Pelatihan Fotografi dengan Kamera Ponsel

Tedi K. Wardhana Menyampaikan MateriPernahkah Anda melihat foto seorang teman, atau Anda sendiri, sedang duduk di belakang meja sebuah kantor yang rapi dan bersih dengan maksud (sedang berpose) sebagai seorang direktur? Foto seperti ini cukup banyak. Maka, cobalah diperhatikan pose-nya seka
li lagi. Terkadang, foto tampak ganjil, misalnya, karena tangan objek berada di balik meja, bukan di atas meja sambil ‘bergaya’ memamerkan jam tangan atau sebagainya.

Satu hal lagi: mari kira perhatikan ketika kita melihat foto iklan, atau akan mengambil
gambar sebuah ‘ponsel kecil’, sejenis Ericsson T100/Motorola T190 dan kita jelaskan bahwa ini adalah ponsel yang kecil. Orang akan sulit meyakini pernyataan tersebut tanpa adanya pembanding. Foto akan ‘berbicara sendiri’ manakala kita mengambil gambar Ericsson T100/MotorolaT190 bersanding dengan Ericsson R520m/Motorola 2288 yang relatif jauh lebih besar. Maka, seberapa kecil ponsel yang kita maksud itu sudah terjelaskan di sana.

Itulah dua dari banyak hal yang disampaikan oleh Tedi K Wardhana, seorang forotgarafer yang juga instruktur di Darwis Triadi School of Photography di Guluk-Guluk, 29 Nopember 2012 lalu, kepada para peserta “Pelatihan Fotografi dengan Kamera Ponsel”. Acara yang dilangsungkan di SMA 3 Annuqayah ini dihadiri oleh guru, siswa, juga undangan dari luar sekolah/pesantren Annuqayah.
Tedi K. Wardhana di Annuqayah
Pelatihan Fotografi Peserta Putra

Pak Tedi mengawali pelatihan dengan mengutip sedikit gambaran tentang persebaran foto sejak adanya jejaring sosial, seperti blog, facebook, twitter, dan lain-lain. Sejak adanya jejaring sosial, katanya, penyebaran dan persebaran foto begitu cepat, tak terbendung. Hal ini dapat disebut viral, seperti virus. Foto yang diambil saat ini di Indonesia dapat muncul di negara yang lain, dilihat oleh ribuan orang, hanya dalam waktu kurang dari 1 menit.

Memotret itu, tambahnya, adalah kerja memenggal waktu. Saat menjepret, kita seolah-olah sedang mengerat waktu (moment) dengan lensa sebagai bilah pemotongnya. Karena waktu merupakan suatu hal yang sangat penting untuk menentukan kualitas sebuah foto, maka fotografer harus sabar menunggu momen itu. Sequence harus diperhatikan serius. Saat seorang fotografer akan mengambil gambar mural, grafiti, atau lukisan di tembok, terkadang dia harus rela menunggu, atau mengintai, untuk beberapa saat lamanya. Menunggu seseorang yang melintas di sana, misalnya, untuk menjadi ‘model’ bagi gambar mural/grafiti itu adalah bagian dari bukti bahwa fotografi adalah kerja eksplorasi.

Kita juga dapat menunggu meraih sebuah momen yang baik itu bahkan meskipun berbekal kamera ponsel. Dengan pengetahuan dasar yang cukup, kita dapat memfoto objek dengan tepat. Pada sesi praktek, Pak Tedi langsung memperagakan teknik ini. Ia meletakkan sebuah kursi kayu. Pertama; dijepret begitu saja; kedua, dijepret dari arah depan dengan lebih dulu mempertimbangkan ketertampakan empat kaki kursi serta permukaan atasnya.

“Dengan cara kedua ini,” kata Pak Tedi, “semua sisi kursi tampak semua di dalam foto.”

Namun, ada satu hal yang perlu diingat. Pada kamera ponsel, penggunaan fasilitas zoom nyaris tidak berguna. Lensa ponsel itu bukan optical (susunan lensa yang berurutan). Tip ini setidaknya dapat diterapkan untuk saat ini. Berbeda jika kelak ada ponsel yang dilengkapi dengan 50X optical zoom, misalnya. Namun, kita tidak tahu, apakah ponsel seperti itu masih tetap disebut ponsel atau kamera saku yang dilengkapi ponsel? Entahlah.

Dari pelatihan ini, sebuah catatan penting dapat diingat. Meskipun kita mengambil gambar hanya sebatas amatir, yaitu orang yang bekerja karena suka-suka dan tidak dibayar, hendaknya kita bersikap profesional dalam wawasan. Contoh, dengan kamera ponsel pun, saat kita memotret, kita juga harus mengenal model pencahayaan. Ada cahaya keras, yaitu cahaya langsung dari sumber cahaya, seperti matahari; dan ada pula cahaya lunak, yaitu cahaya pantulan. Intinya, objek yang akan kita foto itu haruslah cukup mendapatkan cahaya.

Dengan prinsip pencahayaan ini, maka foto paling bagus biasanya dihasilkan di pagi hari di mana cahaya tidak terlalu melimpah walaupun objek mendapatkan sinar langsung dari sumber cahaya. Sedangkan pada siang hari, objek biasanya kelebihan cahaya. Jika kita mengambil gambar orang tepat di tengah hari, misalnya, bagian-bagian di bawah alisnya menjadi gelap. Itulah di antara pesan Tedi K. Wardhana kepada para peserta di saat sesi praktek.foto oleh Sekar Dinihari

“Oh, ya, ada satu lagi,” kata Pak Tedi. “Fungsi kamera itu adalah untuk memenggal momen. Kita sebagai operator. Jadi, kamera itu bukan untuk memotret diri sendiri, ya!” susulnya diikuti senyuman peserta saat instruktur tersebut membuat peragaan dengan tangan kanan memegang ponsel terbalik dengan lensa menghadap dirinya, mata sebelah dipicing-picingkan, mulut sedikit senyum, dan tubuh dibikin agak doyong, membayangkan dirinya seperti anak remaja.

* * *

Tedi K. Wardhana datang ke Annuqayah secara suka rela. Bersamaan dengan peringatan Hari Guru, dia dan Sekar (istrinya), juga Pak Nanang alias Ahmad Rizali dan Liza (istri Pak Nanang), melakoni turing sepeda dari Surabaya menuju Guluk-Guluk lewat pesisir utara Madura. Perjalanan hampir 150-an kilometer ini mereka tempuh selama dua hari. Rombongan penggemar sepeda ini datang pada hari Rabu sore, 28 Nopember 2012 dan pulang Jumat pagi, 30 Nopember 2012.

 

Iklan

7 thoughts on “Pelatihan Fotografi dengan Kamera Ponsel

  1. Kutip: “…peragaan dengan tangan kanan memegang ponsel terbalik dengan lensa menghadap dirinya, mata sebelah dipicing-picingkan, mulut sedikit senyum, dan tubuh dibikin agak doyong, membayangkan dirinya seperti anak remaja.”

    Ternyata Kiyai M. Faizi mahir menulis narasi. Panday™. Adakah pelatihan menulis narasi spt ini menggunakan hape?

    • saya kurang tahu. Pak Teddy ke mari sebetulnya hanya liburan dengan bersepeda. Karena dia punya reputasi yang bagus dalam hal fotografi, maka dimintalah dia untuk isi pengajian fotografi. saya tidak tahu kapan datang lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s