Silaturrahmi An Sich dan Jam Kerja

Bepergian untuk silaturrahmi pada jam sibuk, misalnya pada saat biasanya kita melakukan rutinitas/pekerjaan tertentu, merupakan hal yang saya inginkan. Sepintas, ini tampak seperti pelanggaran. Ya, ini tentu juga momen istimewa, karena tidak setiap saat bisa dilakukan. Bayangkan, seperti apa rasanya bepergian di saat semestinya kita berada di belakang meja kantor pada hari-hari biasa? Saya membayangkan sensasi itu.

Di saat hari aktif dan jam sibuk, umumnya kita akan terbelenggu dalam kesibukan; murid dan guru pergi ke sekolah; bankir berangkat ke bank; PNS pergi ke kantor; mahasiswa dan dosen pergi ke kampus; dan seterusnya. Kegiatan ini berlangsung terus-menerus sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang tahun. Rutinitas akan mengalami jeda hanya pada Sabtu-Minggu atau libur nasional. Kalaupun ‘pergi pada jam sibuk’ itu mungkin biasanya sih  juga diiringi oleh alasan yang kuat, seperti sakit atau cuti. Sayangnya, pada saat kita sakit, kita tetap tidak bisa berbuat apa-apa, tetap tinggal di rumah saja. Saat kita ambil cuti, kita juga tidak dapat berbuat apa-apa karena masa cuti, umumnya, digunakan untuk kegiatan penting lainnya; melahirkan, liburan keluarga, dan lain sebagainya. Adakah hari lowong yang benar-benar lowong untuk menikmati hidup, dengan silaturrahmi misalnya?

Dalam pandangan saya, bepergian (untuk silaturrahmi) pada jam sibuk merupakan salah satu kemewahan dalam hidup yang tidak bisa dilakukan semau-mau atau oleh sembarang orang. Agaknya, ini boleh jadi merupakan salah satu cara menikmati kebebasan manusia. Pergi silaturrahmi, pergi dengan tanpa maksud apa-apa selain silaturrahmi an sich, saya sebut sebagai kemewahan karena tidak sembarang orang bisa memperoleh kesempatan itu. Umumnya, kunjungan kita ke rumah sahabat atau famili hanya bilamana kita ‘dibebani oleh kepentingan’, misalnya takziyah, tilik bayi, pinjam uang, dan seterusnya.

Lebih dari itu,  kita mesti menentukan dan memilh sebuah hari, atau beberapa hari, untuk melakukan kegiatan silaturrahmi sejenis ini, pergi bukan dalam rangka yang lain kecuali silaturrahmi. Sebab, silaturrahmi merupakan satu-satunya kegiatan yang sangat manusaiawi, dianjurkan, juga menunjukkan kebebasan kita sebagai makhluk ‘merdeka’. Silaturrahmi adalah kekayaan yang sangat mahal harganya.
Gambar

Pagi ini, saya mencoba menikmati peristiwa istimewa dimaksud. Saya meninggalkan rumah menjelang pukul 5.20. Dengan cara ini, jelaslah ada beberapa pekerjaan yang akhirnya tak tekerjakan, menjadi korban. Namun, dengan para “para korban itu”, saya sudah membuat kesepakatan bersama, yakni ganti rugi di masa yang akan datang. Perjanjian awal semacam ini membuat hati saya lebih lapang saat meninggalkan rumah untuk pergi.

Hari itu, 21 Maret 2013, saya pergi bersilaturrahmi, mengunjungi beberapa sanak kerabat yang dekat saja rumahnya. Dekat? Ya, yang dekat-dekat saja. Coba sekarang kita ingat, berapa banyak saudara, sahabat, famili, dan kerabat kita yang tinggal di dekat rumah dan tidak pernah kita kunjungi selama rentang waktu yang cukup lama saling sibuk sendiri. Banyak, kan? Saya ikuti jalan-jalan kecil yang sulit dan tidak biasa dilewati orang kebanyakan. Dengan sepeda motor Astrea Prima, saya lewati jalan kecil setapak, jalan berbatu, pula jalan hitam beraspal. Ada ladang dan persawahan. Saya lihat orang-orang yang pergi ke tegalan, dengan cangkul dan pacul, juga anak-anak kecil yang pupurnya tebal membuat wajah mereka seperti topeng. Sementara yang berseragam putih-merah lebih rapi rambutnya, pergi ke sekolah. Ibu-ibu tanpa dandanan pergi ke pasar.

Itulah beberapa pemandangan yang saya lihat dari jarak dekat. Sekian lama tidak saya melihatnya secara langsung, pemandangan yang tidak dapat saya nikmati di hari-hari biasanya. Karena itu, pagi ini saya menikmatinya betul-betul. Hanya butuh rentang waktu antara 2-3 jam saja. Memang, waktu yang saya gunakan hanya sebentar. Namun, dari sana saya temukan banyak pengalaman dan pemandangan yang baru, yang selama ini hilang dari rekaman ingatan karena rutinitas dan alur waktu yang begitu-begitu saja, di tempat kita biasanya berada, di rumah, di kantor, di mana-mana karena satu hal; kerja.

Iklan

3 thoughts on “Silaturrahmi An Sich dan Jam Kerja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s