Mencari Pelancung

oleh M. Faizi

Suatu saat, di dalam sebuah buku, saya menemukan beberapa kalimat (nyaris berupa paragraf) yang menarik. Tidak ada catatan kaki atau keterangan apa pun tentang itu. Saya penasaran dan menduga, ada sesuatu yang tidak beres dengan statemen dimaksud karena saya merasa pernah kenal pada susunan kalimat tersebut.

Apakah déjà vu? Saya pun membaca ulang buku yang saya curigai sebagai rujukan itu. Ternyata, beberapa kalimat yang saya maksudkan itu benar-benar merupakan kutipan langsung dari buku yang pernah saya baca, (kalau tak salah) Strukturalisme-nya Jean Piaget. Sontak saja saya menduga: pengarang telah melakukan kejahatan dengan mengutip tanpa menyebutkan rujukan atau (dugaan yang lebih kalem) pengarang merasa lupa kalau itu hasil kutipan dan atau catatan kaki-nya rusak ketika buku hendak diterbitkan dan ini karena kesalahan teknis tata letak, misalnya.
Ini belum seberapa. Yang saya anggap “hebat” adalah adanya penjiplakan yang  bersifat serampangan, amatir, tidak kreatif, namun berani dilakukan dan pelakunya pun tanpa merasa bersalah. Berani atas pasal apa? Karya lancung tersebut bahkan juga disiarkan secara luas dan dengan bangga diakui sebagai karya asli. Ia menjiplak bukan sekadar gagasan dan ide, melainkan bahkan dalam segalanya: frase demi frase, kalimat demi kalimat, disontek habis. Emang, ada orang yang seperti ini? Ada, dong.

Adanya mesin pencari, dari zaman ‘Altavista’, ‘Yahoo!’, hingga ‘Cuil’ bahkan ‘Google’, dapat membantu kita mencari teks-teks yang beredar di dunia maya: ada berapakah teks yang sama persis satu sama lain? Sekurang-kurangnya untuk bahasa yang sama, cara ini bisa dilakukan dengan trik pencarian tertentu, seperti mencari frase atau kalimat yang dicurigai dengan bertanda-petik (contoh: “jika engkaulah alamat kebenaran”, dlsb., maka Anda akan menemukan puisi saya ini dikutip atau dipakai oleh siapa dan di web mana saja).

Penjiplakan dalam ranah kata (tulisan) tampaknya lebih mudah diendus dan ditelusuri dibandingkan dengan ranah nada (musik). Kita dapat menggunakan teknik pencarian berdasarkan frase, misalnya,  sebagai kata kunci untuk menjelajahi web tanpa lebih dulu membacanya. Namun, bagaimana cara menemukan pemalsuan chord dan irama, misalnya, jika tanpa kita dengarkan lebih dulu? Sulit, bukan? Belum saya ketahui mesin pencari yang dapat menunjukkan kita; mana lagu yang asli, mana lagu sontekan, dengan tanpa lebih dulu menyimak lantas membanding-bandingkan. Akan tetapi, saya yakin, tak lama lagi (atau sudah?), mesin pencari semacam itu akan diciptakan untuk melacak keserupaan lagu-lagu berdasarkan susunan chord dan kemiripan progresivitasnya. Dengannya, ketika ditemukan sebuah lagu yang diduga hasil sontekan dari aransemen lagu yang lain, akan dengan mudah dipergoki kepalsuannya.

* * *

Nyatanya, dengan aturan-aturan main yang juga dibuat oleh manusia, seorang pengarang/pencipta dapat mengelak ketika dituduh menjiplak karya orang lain. “Kebetulan” adalah alasan yang paling masuk akal. Cara lainnya adalah sengaja menjiplak namun sedikit mengubah. Cara ini akan membuatnya lebih aman untuk tetap hidup sebagai intelektual atau seniman. Dia telah menjadi pengarang kedua (dalam istilah filologi) tapi hidup di zaman royalti sebagai pengarang pertama. Demikian pula, seorang aranger atau musisi dapat juga melakukan cara demikian. Sebutlah meniru lagu orang/band tertentu; chord-nya atau reffrain, dengan catatan tidak sampai pada batas pelanggaran hak cipta (misalnya dengan cara menyiasati agar tidak sampai 1 atau 4 bar). Ia menjiplak dengan sadar. Tetapi, melalui metode kreatif, dia bisa selamat dari hukum dan tuduhan.

Baik dalam menulis atau mengaransemen, menjiplak, memalsu, dan mengaku karya orang lain atas nama sendiri dapat dilakukan dengan aman melalui cara kreatif. Dalam fiqh, walaupun tidak sama persis kasusnya, “cara kreatif” itu disebut hilah/helah, yaitu memodifikasi unsur pengubah ketetapan hukum dengan cara-cara tertentu. Untuk apa? Agar yang semula terlarang menjadi absah dan halal. Meskipun pada beberapa kasus hilah dianggap sebagai cara satu-satunya, namun hati nurani harus selalu dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan.

Akhir kata, tentunya, seorang pengarang hebat dan musisi besar tidak akan pernah melakukan cara seperti di atas, meskipun atau andaipun Google dan Yahoo! tidak akan pernah menemukan akal-bulusnya. Hanya insan mumpuni yang akan selalu melibatkan hati nurani dalam setiap pengambilan keputusannya.

Karena itu, saya lantas ingat, bahwa betul-betul ada orang yang pikirannya hanya sejengkal saja. Begini, dia menipu dengan sadar dan berpikir aman dalam waktu sebentar. Kecurangan yang dilakukannya tidak pernah dibayangkan jika kelak, bahkan setelah ia tiada, akan diketahui oleh banyak orang dan ia dicacimaki karena kelancungannya. Atas dasar ini, saya ingat sebuah syair (jika tak salah) karya Dzun Nun al-Mishri, kurang lebihnya (dengan terjemah bebas) kira-kira seperti ini:

Wa ma min kaatibin illa sayubla # wa yabqa ad-dahra ma katabat yadahu

Fa la taktub di bikhattika ghaira syai-in # tasurruka fil qiyamati an taraahu

Setiap penulis akan diuji # Karyanya bertahan sepanjang masa

Maka jangan kautulis karya apa pun # Kecuali kelak membahagiakanmu di alam baka

 

Wallahu Alam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s