‘akhir sanah’ atau ‘imtihan’ atau ‘reppotan’ untuk menjelaskan momen tersebut. Sedangkan ‘nampanin’ (atau nampangin) mengacu saat persiapan menjemur tembakau rajangan. Akan tetapi, saat ini, tampa’an cenderung mengacu pada malam pertama Bulan Ramadhan, yakni saat-saat umat Islam menyambut Bulan Puasa.

Momen tampa’an, bagi masyarakat Madura khususnya, sangat istimewa. Banyak masyarakat perantauan yang mudik sejenak demi momen ini. Mereka pulang kampung hanya demi tarawih, berpuasa, dan berbuka, untuk yang pertama kali di bulan Ramadhan, di rumah asalnya bersama keluarga. Begitu pula di pesantren, santri-santri yang telah berniat untuk menjalani bulan puasa di pondok, biasanya menyempatkan diri untuk merasakan sensasi tampa’an ini di rumahnya. Mereka pulang sehari menjelang Ramadhan dan kembali ke pondok sehari-dua setelah hari tampa’an itu.

Terlepas dari seberapa penting dan seberapa serius masyarakat menjalani ibadah puasa sebagai bagian dari rukun Islam, rupanya tampa’an masih dianggap kebiasaan yang masyhur di kalangan masyarakat Madura. Tradisi ini berlangsung sampai hari ini. Kiranya, hal ini menandakan betapa besar perhatian masyarakat Madura pada momen Bulan Ramadhan secara umum di saat kejahatan, korupsi, serta perbuatan tidak baik yang lain juga berlangsung di sekitar mereka.

Gambaran sisi religius masyarakat Madura yang tersohor itu setidak-tidaknya dapat dilihat secara kasat dalam momen ini, terlebih di Bulan Puasa. Meskipun banyak orang yang juga tidak taat, namun kita dapat membandingkan, seberapa banyak orang yang dengan jelas makan minum di warung, merokok di tempat umum, pada bulan puasa di Madura dengan tempat lainnya. Saya kira kita masih layak berharap agar hal ini menjadi sebagian pertanda dari Madura sebagai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s