Pir-Piran (Festival Rakyat Bandaran-Tanjung)

Lama sudah saya mendengar istilah “Pir-Piran” ini, sebuah acara rakyat dan tentu bersifat massal. Pir-piran hanya dapat dijumpai di desa Bandaran dan Tanjung. Kedua daerah ini merupakan desa-kecamatan yang berada di tapal batas kabupaten Pamekasan dan Sampang, di jalur selatan pulau Madura. Di sana, terbentang jalan akses utama menuju kota Surabaya.

f5545344

f5552064 

Bermodal penasaran karena hanya mendengar orang bicara dari mulut ke mulut, akhirnya, pada keesokan Hari Raya Ketupat, saya datang ke Bandaran hanya untuk melihat langsung acara ini lebih jauh. Dengan begitu, kiranya saya akan mendapatkan informasi yang valid, langsung dengan mata kepala sendiri, bukan melalui “kata si empunya cerita” yang selama ini cenderung minor.

Sepintas, terutama bagi para pengendara yang kebetulan lewat, pir-piran ini jelas sangat mengganggu arus lalu lintas. Pir-piran dapat memacetkan jalan hingga berjam-jam. Karena itu, mereka yang sudah tahu jadwal pir-piran seperti yang disebutkan di atas, pasti akan berusaha untuk tidak melintasi jalan Bandaran-Tanjung pada kisaran pukul 3 sore hinggal Maghrib setiap keesokan hari raya. Tapi, apa lacur bagi mereka yang tidak tahu?

Ahmad Mulki Fawi, tokoh pemuda setempat yang rencananya akan saya korek informasinya untuk data ini, sedang tidak di tempat ketika saya tiba di Bandaran. Informan dialihkan kepada kemenakannya, Sofyan Khalili, salah seorang pemuda, yang pada akhirnya menemani saya menonton acara “festival rakyat” ini. Menurutnya, acara ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Ia mengakut tidak tahu pasti kapan pertama kali kegiatan ini dilaksanakan.

Awalnya, saya menduga kata “pir” ini berasal dari kata per atau pegas. Ternyata, menurut Sofyan, pir-Piran berasal dari kata “pir”, yaitu kendaraan roda dua yang dihela oleh seekor kuda, mirip dokar, namun pir dicirikan dengan roda belakang yang sangat besar. Saya tidak pernah melihat jenis alat transportasi zaman dulu tersebut. Saya hanya mencoba membayangkannya saja. Konon, di atas roda pir itu terdapat tempat duduk yang berupa balai-balai. Karena posisinya yang berada di atas roda maka orang yang duduk di atas pir mengesankan wibawa. Posisinya demikian tinggi dari permukaan bumi.

Apabila kita mendengar istilah “pir-piran” sekarang, maka istilah itu mengacu pada kegiatan lalu-lalang atau ulang-alik masyarakat dari Tanjung ke Bandaran dan atau sebaliknya. Dulu, mereka menggunakan alat transportasi bernama pir. Sekarang mereka menggunakan becak, atau odong-odong, atau sepeda motor.

Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan merupakan peninggalan nenek-moyang. Kenapa mereka hilir mudik? Masyarakat Bandaran-Tanjung itu pergi bersilaturrahmi ke sanak kerabat. Lazim diketahui, bahwa masyarakat kedua desa ini umumnya menikah dengan sesama tetangga. Bukti nyata dari hal ini adalah banyaknya jumlah penduduk di kedua desa itu. Pemukiman di sana sangat padat. Karena hanya menikah dengan sesama tentangga, maka dari itu, jika masyarakat setempat berlebaran atau bersilaturrahmi di hari raya tidak perlu menggunakan kendaran angkutan umum jarak jauh, seperti mobil atau bis. Mereka bersilaturrahmi dan “main tellas” (saling bertandang di hari lebaran) cukup dengan pir saja. Begiutlah asal muasal ceritanya.

Pir-piran berlangsung 3 kali setahun, tepatnya “setiap keesokan hari raya”, yaitu keesokan Hari Raya Idul Fitri; keesokan Hari Raya Ketupat (hari raya ketujuh setelah Idul Fitri), dan keesokan Idul Adha. Pi-Piran yang terakhir inilah yang paling besar karena dianggap sebagai “main tellas” terakhir dari serangkaian ketiga hari raya itu.

Lama kelamaan, jumlah pir mulai menyusut dan digantikan oleh dokar, lalu tergantikan oleh becak, lalu sekarang digantikan oleh sepeda motor. Ya, sekarang, pir sudah punah. Bahkan, ada pula masyarakat yang menggunakan gerobak motor bermesin buatan Cina.

Kebiasaan lain yang saya amati adalah bahwa para pengunjung yang ada di di sana menggunakan pakakain terbaik, layaknya hari raya. Sebagaian perempuannya bahkan mengenakan gelang-gelang emas begitu banyak. Kalung dan cincin pun tak ketinggalan. Mereka mengenakan pakaian baru dan meriah. Sepintas, pir-piran mirip fashion show raksasa dengan bentangan aspal sebagai cat walk-nya.

Senin itu, tidak ada penampakan truk yang mengangkut sound system dengan pemuda-pemuda bertelanjang data yang berjoget dan menari di atasnya, seperti tampak pada tahun lalu. Petugas melarang hal ini terjadi lagi karena betul-betul memacetkan jalan secara total. Perangkat pengeras suara tetap digunakan kala itu, hanya saja dipasang di kanan-kiri jalan raya. Orang-orang berjoget di sekitar sound system itu, sambil menyaksikan orang yang berlalu lalang.

* * *

Pada pukul 17:14, sebuah mobil polisi melintas. Dari speakernya, terdengar woro-woro, “Ampon, tore enggi. Paleman ampon! Persiapan shalat Maghrib. Sae, se ashalat-a Maghrib.” (“Sudah, cukup. Mari pulang untuk bersiap-siap shalat Maghrib”).

Kurang dari 5 menit, perubahan drastis terjadi. Lalu lintas jalan raya mulai berkurang.. Becak, mobil, sepeda motor, makin jarang terlihat. Arus lalu lintas tidak tersendat lagi, lancar. Kiranya,  masyarakat benar-benar pergi dari lokasi dan pulang ke rumah masing-masing karena sebentar lagi azan Maghrib akan berkumandang.

Saya pun pamit kepada Sofyan. Saya mencegat sebuah mobil angkutan umum yang penuh sesak dengan penumpang. Saya pulang dalam keadaan senang karena jika tidak diniatkan secara khusus, saya tidak akan pernah melihat peristiwa pir-piran seperti sore itu. Dan juga mungkin tidak tahu apa sebetulnya yang menjadi alasan orang-orang melakukan tradisi ini sampai sekarang.

Banyak orang mengeluh karena setiap keesokan hari raya, jalan raya Bandaran-Tanjung pasti macet, syukur-syukur jika hanya tersendat. Lima tahun silam saya pernah mengalaminya. Di kota Sampang, arus lalu lintas dari arah Surabaya dialiahkan ke daerah Omben untuk tujuan timur (Pamekasan, Sumenep) karena khawatir pelalu lintas terjebak macet disebabkan oleh pir-piran.

Maka, sekarang ada pertanyaan: jika terjadi kemacetan oleh sebab pir-piran, sejatinya, siapa yang salah? Mereka melakukan kegiatan lama mereka, masih seperti dulu, di jalan yang sama, di tempat yang sama. Sekarang, orang-orang yang datang dari masa kini, dengan semua jenis produk teknologi, berupa sepeda motor dan mobil, memacetkan jalan raya dan latnas menyalahkan tradisi itu.

Dalam perjalanan pulang, saya mulai sadar, bahwa pada zaman dahulu, orang melakukan pir-piran sebagai bentuk kegiatan silaturrahmi yang wajar. Tidak ada jalan macet karena lalu lintas juga tidak padat. Lalu, belakangan, jumlah kendaraan terus bertambah tetapi jalan tidak semakin lebar. Inden mobil dan motor terus membengkak dan jalan tidak semakin panjang. Terbukti, pejalan kaki yang lebih tua usianya daripada pengendara sepeda motor dan mobil, ketika jalan beraspal mulai dibangun, mereka harus tersingkir. Teknologi dan modernitas terkadang begitu arogan dalam menghargai dan menyikapi tradisi.

Azan Maghrib berkumandang. Tak lama setelah itu, saya turun di pertigaan Silur, Larangan Tokol, untuk menuju Sumber Anyar.

 

Iklan

4 thoughts on “Pir-Piran (Festival Rakyat Bandaran-Tanjung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s