Antara Film Kartun dan Puisi

Di masa kecil dulu, saya suka nonton film kartun. Film-film ini ditayangkan pada saat menjelang azan hingga bakda Maghrib di TVRI. Di lingkungan keluarga saya, waktu Maghrib adalah waktu istijabah, waktu ibadah, bukan saat untuk nonton televisi. Ayah saya melarangnya karena alasan jam tayang, bukan karena tontonan. Karena di rumah tak ada tivi namun saya tetap didorong rasa ingin, maka saya bergerilya, ngotot, nonton di rumah tetangga. Adanya larangan membuat gairah berlipat untuk melanggar.

Di depan televisi, saya bertemu dengan pelanggaran kembali. Kali ini pelanggaran pada logika; ‘umwertung aller werte’. Seekor gajah masuk ke dalam pipa ledeng dalam “Tom and Jerry”. Manusia terbang sendirian di antariksa dalam “Silver Hawk”. Pelanggaran logika terjadi hampir di semua filem kartun, namun yang tergawat adalah pada film Tom and Jerry, film kartun yang tidak menggunakan tokoh protagonis, semua lakonnya sama-sama jahat. Mungkin karena kanak-kanak, saya tidak begitu peduli pada pelanggaran seperti itu. Menyegarkan imajinasi adalah yang utama.

Keasyikan masa kanak-kanak berangsur hilang setelah saya tahu banyak hal, setelah makin dewasa. Makin banyak tahu, eh, malah semakin tidak lucu, semakin tidak senang. Setelah dewasa, sesekali berkelebat keinginan untuk bernostalgia, menjadi anak-anak kembali meskipun sesaat. Namun, untuk merasakan sensasi kemerdekaan dan kebebasan masak kanak-kanak itu, ya, kok enggak bisa. Ada saja pantangan dan larangan dari logika dan konvensi.

Akan tetapi, cara bernostalgia itu ternyata saya temukan pada jalan ‘menulis-puisi’. Menulis puisi, rupanya, menjadi salah satu jalan yang membuat saya merdeka dalam membuat perbandingan, mengandaikan, menyerupakan, dan membuat pelanggaran-pelanggaran kecil pada bahasa. Dalam puisi, saya bebas menyebut ‘sekuntum bunga’ dengan maksud ‘seorang gadis’; menyebut ‘kuda’ dengan maksud ‘pikiran’, atau ‘hasrat’, atau apa pun tanpa harus disepakati lebih dulu dengan orang lain. Ini adalah sejenis pelanggaran. Bedanya, di masa kanak-kanak, saya tidak peduli pada pelanggaran itu, sementara sekarang saya melanggar dalam keadaan sadar.

Saya terus menulis puisi meski tidak semunya disiapkan untuk pembaca. Jika menulis prosa (atau esai) merupakan jalan yang bersyarat logika tertata dan rapi, menulis puisi adalah sebaliknya, yakni pelanggaran logika. Apakah tidak ada logika dalam pelanggaran itu? Ada, itulah ‘logika poetica’, logika yang cara merunutnya harus dengan cara pandang metaforis pada saat yang pertama harus menggunakan wawasan literal untuk memahaminya. Puisi memiliki ‘logika’-nya sendiri.

Menulis puisi dapat mendewasakan seseorang dengan berpikir, namun sekaligus menghadirkan nostalgia pada kekartunan masa kecil dengan pelanggaran-pelanggaran.

Iklan

9 thoughts on “Antara Film Kartun dan Puisi

  1. Kalau bicara tentang film kartun, sponge bobs mungkin salah satu yang masih cocok ditonton oleh orang dewasa. Bahkan kesimpulan saya sampai saat ini itu memang film untuk dewasa. Terlepas dari kekhayalan setting, film itu sarat makna dan perlu logika berfikir beberapa lapis. Yang jelas bukan kapasitas anak-anak melakukannya

    • Dodo: dalam hal ini, saya melihat Tom and Jerry sebagai imajinasi yang tak terbatas. Karena itu, ketakterbatasan itulah yang saya gunakan sebagai perbandingn dengan perbandingan-perbandingan–atau penyepertian (dalam istilah Dami N Toda untuk menyebut perbandingan dalam puisi-puisi Afrizal Malna–di dalam puisi. Boleh saya ganti dengan Sponge Bobs itu, yang penting intinya tetap tercapai, bahwa menulis puisi seperti bernostalgia dengan masa kanak-kanak

    • Sayang sekali saya tidak nonton film kartun lagi. Kartun di dalam tulisan di atas sebetulnya hanya sebagai perbandingan saja, perbandingan untuk imajinasi anak dan imajinasi penyair yang sama-sama hobi membuat perbandingan dan pengandaian

    • #Edi: Flash Gordon dan Mandrake dan Phantom serta Jeda merupakan tokoh favorit saya dalam filem Defenders of the Earth. Rupanya Anda juga ngefans sama mereka, ya

      • Iya, Ra. Saya suka nonton Flash Gordon di tivi hitam putih di rumah tetangga.Tentang judulnya yang Defenders of the Earth, jujur baru kali ini saya tahu dari Sampeyan.

  2. Anak-anak dengan dunia berpikirnya yang spontan, itulah yang sering menghibur kita. Urusan etika kadang terpaksa harus kita kesampingkan sejenak dengan tawa….

    Kebetulan saya aktif di sebuah Rumah Yatim yang diisi oleh anak-anak usia SD sampai SLTA. Anak-anak usia SD itu bandelnya minta ampun, dan keisengannya membuat kita kewalahan. Sebutlah satu contoh pengalaman saya sehari-hari:

    Rifan dan Nurkhodin, keduanya kelas V SD. Keduanya tinggal di asrama anak-anak yatim di tengah lingkungan luas yang penuh pepohonan. Lingkungan luas dan alami seperti itu tentu bagus untuk mengembangkan daya imajinasi anak-anak pada suasana yang natural dan penuh daya kebebasan. Areal asrama yatim yang luas itu punya pintu gerbang yang terbuat dari bambu, dan dipagar dengan kawat berduri untuk menjadi batas dengan tanah warga yang ada di sekitarnya. Ada jembatan bambu kecil sepanjang empat meter yang sengaja dibuat untuk menjadi jalan pintas yang menghubungkan lingkungan tanah asrama dengan areal kebun samping rumah seorang warga terdekat. Jembatan bambu kecil itu dipakai khusus oleh keluarga tetangga asrama itu bila mereka hendak ke asrama. Kami menerapkan peraturan agar semua anak-anak yatim yang tinggal di asrama harus melewati pintu gerbang bila keluar-masuk asrama.

    Tetapi sepulang sekolah, Rifan dan Nurkhodin kepergok pulang hendak melewati jembatan bambu kecil itu. Posisi keduanya berbeda sedikit. Nurkhodin sudah ada di tengah jembatan, sedangkan Rifan masih ada di kebun tanah milik tetangga, belum masuk batas tanah asrama. Itu adalah masalah pertama. Yang kedua, dari kejauhan saya memergoki Rifan yang kemudian memelorotkan celana sekolahnya, dan kencing sambil berdiri dengan santainya.

    “Rifan, kencing sembarangan!” kataku memperingatkan.
    Ditegur dengan cukup keras seperti itu, Rifan dan Nurkhodin malah cengengesan.
    “Ini kan bukan tanah asrama, Mas Imam.” jawab Rifan tanpa dosa.

    Tidak lama sebelum kejadian itu, memang saya pernah memberi nasihat bahwa selama ada di dalam lingkungan asrama, anak-anak tidak boleh kencing sembarangan. Dan dalam masalah yang kedua, logika Rifan ada benarnya juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s