Bertandang ke Rumah Lan Fang

Kamis siang, 2 September 2010, diantar Aziz dan Hanif, saya pergi  bertandang ke rumah Lan Fang. Bersama mereka, tidak sulit menjangku rumah yang terletak komplek perumahan Pondok Maspion Indah itu.

Tiba di Pepelegi, jam menunjukkan kira-kira pukul 13 lewat sedikit. Kami lalu bertamu seperti halnya orang bertamu, duduk-duduk dan bicara. Saya, Aziz, dan Hanif duduk di teras depan rumahnya.

Dari dalam, meskipun saya tidak melihat langsung , dapat saya duga, ada makan siang untuk kami. Aromanya masakan itu terendus. Tapi, bukankah hari ini adalah bulan puasa? Pikir saya. Mestinya, saya bisa mengambil bonus kemurahan musafir untuk buka/tidak berpuasa karena saya berangkat sebelum sahur dari rumah. Ya, rupanya Lan Fang telah menyiapkan makan siang untuk saya. Masalahnya adalah: pada saat itu saya sedang bersama Aziz dan Hanif yang tentu tidak mungkin berbuka di siang bolong itu. Mereka berdua penduduk lokal Surabaya. Tentunya, mereka tidak meiliki alasan rukhsoh untuk melakukannya.

Sebelum kami bicara panjang, agak terpisah, saya bicara kepada Lan Fang.

“Begini, Ce. Saya tidak mungkin makan siang. Paham, kan?”

Lan Fang tersenyum dan mengangguk

“Sebetulnya, saya bisa saja mukah (buka) dan makan sekarang juga. Tapi, mereka berdua itu teman saya, Hanif dan Aziz, tidak mungkin melakukannya juga,” imbuh saya memberikan penjelasan.

“Oh, ya? Tidak apa-apa,” katanya. “Enjoy saja..” tambahnya serta-merta ketawa.

Kiranya, Lan Fang sudah cukup paham pada penjelasan saya di atas, bahwa aturan mainnya adalah: bagi seorang muslim, diberikan rabat untuk buka puasa di siang bolong bagi mereka yang begini-begini, tetapi tidak boleh bagi yang begitu-begitu. Lan Fang mengangguk-angguk, seperti sudah sangat paham atas penjelasan saya.

Sungguh, sebetulnya bahan percakapan sudah habis dalam dua jam. Namun, apa daya, hidangan sudah terlanjur disiapkan dan saya ingin hidangan itu tetap saya makan. Bagaimana cara? Tidak ada pilihan lain kecuali bermain-main di kotak penalti, mengulur waktu sampai peluit panjang dibunyikan, yaitu saat adzan berkumandang.

Kami benar-benar ngobrol makan angin tanpa secuil hidangan apa-apa. Bahkan, tuan rumah juga tidak ngemil apa-apa, tidak minum apa-apa, selama kurang lebih 4,5 jam lamanya. Sampai akhirnya adzan Maghrib terdengar dari sebuah speaker masjid yang tak jauh dari tempat itu, kami pun menyantap sop dan ayam bakar hasil masakan koki Lan Fang yang baru, dari Sampang. Hidangan penutupnya adalah es buah. Suasana Maghrib itu jadilah segar. Senyum sumringah terpancar dari semua wajah.

Betul, tidak lama setelah kami makan, bersama Aziz dan Hanif, saya langsung pamit mohon diri. Kami pergi menuju Lidah Wetan untuk mendatangi kost teman di sana. Rencananya saya akan menghadiri diskusi sastra yang tak begitu serius, yang akan dilaksanakan nanti setelah shalat Isya’ dan tarawih. Dalam perjalanan, di atas sadel sepeda motor, saya berpikir dan berusaha mengingat-ingat apa saja tema pembicaraan menunggu Maghrib itu. Sepertinya ada sesuatu yang lupa saya katakan. Entahlah, saya tetap tak bisa mengingatnya hingga sekarang, hingga Lan Fang pergi dan tak kembali, dan semua yang saya ceritakan di atas tak mungkin terulang karena telah menjadi kenangan.

Gambar

Kunjungan Lan Fang pertama kali ke tempat saya di Guluk-Guluk (lokasi, perpustakaan Madaris 3 Annuqayah). Baca berita foto di sini: http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2010/08/workshop-kepenulisan-awali-semangat.html

 

Iklan

3 thoughts on “Bertandang ke Rumah Lan Fang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s