“Ibu Saya Gila!”

Oleh M. Faizi

Ini adalah kisah nyata. Kisah ini saya dapatkan dari Pamanda Syihabuddin, di suatu siang, 28 Januari 2013 yang lalu. Saya ceritakan ulang dengan bahasa saya sendiri sedekat mungkin dengan cerita dari sumber pertama.

Suatu hari, Pamanda itu diajak saudaranya, sebut saja Mahmud, ke sebuah pesantren. Tujuannya adalah untuk minta doa barokah kepada Kiai Ahmad, sang pengasuh, demi kesembuhan Nyai Syam (bukan nama sebenarnya), ibunda Kiai Mahmud. Nyai Syam, kata masyarakat setempat, dikenal “khilaf”, atau “jadzab”. Beliau pergi dari tempat ke tempat yang lain, bahkan kadang dengan menggunakan sepatu boot dan baju tiga lapis, serta gelang yang banyak.

“Hab, yuk ikut saya!”
“Ke mana?”
“Ke kediaman Kiai Ahmad.”
“Mari.”

“Hari itu kami pergi ke rumah Kiai Ahmad,” tutur Pamanda Syihab kepada saya siang itu. “Saya sama sekali tidak menduga pada pernyataan Kiai Mahmud yang disampaikannya kepada Kiai Ahmad di hari itu,” begitu imbuhnya. Kiai Mahmud bilang begini: ‘Saya minta sambung doa, Kiai, untuk kesembuhan ibu saya. Ibu saya gila! Saya sungguh malu dibuatnya karena beliau sering keluyuran di jalanan.’

Kiai Ahmad tersenyum seperti menyimak. Dia tenang tidak tacengak. Mungkin, Kiai Ahmad, yang konon kasyaf (dapat membaca pikiran orang) itu, sudah tahu menahu perihal ‘kelakuan’ Nyai Syam, ibunda Kiai Mahmud ini, termasuk kejadzabannya.

“Kamu cukup baca Surah Yasin”
Sesaat hening. Tak ada tanggapan. Kiai Mahmud hanya diam.
“Kamu baca Yasin!”
Suara Kiai Ahmad terdengar memerintah.
“Berapa kali, Kiai?”
“Setiap malam, satu kali saja, yang penting bisa istikamah. Jangan lupa, siapkan segelas air. Lalu, setiap kamu selesai membaca Yasin, tiupkan pada air tersebut.”

Kiai Mahmud kini tersenyum. Bagi orang awam sekali pun, cara ini dianggap biasa. Rupanya, resep boleh sama, sumber sugestilah yang membedakannya, pikirnya. Membaca Surah Yasin, apalagi cuma satu kali,  lalu ditiupkan ke dalam air merupakan hal yang biasa, mudah ditemui. Kok enteng banget terapinya?

Sejurus diam. Kiai Mahmud kembali bertanya kepada Kiai Ahmad.
“Air itu akan saya minumkan untuk ibu saya, ya?”
“Tidak, itu kamu minum sendiri.”

Suasana mendadak berubah, terutama air muka Kiai Mahmud. Sambil menatap Pamanda Syihab yang duduk menemaninya, air muka itu kini tampak aneh, air muka yang bertanya-tanya: siapakah yang disebut ‘gila’ itu sebenarnya?

Iklan

2 thoughts on ““Ibu Saya Gila!”

  1. Saya terperanjat membaca kisah ini kyai. Sepertinya saya diingatkan oleh kisah ini bahwa “niat baik” pun akan bernilai “ah” apabila “niat baik” ini diawali anggapan yang tidak baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s