Sudut Pandang Nyai Nawarah

Ada penjaja lauk yang nyaris setiap hari datang ke rumah. Namanya Nyai Nawarah. Setiap hari dia datang dengan angkutan umum, lalu menjajakan dagangannya di sekitar rumah saya. Selain lauk, khususnya ikan tongkol, biasanya dia juga menjual krupuk, tempe, dan terkadang juga kecambah. Barang-barang dagangan yang dijajakannya itu disatukan dalam sebuah wadah. Kami menyebutnya kalasah. Wadah itu disungginya.

Kata Ibu saya, apa yang dilakukan oleh Nyai Nawarah ini sudah berlangsung puluhan tahun sejak masa nenek saya masih. Tak bisa dibayangkan, berapa besar perannya bagi keberlangsungan dapur nenek, dapur embah, dapur ibu, dan kini juga menjadi penyedia lauk untuk dapur saya. Setiap hari dia menempuh perjalanan sekira 5 kilometer dengan angkutan umum. Setibanya di daerah/di desa saya, ia pun mulai berkeliling, berjalan kaki, dari rumah ke rumah.

Mengingat usianya yang lanjut, banyak orang heran, lebih tepatnya menyangsikan peran anak cucunya (misalnya dengan pertanyaan), mengapa mereka membiarkan si nenek ini terus bekerja dengan cara berkeliling menjajakan dagangannya sementara ia telah renta? Belakangan, saya tahu jawaban Nyai Nawarah dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan di atas. Menurutnya, mengutip Ibu saya, apa yang dilakukan Nyai Nawarah dengan menjajakan lauk itu konon merupakan sebentuk ‘aktualisasi diri’, bukan sekadar menjajakan dagangan demi meraup untung. “Dengan cara seperti ini,” kata Nyai Nawarah, “saya bisa bertemu Panjenengan setiap hari, saya bisa bersilaturrahmi, dan juga bisa merasakan hidup di dunia sambil menikmatinya dengan bersyukur masih hidup dan bisa berjalan (kaki).”

Cara pandang Nyai Nawarah ini membangunkan kesadaran saya, bahwa apa yang kita lakukan itu akan sulit dinikmati jika semuanya dihitung dan dilandaskan atas asas manfaat bagi diri sendiri semata, terlebih atas asas manfaat finansial belaka. Nyai Nawarah tidak sedang menggombal. Sebab, saya tahu dengan mata kepala sendiri bahwa keuntungan dagangan Nyai Nawarah ini tidaklah seberapa. Modal-untung bisa jadi impas atau tekor mengingat ada beberapa orang tega berhutang dan nekat tidak membayarnya kembali. “Bahkan, meskipun para pembeli itu punya uang,” imbuh Nyai Nawarah dengan nada datar, tanpa rasa sesal.

Kini saya sadar, apabila ada satu dua hal yang semula kita lihat merugikan, tampak tidak adil, terkesan tidak proporsional, bisa jadi sebetulnya hal itu tidaklah demikian. Kesalahan justru ada pada posisi kita yang salah dalam berdiri untuk mengambil sudut pandang. Saya belajar banyak pada cara pandang penjaja lauk ini dalam memaknai vitalitas dan rasa syukur. Hidup itu sebentar, buat apa meradang?

 

Iklan

5 thoughts on “Sudut Pandang Nyai Nawarah

      • SAAT saya kecil, ada seorang tua yang kalau bertamu ke rumah ayah saya lama sekali. Ohya, ia tidak hanya bertamu. Tetapi berjualan kitab.

        Kemana-mana beliau bersepeda tua. Tubuh yang sudah sepuh itu mengayuh sepeda dengan pelan sekali. Tetapi –menurut cerita orang-orang–, bila ada orang menyalipnya dengan tidak sopan, sengebut apa pun penyalip itu menjalankan motornya, di suatu desa nun jauh dari saat menyalip tadi, telah ada Pak Tua di depannya.

        Sudah lama beliau almarhum. Yang saat menjelang ajal menjemput, kepada orang-orang yang mengerumuninya, beliau berkata dengan
        tersenyum; “Lihatlah, aku telah dijemput bidadari…”

        Kami memanggil beliau dengan nama Kiai Jailenai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s