Tiga Hari untuk Silaturrahmi

Seringkali, kita berkunjung ke rumah seseorang nun jauh itu karena alasan menghadiri undangan pernikahan dan takziyah. Lainnya adalah kunjungan dalam rangka ini dan itu, seperti bertamu untuk berhutang, menghadiri pertunangan, atau lainnya. Berkunjung hanya semata-hata silaturrahmi, yaitu pergi berkunjung karena memang ingin berkunjung, sudah mulai jarang dilakukan. Maklum, orang-orang pada sibuk sekarang.

Maka, beruntung sekali saya manakala mendapatkan undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan Om Ahmadul Faqih Mahfudz (dengan istrinya, Astri Nihayah) di kediamannya, di Bali. Meskipun kunjungan yang pertama ini bukan kategori “semata-mata silaturrahmi” melainkan “silaturrahmi dalam rangka”, tak apalah. Tanpa undangan ini, belum terbayang saya akan segera tiba di PP Sunan Kalijaga, Sumberwangi, desa Pemuteran, kecamatan Gerokrak, kabupaten Buleleng tersebut. Mumpung saya memiliki semua syarat silaturrahmi (sehat, sempat, dana), saya tunaikan perjalanan ini.

Ini adalah perjalanan ke Bali untuk yang ketiga kalinya tetapi yang pertama yang ditempuh lewat jalur darat, dari Madura. Karena undangan ini sudah saya terima berbulan-bulan sebelumnya via SMS (dan sekitar sebulan lalu melalui surat), maka jauh hari sebelumya saya sudah mempersiapkan diri untuk perjalanan ini, seperti mengatur jadwal ini dan itu, menabung, dan merencanakan hal-hal lainnya.

Perjalanan ditempuh dengan mobil APV sewaan. Saya ditemani seorang sopir yang kebetulan sepupu dua kali (kakek kami bersaudara), ibu, istri, seorang balita, dan pembantu umum.  Perjalanan dimulai hari Kamis pagi, bertepatan dengan 1 Muharram 1438 atau 21 September 2017. Sebetulnya, yang diundang ke acara itu cuma saya, ibu tidak. Sebab itulah, kira-kira 3 hari sebelum berangkat, lebih dulu saya pamit kepada tuan rumah bahwa saya akan datang bersama Ibu. Ini penting dipermaklumkan karena hukum menghadiri walimah itu wajib dan kita terlarang datang jika memang tidak diundang (tatofful) sebab ia termasuk tindakan terlarang.

Sudah sejak lama, kami—tepatnya Ibu—menyimpan keinginan untuk berkunjung dan beranjangsana, pergi ke beberapa tempat di Jawa, khususnya area Jember dan sekitarnya. Nah, kebetulan sekali saya dapat undangan ke Bali, maka “disekaliankan”-lah: Ibarat sekali ngegas, tiga-lima tujuan terlampaui. Demikian tajuk perjalanan kami kali ini. Tentu saya capek kalau harus menceritakan detil perjalanan karena saya terlau sering menulis yang begini-begini. Saya hanya akan mendata orang dan tempat tujuan yang disambangi, termasuk  dalam rangka walimah, takziyah, dan silaturrahmi.

“Zi, cari warung dulu, kasihan ini Warid,” perintah ibu.

“Wah, bagaimana kalau di Sidoarjo saja?” Saya mengajukan penawaran.

“Jangan, takut terlalu lapar.”

Akhirnya, kami pun membeli nasi di Warung Jawa, depan SPBU Tanah Merah. Namun, ternyata, Warid tak makan juga. Nasinya dibungkus dan hendak dimakan nanti, katanya. Istri saya hanya membeli untuk mendulang anak kami di atas mobil yang berjalan.

Pertama, cicip bakso Cak To di Sidoarjo. Demi bakso, saya tahan perut tetap keroncongan sejak tadi. Di Bangkalan saya pun bertahan tidak makan. Beruntung sekali perjalanan etape perdana ini lancar, baik kala melewati 4 jembatan di Madura yang sedang diperbaiki, maupun saat membelah kepadatan arus lalu lintas di Jalan Kenjeran, sehingga kami tiba di lokasi pada pukul 2 siang, saat lapar-laparnya.

Sejujurnya, rencana ini dadakan. Sebelumnya, Lia Zen, sang pemilik, sudah beberapa kali laga kandang (home) ke rumah saya, pernah mengundang Ibu dan istri main ke sana, bahkan pernah mengundang saya untuk menghadiri acara khitanan putranya. Namun, semua tinggal rencana, tak terlaksana. Saya pikir, inilah saat yang tepat untuk menjalani laga tandangnya (away).

Lokasi tujuan terletak di sebelah barat alun-alun Sidoarjo. Akses ke tempat ini sangat mudah: tinggal keluar dari Tol Perak-Gempol di pintu Keluar-Sidoarjo. Begitu bertemu lampu merah, ambil lajur kiri dan kita bisa langsung masuk ke halamannya. Pulangnya juga begitu, tinggal mengitari bundaran lalu kembali masuk tol. Alhamdulillah, siang itu kami bisa sua dengan Lia Zen, si juragan, pendiri Jungkir Balik, dan salah satu Duta Kopi Indonesia 2016.

Kedua, perjalanan melelahkan sejauh hampir 400-an kilometer di babak pertama ini kami akhiri di Sukorejo. Sempat pula kami makan di sebuah warung di area Pajarakan, sebelah timur kota Probolinggo, dipaksa berhenti karena energi yang diolah dari tenaga pentol tadi tampaknya sudah melorot ke bawah perut. Kami numpang nginap di rumah Mbakyu Aisiyah. Sembari membiarkan istri, ibu, dan anak saya istirahat di sana, saya bertandang ke rumah Mukhlis, ambil bonus silaturrahmi, yang letaknya di barat daya Masjid Asembagus. Ngobrol asyik tanpa tema membuat saya kelupaan hingga akhirnya pulang larut, lewat pukul 2 menjelang pagi.

Sebetulnya, rencana menginap di Sukorejo ini terbilang mendadak, direncanakan sambil jalan. Ia merupakan pengganti rencana sebelumnya, berkunjung ke PP Badridduja di Kraksaan yang gagal karena tuan rumah sedang ada di Malang, padahal rencana ini sudah lama diatur. Entah mengapa, dalam tiga kali rencana, saya gagal terus untuk ketemuan. Yah, mau apa dikata, terima saja, rugi kalau sampai ‘baper’ hanya untuk urusan seperti ini.

Ke Bali, Kembali

SAMSUNG

Nostalgia, fery Pottre Koneng yang dulu biasa kami naiki dalam penyeberangan Ujung-Kamal, sekarang ada di rute Gilimanuk-Ketapang

Ketiga, acara inti, perjalanan ke Bali. Setiap kali saya menginap di rumah kerabat terus berencana pamit sepagi mungkin karena alasan berhemat waktu, nyaris saja selalu gagal. Pasti saya ditahan pergi sebelum sarapkan disiapkan. Satu-dua ada, sih, ada yang memberikan izin karena alasan saya untuk segera pergi masih lebih kuat daripada keinginan tuan rumah untuk memberikan penghormatan. Nah, begitu pula yang terjadi pagi ini. Kebetulan, ini adalah yang pertama bagi ibu: berkunjung ke rumah Mbak Aisiyah. Makanya, ‘upacara kecil’ harus dilakoni semua: ngopi, mandi, makan, dan baru dapat izin pergi.

Setelah menempuh perjalanan hampir 100 menit, kami tiba di Pelabuhan Ketapang lalu masuk kapal pukul 9 WIB. Antri tidak lama, kami masuk ke dermaga. Dalam pada itu, adik saya di Madura, mengirim nomor Mas Taqwim, salah satu saudara jauh saya yang jadi mualim namun sama sekali kami belum pernah berjumpa. Sayangnya, saya tidak mikir itu dulu, sebab datang secepat mungkin dan segera sampai di Bali dalam keadaan tidak terlambat adalah yang paling penting. Ya, saya ingat, ini adalah tujuan utama.

Hamdalah, pagi itu, laut tenang. Antrian juga tidak ada. Dan beruntung kami bawa KTP sebab ternyata ada pemeriksaan di pintu keluar. Pemandangna ini sama sekali berbeda dengan yang saya lihat di dermaga Kamal ataupun di Kalianget. Konon, pemeriksaan identitas dilakukan sejak terjadinya Bom Bali.

Ambil jalur kanan di pintu keluar, mobil mengarah ke Singaraja. Trek yang kami lewati adalah Taman Nasional Bali sisi barat. Jalannya lurus dan bagus. Tidak ada satu pun penampakan rumah penduduk. Hanya barisan kayu-kayu yang berdiri, tidak teratur, dan ujung-ujung atas terkadang tampak saling berangkulan. Beberapa bagian berkontur tanah yang tidak rata yang akan membuat kejutan kecil bagi mobil kecil tapi tidak bakal berasa untuk mobil besar, seperti bis. Baru setelah menempuh perjalanan kira-kira 20 kilometer, tampak ada keramaian. Rupanya, ia akses ke tempat wisata Gili Menjangan.

Hari ini, saya datang ke Bali untuk yang ketiga kali selama 9 tahun terakhir. Sangat beruntung karena hari ini pula saya dapat kesempatan pertama untuk salat Jumat di sana, di lingkungan komunitas Hindu, di desa yang penduduk muslimnya hanya kurang dari 30%. Kami datang tidak langsung ke lokasi karena jam masih menunjuk jelang pukul 12 WITA sedangkan undangan pukul 14.00. Saya ambil bonus dulu, mampir melipir ke rumah Rofiqi dan Kafiyatun (kemenakan mempelai) yang lokasinya kurang lebih 2 km dari lokasi acara.

SAMSUNGRumah mereka tepat berada di pinggir jalan. Ancer-ancernya adalah masjid pertama kalau dari arah Gilimanuk, Masjid Nurul Hikmah namanya, satu komplek dengan lembaga pendidikan Nurul Jadid, Pemuteran. Kabarnya, banyak komunitas “Madura Kepulauan” di sana, seperti yang berasal Sepudi dan Raas, dua pulau di kabupaten Sumenep. Konon, saat ini, desa Pemuteran disulap jadi desa wisata. Unggulannya adalah snorkeling dan diving (entah mengapa terkadang kita merasa minder untuk menggunakan kata ‘menyelam’).

Acara walimah dimulai pukul 14.12 WITA, hanya telat 12 menit dari yang tertera di surat undangan. Salah satu materi acara tasyakuran ini adalah sambutan wali sekaligus pesan-pesan bijak yang disampaikan oleh KH Imam Qusyairi Syam dari Situbondo (Malamnya konon juga begitu. Saya tidak tahu karena langsung pulang setelah acara). Jadi, “acara hiburan”-nya adalah ceramah keagamaan, bukan dangdutan dan/atau lainnya. Penceramahnya juga Kiai Qusyai dan Kiai Kuswaidi. Sungguh, berasa unik acara ini karena berlangsung di Bali.

21617472_1989238631320828_1382044698973462243_n

Foto oleh Misrawi via Ahmadul Faqih

Dalam pada kesempatan siang itu, Kiai Qusyai berpesan, ditujukan terutama kepada kedua mempelai namun sebetulnya layak untuk direnungkan bersama. Pesan beliau, di zaman akhir ini, hal yang mulai jarang adalah adanya “taufiq” (petunjuk dari Allah). Banyak kita lihat, bahkan di kalangan orang Islam sendiri, orang-orang dianugerahi kemampuan, kekayaan, kesehatan, namun semua itu justru digunakan untuk melawan Allah. Ibarat pengemis yang diberi makan, diberi pakaian, diberi pekerjaan, lalu setelah mapan, energinya digunakan untuk membentak-bentak dan menentang sang dermawan. Ibarat pepatah, bagai kacang melupakan tanah.

Beliau mengaku senang karena walimah diberlangsungkan di hari Jumat, hari yang diutamakan di dalam Islam. Dan cara ini, menurutnya, termasuk “sunnah mahjurah”, sunnah-sunnah Nabi yang mulai ditinggalkan. Bagaimana sebuah proses itu bisa terjadi dan berlangsung? Hal itu disebabkan tak lain oleh transformasi nilai-nilai dari leluri leluhur yang dirawat dan dijaga. Kiai Qusyai lalu mengutip qaul Imam Malik dalam pengantar kitab Muwattha’: “Suatu generasi itu tidak akan menjadi baik kecuali mau meneladan lalampan (istilah Kiai Qusyai untuk hal-ihwal, tradisi, dan tindak tanduk leluhur) orangtua mereka”. Kiai Qusyai lantas segera menyusulkan “catatan kaki” bahwa yang dimaksud ‘orangtua’ di sana adalah ayah, mertua, dan guru/kiai.

Saya tidak rajin menghadiri pengajian, tapi merasa harus meluangkan waktu untuk mendengarkan pengajian. Untuk ini, yang dibutuhkan bukan hanya waktu, melainkan juga kerendahhatian, kesabaran, dan kesiapan. Masyarakat sekarang sudah pada pintar, banyak yang tahu, makanya kadang mereka malas duduk di majlis ilmu dan mendengarkan ceramah. Bukankah kita selalu membutuhkan orang lain untuk meniup debu dan jerebu yang masuk ke balik kelopak mata karena tidak bisa meniup sendiri? Penceramah itu sumber jika Anda sedang haus dan juga pengingat jika Anda sudah merasa tahu sebab kita selalu susah untuk mengingatkan diri-sendiri.

Sehabis acara, kami langsung pamit pulang karena masih ada rencana menginap di Glenmore, di rumah sepupu saya. Tinggal satu hari tersisa, Sabtu, untuk menunaikan banyak tugas bersilaturrahmi. Makanya, kami tak bisa bermalam lagi di Bali.

SAMSUNG

Sore menjelang petang itu, kami naik KMP Nusamakmur, beda dengan saat berangkat (KMP Satya Kencana II). Sebelum menyeberang, kami sudah terjalin kontk dengan Mas Taqwim dan beliau meminta kami menyeberang selepas maghrib.

“Bagaimana ini, Bu, kita diminta menyeberang sesudah Maghrib agar bisa bertemu.”

“Aduh, jangan. Lain waktu saja. Aku taku laut gelap,” begitu jawaban dari Ibu dan saya menyampaikannya.

Benar, sore menjelang petang itu, kira-kira pukul 17.00 WITA, kami mulai menyeberang. Laut yang biru dan bersih masih tampak tenang. Namun, situasi berubah saat kapal sudah melewati batas tengah. Tiba-tiba, mobil bergoyang-goyang. Ibu dan istri ketakutan. Mereka tegang, merapal bacaan-bacaan. Saya naik ke dek, berbicara dengan seorang kenek truk.

“Kalau malam nanti, gelombangnya akan makin besar,” kata dia yang mengaku berasal dari Singaraja dan ulang-alik penyeberangan untuk mengangkut kaca.

“Kalau yang tempo hari tenggelam itu di sekitar mana?” tanya saya.

“Di situ,” ia menunjuk, “sudah dekat dermaga.”

Sebetulnya, Mas Taqwim sedang dinas hari ini, hanya saja siang tadi dia turun di Ketapang dan mau naik lagi selepas Maghrib. Karena sudah tidak bisa, maka akhirnya kami memilih bertemu di dermaga Ketapang saja. Saya pun kasih tahu ciri-ciri mobil kami berikut plat nomornya. Singkat cerita, begitu kapal Nusamakmur sandar, kami mendarat dengan selamat pada saat maghrib baru saja turun. Hamdalah, kami bertemu Mas Taqwim dan beliau mempersilakan kami menginap di rumahnya. Kami berterima kasih. “Lain kali, semoga,” kata saya. Pertemuan yang singkat itu tetaplah mengesankan. Kami langsung bergerak menuju Gelnmore dan Mas Taqwim juga segera bersiap naik ke Prathita IV yang baru saja sandar.

21640928_1445282085525210_7417108784790414025_o

foto oleh Taqwim via Nabilah Fayshal

Kurang dari dua jam lamanya kami menempuh perjalanan dari Ketapang ke Glenmore. Lepas Isya barulah kami sampai. Di hari  Jumat ini, hari kedua, kami menunaikan kunjungan keempat, yaitu silaturrahmi ke rumah sepupu sekaligus numpang menginap. Masih begitu, saya ambil bonus, takziyah ke rumah Mugimin, malam itu juga. Rumahnya berada di tengah hutan, namun tak jauh dari PP Majlisus Sa’adah, tempat kami mengingap. Dulu, dia tinggal bersama kami. Kini, dia kembali ke rumahnya dan bekerja sebagai penjaga kebun cokelat milik Perhutani, di Wadung Pal. Beberapa waktu lalu, anaknya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.

Hari terakhir, Sabtu, jatah kami sewa mobil, adalah menuntaskan banyak kunjungan dengan jatah waktu tersedia hanya satu hari saja. Maka dari itu, sepagi mungkin kami sudah berniat meninggalkan lokasi, tapi seperti yang sudah-sudah, nasibnya sama seperti kemarin, tidak segera bisa karena tuan rumah masih menjamu makan.

Baru pukul 07.30 kami bisa bergerak, menembus Mrawan, alas Gumitir, dan tiba di Kertonegoro, sebuah desa sekitar 6 kilometer di selatan Kecamatan Jenggawah, berbatas dengan kecamatan Ambulu. Kunjungan kelima ini adalah takziyah ke mendiang Kiai Nur, menantu Kiai Munir Kemuning, yang wafat 12 hari lalu. Yang menerima kami adalah Abdul Hamid, putranya.

Setelah basa-basi dan seterusnya, ngopi dan seterusnya, makan dan seterusnya, kami izin pulang. Namun, ibu saya ternyata punya rencana tambahan, yaitu pergi ke Cangkring, ke ponpes  Madinatul Ulum. Sungguh tak dinyana, kejutan bertambah. Saya bertemu dengan Imdad Fahmi Azizi yang ternyata merupakan menantu Kiai Lufti, pengasuhnya. Dan ini menjadi kunjungan keenam di hari ketiga.

“Kalau ke Krai, ada jalan pintas?” tanya saya kepada Imdad.

“Ada, Mas.”

“Tolong saya dikasih ancer-ancer.”

“Oh, tidak usah. Biar nanti diantar sampai di jalan itu. Jalannya masih baru aspalnya, bagus.”

Dari Cangkring, seorang santri membimbing kami ke jalan akses dimaksud. Memang, saya tidak yakin kalau saja perjalanan dari Jenggawah ke Krai itu harus kembali dulu ke Mangli, lalu ke Rambipuji, dan menempuh jalan yang biasa. “Pasti ada jalan tembusnya,” firasat saya begitu. Kalau kembali ke Mangli, maka rute ini tidak masuk akal. Mungkin bakal ada sekitar 25 kilometer jarak yang terbuang percuma. Saya memang tidak punya ponsel yang memiliki aplikasi peta digital. Sebab itulah saya harus memanfaatkan “GPS yang lain”, yaitu Gunakan Penduduk Setempat (untuk bertanya).

Sebetulnya, masih ada beberapa kunjungan yang sayangnya tidak dapat dilakukan hari ini. Sudah diputuskan, hari ini adalah hari terakhir kami melakukan perjalanan. Jatah sewa mobil cukup untuk tiga hari saja (Rp 750.000), males kalau nambah sehari lagi dan sewa jadi 1 juta, mending buat subsidi BBM yang ditaksir habis 600.000, kurang lebihnya tak seberapa.

Sementara itu, kami masih “diteror” terus oleh Kak Mustofa yang ada di Kraksaan, semacam “pokoknya harus mampir” dan/atau sejenisnya. Saya bingung karena posisi sudah di Lumajang. Waduh, bagaimana ini?

Sepulang dari Cangkring, kami belok kiri di Jenggawah, mengikuti arah yang tadi kami lalui. Namun, sebelum mencapai Kertonegoro, mobil saya diarahkan ke kanan, menembus jalan kecil namun bagus, yang konon bakal terhubung ke akses Balung. Santri pemandu saya hentikan dan saya beri penjelasan bahwa saya sudah paham jalannya. Dia kembali, kami lanjutkan perjalanan.

Sekitar 10-an kilometer mungkin (saya lupa tidak cek odometer), kami tiba di Balung, sebuah kecamatan di Jember bagian selatan. Lalu, sesuai petunjuk, kami ambil kiri setelah jembatan, ikut jalan ke arah Kasiyan. Di Kasiyan Timur, kami ambil kanan sesuai tengara besar di jalan, menuju  Gumukmas, kanan lagi menuju Kencong, Jombang (ini Jombang yang di Jember, lho, bukan kabupaten yang di sebalah baratnya Mojokerto itu), dan barulah kami tiba di Yosowilangun.

Kami ambil kanan di pertigaan Yoso, mengarah ke Krai, PP Bustanul Ulum. Tujuannya adalah takziyah ke rumah Pamanda Baqis yang putranya wafat tempo hari. Pamanda sedang tidak di rumah, belum pulang dari Makkah. Kami diterima putra beliau yang lain, Ubaid. Paman-paman yang lain sedang tidak di rumah pula, tapi saya sudah berjumpa mereka di Bali, kemarin.

Hari mulai sore ketika kami pamit pulang, pukul 15.40, mengakhiri kunjungan yang ketujuh. Saya tanya-tanya lagi. Kesimpulannya: jalan pintas yang harus ditempuh bukanlah jalan yang tadi, melainkan jalan menuju Kunir. Empat kilometer dari Krai, kami tiba di SMP Kunir, belok kanan, menembus jalan kolektor sejauh 8 km hingga nongol di Tukum/Tekung. Dari situ, nambah lagi 7 km ke arah utara, melewati jalan akses yang relatif baru, hingga alan kami tiba di percabangan Jalan Nasional Lumajang-Jember”, maju lagi sedikit, nembus lagi jalan pintas ke ke arah Klakah supaya kami tidak perlu lewat Wonorejo. Demikianlah, jalan tembus-menembus ini lumayan hemat jarak dan memangkas waktu.

Sedianya, saya masih ingin mampir di Klakah, tapi hari sudah mulai petang. Saya khawatir, acara akan berubah lagi dan skenario perjalanan harus disusun ulang. Kak Mustofa yang di Kraksaan itu sudah telpantelpon melulu.

Setelah melewati Ranuyoso, melintasi perbatasan kabupaten Lumajang-Probolinggo, jalan menurun, perlintasan kereta api, nambah 1 kilometer lagi, tibalah kami di sebuah jalan menikung dan pertigaan Malasan. Menurut panduan kawan Adnan yang pedagang sapi dan biasa masuk ke pelosok desa, kami ambil kanan di sana, ikuti jalan kolektor.

Laksanakan, Ndan!

Di zaman digital ini, kita sudah punya satelit yang dapat mengetahui rute tersingkat. Dengannya, kita bahkan juga tahu kepadatan arus lalu lintas. Kita cukup bertanya kepadanya dan dia akan menjawab lengkap, melebihi yang kita mau. Namun begitu, adanya aplikasi semacam bukan tanpa dampak buruk. Salah satunya keburukannya adalah semakin sedikitnya kesempatan kita untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Kata pepatahnya pun sudah berubah, dari “malu bertanya, sesat di jalan” ke “malu bertanya, pakailah GPS”.

Dari Malasan ke Klenang, 10 kilometer jauhnya, kami menyusuri jalan yang bersisian dengan sungai. Jalannya sepi tapi lali lintas padat merayap. Entah memang begitu atau ini karena malam Minggu. Sepertinya, jalan ini dijadikan jalan pintas oleh orang Klakah dan Lumajang yang hendak pergi ke Kraksaan atau Besuki, begitu pula sebaliknya.

Dari Klenang, kami belok kiri, nambah 8 km lagi untuk muncul Gending sehingga kami tiba kembali di “Jalan Nasional Probolinggo-Situbondo”. Dari situlah kami menuju ke arah timur, menuju Kraksaan demi menutup kunjungan yang terakhir, yang kedelapan, di hari ketiga.

Sehabis ngopi-ngopi, makan, istirahat, kami pun pamit pulang. Memang, acara terakhir ini murni silaturrahmi, sebentuk “bayar hutang” saya karena beberapa kali berjanji dan tidak terlaksana.

“Bagaimana, Rid? Masih kuat?” tanya saya ketika semua penumpang sudah masuk ke dalam kabin dan mesin sudah menyala. Warid hanya tersenyum, seperti biasanya.

Selama kamu tidak mengaku lelah, maka saya tidak akan menggantikan nyopir,” kata saya kepada Warid yang dijawab dengan segera memasukkan gigi persneling ke angka satu sehingga Suzuki APV itu bergerak, menimbulkan bunyi tanah berpasir yang terlindas roda-rodanya.

Sempat terlintas dalam pikiran untuk ngopi dulu di kedai kopi Jungkir Balik, Sidoarjo, tapi saya ingat sopir itu, yang mengemudi sesiang penuh dan harus tetap ajeg di belakang stir semalam suntuk. Belum lagi acara mampir di Pondok Pesantren Sidogiri pada pukul 22.40 sekadar untuk mengunjungi Solihin, mengambil naskah majalah dan titip buku, pastilah itu makin menguras tenaganya.

Hanya sesekali melek yang saya lakukan, selebihnya bobo manis di kursi kiri depan seperti seorang juragan. Saya tahu ketika mobil kami lewat Sidotopo; juga saat mengisi BBM di Jalan Kenjeran, juga saat melintasi Suramadu dan melihat kerumunan orang yang rupanya ada kebakaran kabel PLN. Selebihnya saya tidak melihat apa-apa kecuali beberapa saat menjelang tiba di rumah.

Tepat pukul 03.00 pagi, sampailah kami di halaman, pulang kembali dalam keadaan utuh. Semoga perjalanan ini dinilai ibadah karena demi memenuhi undangan walimah, silaturrahmi, juga takziyah. Segera saya ke dapur, bikin kopi, agar tak tertidur sebab hari sudah menjelang Subuh. Dan baru sehirup-dua hirup, berkumandanglah qiraah di masjid jamik, melantunkan 10 ayat terakhir Surah Ali Imron, ayat-ayat yang konon didawamkan oleh Kiai Ilyas, dibaca setelah bangun tidur. Namun, yah, begitulah. Seperti kata Kiai Qusyai kemarin siang, rasanya ia telah menjadi “sunnah mahjurah”, amalan ringan yang berpahala namun mulai dilupa.

 

Iklan

Mengitari Madura

Hari ini penuh kejutan. Banyak alasan untuk meneguhkan pernyataan dimaksud. Biar saya ceritakan sebagiannya saja.

Perjalanan kali terjadi dalam bentuk, dalam istilah orang Madura, “ter-ater bilis”, yaitu ungkapan untuk menyatakan adanya seseorang (kawan/tamu) yang berkunjung namun setelah pulang, yang dikunjungi malah ikut bersama si tamu. Dan itulah yang sedang saya alami.

Para tamu saya adalah para ‘sesepuh’: Budi, Bemo, Joseph, Rian, dan Pak Mukhlisin. Tiga yang pertama dari Surabaya, Rian dari Jakarta, Pak Mukhlisin dari Palembang. Seperti biasanya, mereka datang dengan judul silaturrahmi. Judul kekiniannya disebut touring. Mereka datang dengan anehnya, saat malam menjelang Subuh, bangun, mandi, makan, dan baru pukul 8 pagi sudah pamit mau pulang. Kok sebentar? Ya, entahlah, sudah begitu tebiat mereka.

Ketika mau berangkat, Rian menyatakan keinginannya untuk menjajal jalur utara  Pulau Madura. Hal ini muncul mungkin karena saya mengajukan dua hal: pertama, adanya perbaikan beberapa jembatan di jalur selatan yang pasti bikin arus tersendat, ditambah hari Sabtu yang dijamin macet ruwet di pasar Tanah Merah; kedua, Rian ingin melihat (sebutan kekiniannya selfie-selfie) air terjun yang katanya unik karena langsung jatuh ke laut, di daerah Ketapang: air terjun Toroan. Maka, meskipun saya bilang rencana itu akan memakan waktu lebih lama sehingga mengancam hangus tiket mereka kalau harus tiba di Gresik sebelum pukul 15.00 karena mau ikut armada PO Gunung Harta, dilakoni juga laga ini.

Mobilitas Orang Madura dan Mempertimbangkan Ulang Jalur Utara

Salah satu bukti bahwa masyarkat Madura memiliki mobilitas yang tinggi adalah terjaminnya transportasi darat selama 24 jam di jalur selatan, terutama bis. Meskipun Kalianget merupakan tujuan akhir (buntu) dan sebagian lagi armada berhenti sampai di kota Sumenep saja, namun bis-bis tetap berjalan setiap waktu, bahkan tengah malam sekalipun. Namun tidak demikian dengan jalur utara, yakni pantura Madura.

Mengapa jalur selatan lebih ramai? Semua kota kabupaten Madura itu terletak di sisi selatan pulau. Itu satu alasannya. Dugaan saya, karena alasan ini pulalah Madoera Stoomtram Maatschappij (MSM), perusahaan keretaapi Hindia Belanda membangun jaringan relnya juga di selatan, 1897.

Menurut laporan Kuntowijoyo, dengan dibangunnya jalur ini, perjalanan dari Sumenep menuju Kamal ‘hanya’ dapat ditempuh 1 hari. Itu artinya, rute ini akan ditempuh lebih lama dengan transportasi lainnya, seperti kuda atau jalan kaki. Di tahun 1929, persaingan bisnis transportasi pemerintah dengan niagawan Cina semakin kentara. Bahkan, jika dibandingan secara persiapan kendaraan (MSM juga mengelola angkutan yang bergerak di atas aspal), masih kalah banyak. Pada 1 Juli 1934, MSM membuka trayek opelet Sumenep-Tamberru dan Kalianget-Pamekasan (Kuntowijoyo, “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, 1850-1940”, Ircisod, 2017, hal. 327-334).

Setelah sepur tidak aktif lagi sejak awal 80-an, moda transportasi masyarakat berpindah sepenuhnya kepada transportasi bis dan taksi (Colt, L300, dll). Hingga awal 90-an, beberapa bis masih mengoperasikan trayek Sumenep-Surabaya lewat utara, yakni Pasongsongan, Sotabar, Ketapang, Tanjungbumi, Sepulu, Arosbaya, hingga Bangkalan dan terus ke Kamal. Namun begitu, rute ini akhirnya ditinggalkan di samping karena kelas jalan jalur utara tidak selebar jalan aspal di selatan yang saat ini masuk ketegori  “Jalan Nasional 21”.

Pelita Mas adalah armada bis terakhir yang sebagian rutenya masih menempuh jalur pantura ini di akhir 90-an. Hal ini karena garasi bis berada memang di Pasongsongan, tapi trayeknya tetaplah melewati Sumenep lebih dulu, bukan langsung ke arah barat, menuju Bangkalan dan Kamal. Pelita Mas akhirnya membekukan trayek ini seiiring dengan makin padatnya jalan dan mungkin juga terkait okupansi penumpang. Saat ini, Pelita Mas hanya ngopeni trayek Sumenep-Malang, bersaing dengan DAMRI dan AKAS AG.

Dalam dua tahun terakhir, jalur pantura Madura tampaknya dibereskan kembali. Ruas jalannya diperlebar dan aspalnya diperbarui. Sewaktu kami melintasinya pada 16 September 2017 yang lalu, hampir seluruh ruas jalan sudah bagus. Hanya ada beberapa bagian yang belum diperlebar, terutama di sisi Bangkalan.

Sebelumnya, dalam imajinasi saya, pergi ke Bangkalan lewat pantai utara Madura itu akan menghabiskan selisih jarak dan waktu yang cukup jauh dan lama dibandingkan lewat selatan, jalur yang biasa dilewati. Walhasil, dari data GPS, hingga Junok (Bangkalan), jarak tempuh dari rumah Guluk-Guluk adalah 133 km sedangkan jika lewat selatan hanya 120 km saja. Biasanya, jarak sejati lebih jauh lagi, karena odometer tetap akan menghitung jarak naik-turunnya jalan yang bergantung atas kontur tanah.

Kami menempuh jalan yang mulus, lurus, datar. Kanannya laut, kiri bukit karst. Itulah pemandangan umum di jalur pantura Madura. Pemukiman penduduk tidak sebanyak di selatan. Terkadang, jarak antar-keramaian penduduk relatif jauh. Barangkali, ini pula yang menjadi faktor mengapa transportasi di Madura bagian utara itu tidak sesemarak di jalur selatan.

Akan tetapi, bagi kami yang memang menghindari jalur selatan di kala itu karena adanya rintangan berupa pasar dan perbaikan jembatan, kondisi jalan seperti ini sangat menyenangkan. Rasanya kami sedang melintasi jalan tol di tengah malam, sepi. Bahkan, sejak berangkat dari rumah, tidak ada satupun lampu lalu lintas (lampu merah) kecuali di Arosbaya, itupun pergantiannya sangat cepat karena volume kendaraan yang sedikit.

Sejak Sotabar, jalan mulus membentang ke arah barat. Hanya ada sedikit penyempitan jalan di Sokobana. Begitu pula, jalan kembali sempit dari arah Batulenger ke barat. Sedangkan ruas jalan selepas Tanjungbumi masih menggunakan aspal lama, tidak mulus tapi juga tidak rusak.

Dalam perjalanan kali ini, kami hanya mampir satu kali, yaitu di air terjun Toroan. Acaranya hanya foto-foto, tidak lebih. Oh, ya. Di jalur pantura ini hanya ada sedikit warung makan. Memang, pada umumnya, warung makan di Madura itu banyak, terutama di area Pamekasan dan Sumenep. Masa bukanya pun tidak lama. Yang buka 24 jam apalagi, nyaris tak ada, atau kecuali hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Barangkali, sisa pengaruh petuah orangtua agar tidak suka makan di warung itu masih kuat melekat dalam tradisi masyarakat Madura. Makanya, orang lebih suka makan di rumah daripada makan di warung.

***

Kami mencapai Tangkel sekitar pukul 12.30. Kami lalu makan menu bebek di warung belut. Ya, tulisan ‘belut’-nya sangat gede di luar tapi orang-orang di warung itu ternyata pada makan bebek. Nama warungnya, entah Karomah entah Barokah, saya tidak tahu, mirip-mirip begitu, sih. Warnanya merah muda.

Rombongan ini menolak makan di Sinjay. Saya setuju keputusan ini. Kata saya, “Saya juga suka makan bebek Sinjay asalkan tidak perlu antri saat mau makan dan juga di saat mau membayar.”

Setengan jam kemudian, kami berpisah. Para tamu aneh itu melanjutkan perjalanan menuju Gresik, saya balik kanan, kembali ke Tangkel dengan berjalan kaki karena hanya berjarak kurang lebih 100 meteran dari warung tersebut.

Dan saat saya berdiri di bawah terik siang nan panas untuk menuggu bis melintas, tiba-tiba ada orang memanggil-manggil di seberang jalan. Saya tidak melihatnya, pangling, mungkin karena efek famorgana dan cuaca yang terlampau menyengat. Saya mendekat. Eh, ternyata Ramdan.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Pulang, nunggu bis.”

“Yuk, bareng saya saja. Kami bawa mobil, cuma berdua.”

“Bolehlah,” kata saya dengan cara bayar uang muka menggunakan senyuman.

Maka, akhirnya saya pun bergabung dengan mereka. Sejujurnya, uang saya di dompet memang mepet, yang andai saja saya bayarkan untuk naik patas sampai ke Prenduan, lalu bayar lagi untuk angkutan umum ke rumah, saya taksir hanya akan tersisa 10 ribu atau 15 ribu rupiah saja.

 

Tembakau dan Kopi Prancak

Tanggal 29 April 2017 lalu, saya bersama ibu dan bibi-bibi berziarah umroh ke mertua Ali Makki di dusun Billa Mabuk, desa Prancak. Tak disangka, di seberang jalan rumahnya, saya melihat ada kebun kopi. Ah, kebun kopi? Saya mendekat, ternyata benar:  kebun, sudah berupa kebun. Kalau cerita orang menanam kopi sebagai tumbuhan liar itu memang sudah banyak, tapi yang ini sudah berbentuk kebun. Artinya, pohon kopinya memang ditanam secara serius dan dikelola.

Saya tidak bertemu dengan si empunya. Tapi, kata tuan rumah, si empunya itu, Pak Taufik, sudah beberapa kali memanen biji-biji kopinya. Saya penasaran karena kopi itu cenderung beradaptasi dengan tanah dan tumbuhan sekitarnya, Nah, bagaimana rasanya kopi jika tumbuhan sekelilingnya adalah tembakau?

Selama ini, masyarakat pada umumnya mengenal nama Prancak sebagai desa penghasil tembakau terbaik untuk industri, sebagaimana mereka mengenal tembakau Desa Bakeong untuk tembakau linting (non-industri). Bahkan, “Tembakau Prancak” nyaris menjadi istilah untuk sebutan tembakau bagus, barangkali karena tanahnya yang berada di ketinggian 400-an mdpl cukup menopang pada kualitasnya. Belakangan, seiring lesunya pertanian tembakau karena harga yang terus melorot dan cenderung terobang-ambing oleh bandul (makelar tembakau sebelum masuk ke gudang tembakau) dan harga pabrikan sementara rokok terus melonjak, semakin hari semakin banyak pula orang yang mulai malas-malasan menanam tembakau, tidak seperti dulu di era 90-an. Saat ini, ada sekitar 80 hektar tanah Prancak produktif yang digunakan untuk lahan tanam tembakau.

Prancak adalah nama desa ‘terpencil’ di Kabupaten Sumenep. Istilah terpencil, meskipun saat ini kurang tepat digunakan karena aksesn ke sana sudah terbuka sedemikian luasnya, digunakan karena selama beberapa tahun, bahkan mungkin lebih dari 10 tahun, akses jalan ke desa ini hancur-lebur. Baru pada tahun 2015 jalan dibangun kembali. Ada yang bertanya, apakah ada sesuatu yang menarik di tanah Prancak atau ada hal lainnya? Semisal ada kandungan minyak bumi, emas, atau apanya? Saya tidak tahu.

Dulu, tahun 2004, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) telah melahirkan 2 anak hasil persilangan tembakau varietas Prancak-95. Dua “anak” varietas yang dapat dilepas tersebut adalah: “Prancak N-1” (Keputusan Menteri Pertanian Nomor 320/Kpts/ SR.120/5/2004) dan “Prancak N-2” (Keputusan Menteri Pertanian No-mor 321/ Kpts/SR.120/5/2004). Kandungan nikotin Prancak N-1 dan Prancak N-2 lebih rendah dari Prancak-95 namun mutunya lebih baik.

Kawin silang ini, konon, sebagai jawaban terhadap kampanye antirokok dan isu bahaya rokok terhadap kesehatan. Balittas telah menyilangkan Prancak-95 untuk menurunkan kandungan nikotinnya. Bahkan juga dapat memangkas durasi masa tanam hingga petik yang bisa kurang dari 90 hari.

Sekarang, balik lagi ke cerita semula: tanaman kopi…

Sepulang dari rumah Ali Makki kala itu, saya lantas bercerita kepada Lia Zen, seorang aktivis kopi, konsultan sekaligus pemiliki kafe, beberapa hari sesudahnya. Lia Zen memang sering mengunjungi petani kopi dan memberikan edukasi kepada mereka. Benar, datanglah si Lia ini ke Prancak sehingga bertemu dengan Pak Taufik (saya saja belum pernah bertemu bahkanhingga tulisan ini dinaikkan). Saya sempat beberapa kali bertemu dengan Lia Zen dan beliau bercerita bahwa selama ini, Pak Taufik hanya menanam saja, kurang memperhatikan perawatan dan teknik petik serta lainnya.

Nah, akhirnya, pada malam 17 Agustus 2017, untuk kesekian kalinya, saya bertemu lagi dengan Lia di acara pembukaan “Kancakona Kopi”, Sumenep. Beliau membawakan saya biji-biji kopi Prancak yang sudah disangrai dengan menggunakan mesin moedern (roasting) di Sidoarjo. Walhasil, rasanya memang unik, tidak seperti kopi produk perkebunan di Jawa Timur pada umumnya yang saya tahu.

Berikut hasil catatan Lia Zen:

  • Varietas: Arabusta Prancak-Sumenep (dia menggunakan nama ini karena varietas robustanya masih tercampur sedikit biji arabica, kira-kira dari 5 pohon yang ada di kebun Pak Taufik).
  • Varietal: mix
  • Process: wet hull
  • Body: medium – bold
  • Flavor: sugar browning, dark chocolaty aftertaste
  • Aroma: roasted peanut

Adanya kenyataan ini barangkali dapat membuka kemungkinan baru bagi warga Prancak, atau bahkan bagi warga daerah lainnya untuk membuka peluang menanam pohon kopi yang sesuai dengan kontur tanah mereka, bisa jadi itu robusta namun mungkin juga liberica. Tembakau tentu saja tetap ditanam, tapi dengan juga menanam kopi, kebergantungan mereka terhadap tembakau yang notabene sangat membutuhkan banyak air di awal musim tanam, juga akan berkurang.

 

KETERANGAN FOTO:

semua foto oleh Mohammad Badri Zamzam, kecuali foto teratas (foto saya dan bibi), oleh Abdullah Sajjad

 

Salat di Perjalanan

Oleh M. Faizi

Saya pernah main ke kos teman. Rambutnya basah habis keramas, sepertinya baru bangun tidur terus mandi. Di depannya ada segela es nutrisari. Dan dengan santainya dia gitaran, musik-musikan, padahal waktu itu pas baru berkumandang azan maghrib, waktu di saat saya—mestinya—sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk salat. Ketika itulah, dalam hati, saya bertanya: “Mengapa salat merupakan hal krusial dalam diri seorang muslim seperti aku ini, yang salah satu buktinya adalah pelaksanaan dan aturan waktunya?”. Saya gemes melihat dia.

Jika kemudian ada orang yang menemukan simpulan bahwa gerakan-gerakan salat itu menyehatkan, meningkatkan vitalitas, mempertajam konsentrasi, maka itu hanya hasil riset sementara berdasarkan ilmu, dan bisa jadi “ilmu cocokologi”. Bagi seorang muslim, melaksanan salat itu haruslah atas dasar taat. Perintah salat adalah perintah pertama setelah pernyataan kesiapan menjadi muslim diputuskan melalui syahadat. Jadi, jangan gara-gara temuan itu lantas seseorang mau melakukan salat; semacam bersalat agar sehat, agar kaya, agar tampan, dll.

Salat adalah rukun yang nyaris tanpa syarat, berbeda dengan—misalnya—rukun Islam lain yang boleh gugur dan/atau tertunda karena sakit atau lemah atau dalam perjalanan, seperti puasa. Kewajiban berpuasa dapat ditunda bagi yang sakit atau dalam perjalanan; atau seperti haji yang disertai syarat mampu. Salat? Tak ada alasan apa pun yang dapat menggugurkannya. Bagi pemuda mukalaf, salat wajib tanpa tawaran. Jika tidak mampu dilakukan berdiri (karena sakit, misalnya), hukum salat tetap wajib: dilakukan dengan cara duduk; jika duduk pun terasa memberatkan, salat masih juga wajib dengan keringanan pelaksanaan dalam keadaan berbaring; jika masih tidak mampu menggerakkan anggota tubuh karena saking lemahnya, masih saja status salat tetap wajib: lakukan meskipun hanya dengan kedipan mata sebagai gerak isyarat. Jika berkedip saja tidak mampu? (Ah, masa iya masih ada pertanyaan sesudahnya?) Bahkan, andai kita tidak mungkin berwudu, salat tetap harus dilakukan demi menghormati waktu salat: salat lihurmatil waqti, sekadar memberikan penghormatan atas waktu salat.

Isra dan mikraj merupakan salah satu peristiwa penting dalam Islam yang perayaannya digelorakan setiap tahun. Perayaan ini adalah momen Nabi menghadap Allah untuk menerima perintah salat. Nah, betapa dahsyat peristiwa mikraj itu jika hanya demi satu perintah saja: salat. Sebab itulah, maka pelaksanaan salat disebut juga sebagai mikraj bagi setiap mukmin.

Dalam Islam, salat tidak sekadar dibahas perihal kewajibannya, melainkan juga fungsi dan tujuannya. Allah menetapkan—melalui ayat-ayat-Nya—bahwa salat adalah jaminan bagi seseorang agar tidak melakukan tindakan fahsya’ (keburukan) dan munkar (kemungkaran). Bersama sabar, salat juga juga ditetapkan sebagai jalan untuk meminta pertolongan. Pertanyaan: mengapa kita sering temukan orang yang bersalat, atau bahkan rajin salat, tetapi tetap melakukan fahsya’ dan munkar? Jawaban atas pertanyaan adalah juga berupa pertanyaan: Yang salah itu syaratnya, orangnya, atau laku salatnya?

Pada kenyataannya, dalam hidup keseharian, kita—atau sebut saja ‘saya’ agar tidak terlalu umum—selalu merasa ribet dan repot jika berhadapan dengan urusan salat. Di Jakarta, misalnya, saya pergi selepas asar untuk suatu acara yang akan diselenggarakan setelah isya. Lantas, di manakah kesempatan bersalat maghrib manakala kita masih berkubang dalam kemacetan? Betapa susahnya mengurus semua ini. Masih mending jika saya berstatus musafir yang boleh menunda dalam melaksanakan, tapi bagaimana dengan nasib warga pemukim?

Urusan salat, tertuma di perjalanan, menjadi semakin ‘absurd’. Bagaimana tidak, di negara yang nyaris dikelilingi oleh komunitas muslim, saya—sekarang, boleh sebut ‘kita’, masih sering kesulitan apabila hendak melaksanakan salat. Kalau masuk waktu maghrib, mungkin masih ada sedikit toleransi: bis malam sering memberikan waktu salat untuk penumpang pas di jam istirahat makan, tapi bagaimana dengan waktu salat subuh? Saat naik bis, terutama pada saat masuk waktu subuh, bis ekonomi jarang berhenti untuk sekadar salat kecuali kita harus pilih-pilih sopir tertentu yang lebih dulu kita ketahui rekam jejak religiusnya.

salat d harina

Di dalam kereta api (jangan dulu ngomong di pesawat terbang), orang mau salat malah lebih susah lagi. Satu-satunya cara adalah dengan menunaikannya di bordes. Sebetulnya, bisa saja kita salat di koridor kereta dan secara syarat hal itu sangat memungkinkan, tapi terkadang kita risih melakukannya di sana sebab kita tahu masyarakat kita punya aturan ini-itu yang tidak tertulis. Siap cuek? Silakan! Makanya, salat di bordes adalah pilihan, tapi itu pun jika kita naik kelas ekskutif (seperti Anggrek) karena ruang bordes untuk kelas ekonomi/bisnis—setahu saya—sangatlah sempit, tidak cukup untuk seukuran manusia dewasa.

Pernah sekali saya mengalami perjalanan dari Pekalongan, pukul empat kurang sedikit. Saya ambil wudu lebih dulu beberapa saat sebelum kereta datang sembari berazam akan salat di bordes. Tapi ternyata, di kereta itu (Harina) saya tidak bisa salat di bordes karena ruangnya terlalu sempit. Beruntung, akhirya saya turun di Semarang untuk Subuhan saat kereta berhenti sebentar, mungkin untuk langsir.

Sempat saya mikir: Teknologi perkeraapian saat ini telah maju dan canggih, apa susahnya PT KAI memasang display VMS (variable message service) di setiap gerbong yang dapat menjelaskan titik perhentian di stasiun dan berapa lama durasinya? Tujuannya adalah untuk informasi, terutama menyangkut pertimbangan kesempatan salat bagi muslim. KAI jelas bisa dan mudah membuat hal ini, tapi mengapa tidak dilakukan? Mungkin—ini hanya mungkin, lho—karena pengambil kebijakan tidak begitu jauh mempertimbangkan komunitas siapa saja yang terbesar menjadi penumpang kereta apinya, orang muslim, bukan?

Yang dari tadi disebut itu hanyalah faktor-faktor yang bersifat teknis. Namun, dalam masalah salat ini, sebetulnya ada yang jauh lebih prinsip, terutama urusan wudu dan najis. Kedua hal ini menjadi syarat utama terselenggaranya salat. Maka dengan demikian, tanpa mengurus dan memperhatikan keduanya (wudu dan najis), bicara salat juga akan sia-sia.

Kita punya banyak pulau yang dijuluki “Pulau 1000 Masjid”, seperti Lombok, Madura, dan Tidore, tapi apa iya di masjid-masjid tersebut ada standar kesucian menurut fikih yang sama? Terus terang saja, meskipun arsitekur sebuah masjid atau musala itu mentereng, namun kerap kali tempat pipisnya tidak sesuai SOP bab taharah (bersuci) sehingga memungkinkan mudah menyebarkan percikan najis dari air kencing (padahal syarat salat haruslah suci dari hadas dan semuanya). Mengapa demikian? Mungkin, lagi-lagi mungkin, arsitek dan pengawasnya tidak begitu paham/cuek terhadap fikih dan hanya melulu mementingkan semata-mata efektivitas dan keelokan disain, padahal masalah jaminan kesucian secara fikih berada di atas level ini. Lantas, bagaimana dengan toilet atau kamar kecil yang kita temukan di stasiun, terminal, dan bandar udara, yang umumnya lebih ‘sederhana’ (minimalis) secara disain daripada yang ada di pemukiman penduduk atau masjid di dekat jalan raya?

Intinya, pertanyaan tetap sama: Mungkinkah kita dapat bersuci secara benar jika toiletnya tidak punya standar penjamin kesucian menurut fikih? Jika bersuci tidak benar, bagaimana keabsahan salatnya? Begitulah urutan soal dan persoalannya.

Musala

Memang benar, tidak ada masalah bagi orang yang mau, tapi masa iya begitu? Ini sama dengan ungkapan umum ‘kan tinggal tayamum saja kalau kita sedang naik kendaraan’ yang disampaikan ketika air berlimpah begitu ruahnya; masjid dibangun di mana-mana; kesempatan berhenti pun leluasa. Belum lagi soal, bolehkah kita bertayamum dengan debu yang tidak berwujud debu? Hanya serpihan terepung yang menempel di ruang-ruang kedap udara dan berpendingin itu?

Singkatnya, dalam pengamatan sementara, perjalanan kerap kali membuat orang lupa untuk salat, atau setidaknya malas menunaikannya. Indikasi ke arah itu dapat ditengara dari ‘rabat’ yang diberikan Tuhan untuk tidak berpuasa ataupun menjamak salat karena alasan safar/perjalanan. Kadang, ada juga yang menjawab santai dengan, semisal, “Ah, Tuhan tahu, kok, kalau kita tidak sempat dan bukan kita melupakan-Nya” ketika diajak salat. Ya, Tuhan tahu, tapi saya—atau kita—tidak tahu, apakah jawaban itu tulus atau ngeles semata.

Lagi, salat menjadi masalah apabila kita bepergian ke wilayah di mana muslim menjadi minoritasnya, seperti di negara-negara tertentu di Eropa, atau di Cina, misalnya. Saya pernah tinggal beberapa hari di Jerman dan terus terang merasakan betapa ribetnya pelaksanaan salat ini. Jangan dulu buruk sangka! Mari, bayangkan: bagaimana jika Anda berada di lokasi acara yang toilet-toiletnya kering dan tanpa air (memang adanya toilet kering, bukan karena kran PDAM-nya macet)? Saya harus pulang ke hotel hanya untuk ganti baju dan ambil wudu, padahal jaraknya harus dua kali ganti kereta api dengan durasi waktu sekitar 40 menit plus jalan kaki.

Masalah utamanya adalah soal wudu dan taharah (bersuci). Nah, masih ada masalah lainnya: Bagaimana kita harus tahu kapan azan dari alarm, belum lagi kesenjangan waktu di bulan yang berbeda, seperti siang yang sangat panjang dan akibatnya malam jadi pendek sekali di bulan Juni. Contoh di Trondheim, Norwegia: maghrib jatuh pukul 23.45 dan subuh pukul 02.00. Soal salat mungkin bisa, tapi bagaimana dengan puasa selama nyaris 22 jam?

P1130144

Jika kita perhatikan waktu salat, anggaplah ini berdasarkan utak-atik-gatuk, rupanya memang selalu beriringan dengan penanda waktu. Makanya, ulama sepakat boleh qasar (meringkas salat karena alasan tertentu, seperti karena safar/perjalanan) tetapi tidak seluruhnya setuju dengan menjamaknya, alias menggabungkan dua jenis salat dalam sekali waktu; seperti salat duhur dan asar di waktu asar [ta’khir] atau di waktu duhur [taqdim]. Maka dari itu, salat menjadi ritual agar kita selalu ingat setiap saat kepada sang Pencipta. Sekurang-kurangnya, dalam setiap perubahan waktu itulah kita kita setoran presensi kepada-Nya: Subuh menandai waktu pagi; Duhur menandai waktu siang; Asar menandai waktu sore; maghrib menandai waktu petang; isya menjadi penanda waktu malam. Di antara kedua waktu yang rentangnya panjang (pagi ke siang dan malam ke pagi), diberi bonus salat sunnah yang terkenal hebat pahalanya; salat duha dan salat tahajud. Para ulama tasawuf lantas juga menganjurkan zikir khafi (zikir samar, dalam hati) dengan maksud agar zikir kita tidak terputus sama sekali, sepanjang waktu.

Tentu saja, saya bicara salat ini hanya untuk siapa pun yang merasa risih jika tidak salat. Jika Anda santai saja menghadapinya, maka tulisan ini tentu tidak penting lagi dibaca, boleh jadi malah dianggap ‘lebay’ dan dianggap hanya cocok jadi pegangan para “lebai” (takmir masjid). Apa yang saya tulis hanyalah karena percaya bahwa salat merupakan wujud kita sebagai hamba, juga seperti janji-Nya, dapat menahan kita dari berbuat fahsya’ dan mungkar, itu saja.

 

 

SALTIS

Anda pernah dengar nama band SALTIS? Jika tidak, maka saya memakluminya. Ia hanyalah band yang sempat mencuat sekilas dalam lintasan waktu awal 90-an, dekade di mana lagu rock dan hardrock tanah air sedang mengalami masa keemasannya. Lagunya, “Sadar”, sempat dikenal secara nasional setelah masuk dalam album kompilasi “10 Finalis Festival Rock ke-V Log Zhelebour”. Di album itu, mereka adalah satu-satunya band dari kota kecil (Sumenep) di antara seluruh band lainnya yang berasal dari kota besar/metropolitan.

Kover SALTIS

Sampul album versi kaset. Sumber foto: https://goo.gl/rdXsRi

* * *

Saya masuk ke warung itu, warung yang lebih akrab disebut kantin, terletak di ujung barat RSUD Moh Anwar, Sumenep, di suatu siang, perkiraan medio Juli 2009. Setelah memesan nasi rawon, mulailah saya makan, duduk di bangku yang menghadap ke selatan. Hanya ada tiga orang tamu sana: saya dan dua orang lagi yang sedang asyik bercengkerama.

“Lagu-lagu apa?”
“Deep Purple-an saja.”

Saya menoleh sekilas, merasa tidak lazim dengan tema percakapan mereka berdua, apalagi setelah curi pandang, tilik roman dana pakaian. Kedua orang yang saya maksud itu berpenampilan ‘biasa’, berusia 45-50 dalam taksiran Yang satunya bahkan mungkin sudah punya menantu. Dengan bergaya terus makan, telinga saya sebetulnya tetap awas, nguping pembicaraan.

“Kalau Bakar, sih, nasibnya lebih bagus…””Bakar masih sama Rotor?””Kayaknya bantu-bantu di Sucker Head.””Ya, seangkatan kita ada juga, lho, yang pulung. Itu si Aziz.””Haha, iya. Dulu Rudal, kini Jamrud.”

Hanya pembicaraan itu yang saya tangkap, selebihnya tidak paham atau tidak sempat mungkin karena terlalu serius melahap. Setelah membayar di kasir dan melihat mereka belum beranjak juga, saya beranikan diri menyelai pembicaraannya, ikutan nimbrung. Saya panggil salam dan menyalami mereka berdua seraya membuka medan basa-basi.
“Pangapora, ponapa Panjenengan nika anggotana Saltis?” (Permisi, apakah Anda berdua ini personel band Saltis?)

saltis CD 2

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kedua orang itu tampak menunjukkan air muka kaget, mungkin karena tidak menyangka ada orang yang sedari tadi nguping obrolan mereka.

“Beh, enggi. Nika Encunk!” kata yang lebih tua, memperkenalkan temannya kepada saya.”Kaula Sade Gozal,” katanya ketika saya menyalami yang satunya.”Kaula Faizi dari Luk-Guluk.”

Dan karena percakapan sepertinya akan terbuka lebar, saya pun duduk, menjadi orang ketiga di bangku mereka.

“Sampeyan kok ada di sini?” tanyanya kepada saya.
“Saya jaga nenek, opname di sini.”
“Ooo….”
“Oh, ya,” Yang ini suara saya. “Apakah Bakar yang dimaksud Panjenengan itu adalah Bakar Bufthaim drummernya Rotor sedangkan Aziz itu adalah Aziz MS gitaris Jamrud?”
“Iya, benar.”
“Dulu, kisaran tahun 1992 kalau tak salah, saya pernah membaca sebuah berita di Jawa Pos bahwa Saltis mau bikin album keroyokan dengan band-band rock lainnya. Kalau tak salah, lagunya antara lain berjudul “Tembang Kehidupan“. Leres? Sampai sekarang, saya tidak pernah dengan seperti apa lagunya. Apakah lagu itu benar-benar ada atau bagaimana?”

“Beh, ma’ oning kakabbi Sampeyan, haha…” (loh, kok Sampeyan tahu semua? haha)

Sade atau Pak Kadir, nama yang saya ketahui belakangan, tersenyum sumringah, menatap saya dengan pandangan cerah, terarah. Dengan sedikit menganga, ia berkata, “Tidak menyangka saya ada orang yang mengenal kami begitu lengkap, di saat saya bahkan sudah mulai lupa. Iya, semua itu benar. Lagunya sudah proses ‘mastering’ tapi tidak jadi digandakan karena ada kendala teknis. Sayang sekali memang.”

saltis CD

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kala itu, di awal 1990-an, memang lagi musim-musimnya album kompilasi band rock/metal. Yang sempat saya catat adalah album singel maupun keroyokan dari band-band yang sedang naik daun, seperti Red Spider, Brigade Metal, Pumars, Big Panzer, dll. Cuma Saltis yang terus melorot dan beritanya hilang tak berbekas (masih beruntung Encunk Hariyadi sempat ngorbit lagi dengan nama Golden Boy dan sempat pula bergabung dengan Rock Trickle Band (RTB) yang masuk dalam festival rock tahun berikutnya dengan debut Lembaran Baru. Sementara band seangkatan lainnya, seperti Roxx dari Jakarta—segenerasi Saltis di Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour—malah sempat menerbitkan dua album tunggal. Itulah beberapa butir ingatan saya yang disampaikan kepada dua dedengkot rock asal Sumenep tersebut, siang itu.

“Iya, iya. Ya. Namanya nasib ya begini. Saya bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan Bakar. Kabarnya dia sekarang bersama Sucker Head. Saya tidak tahu pastinya. Saya hanya hanya ngumpul sama teman-teman kami yang ada di sini, di Sumenep.”

* * *

Demikianlah kisah pertemuan pertama saya dengan dua orang pentolan band Saltis, band pertama dari Madura yang dikenal secara nasional melalui 10 Finalis Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour. Saltis beruntung karena di festival ke-V inilah karya para finalis dinaikkan ke studio rekaman oleh Log, berbeda dengan generasi sebelumnya yang ‘hanya’ jadi buah bibir di koran saja, seperti Adi Metal. Adapun Elpamas dan Grass Rock (sebagai sesama alumni festival) sempat segera menorehkan album Dinding Kota dan Peterson: Anak Asuhan Rembulan.

18767026_10212056866209299_1329867529_o

Foto oleh Moh Khatibul Umam: “Reuni Setelah 27 Tahun”

Malam Ahad, 20 Mei 2017, mereka reuni, bertemu di sebuah studio musik di kota Sumenep. “Ini adalah pertemuan saya dengan rekan-rekan Saltis setelah 27 tahun berpisah,” kata Bakar Bufthaim yang kini tinggal di Jakarta.

Salah satu lagu Saltis, “Sumekar” pernah dipentaskan secara live dan saya sempat mendengarkan hasil rekamannya kala masih menggunakan pita kaset. Saya mendapatkannya dari salah seorang penonton yang hadir di lokasi, ketika itu, pada saat hari jadi Kota Sumenep, entah tahun berapa. Apakah mereka masih ingat lagu itu? Saya masih ingat baris lirik pertama, chord, bahkan nada dasarnya. Entah dengan mereka. Begitulah memang. Terkadang, seorang fans itu bahkan lebih tahu sesuatu yang dimainkan si artis bahkan melebihi artis itu sendiri (M. Faizi).

________________________________________________________________

Gambar lainnya:

6137829_b76e38eb-d1e9-4806-bb6f-4730bdf2f3a5

sampul belakang CD, sumber: https://goo.gl/2yVHYm

12182968_10205189850689255_603063318465825900_o

Saya (M. Faizi; kiri) dan Encunk Hariadi (kanan, vokalis Saltis). Dulu, yang kiri fans dan yang kanan idola. Sejak ada media sosial, semua berubah dan kini menjadi ‘setara’ 🙂 (Foto oleh Januar Herwanto)

Baca lebih lanjut

Saya dan Bismania

Kecintaan saya pada bis*) dan hal-ihwal yang berhubungan dengan jagat perbisan sudah tumbuh sejak kecil. Salah satu buktinya: saya pernah punya buku saku berisi daftar nama-nama bis. Itu terjadi dulu, sewaktu saya masih duduk di bangku MTs (SMP).

Ketika ada orang bertanya, ‘mengapa bisa begitu?’, saya tidak pernah mampu menjawabnya, bahkan hingga hari ini. Awalnya, saya menduga, gelagat ini hanyalah gejala aneh kepribadian seseorang, itu pun—lagi-lagi menurut saya sendiri—tidak seberapa parah karena saya sadar bahwa apa pun yang bersangkut-paut dengan hobi itu biasanya memang tampak ganjil di mata umum. Contoh: Apa senangnya hobi koleksi pulpen sedangkan ia tidak pernah digunakan sama sekali? Kira-kira, begitulah.

Hingga pada suatu hari, jika tak salah itu terjadi di bulan September, 2007, saya membaca sebuah laporan di Harian KOMPAS, sebuah liputan tentang perilaku sekelompok orang yang memiliki kegandrungan terhadap dunia perbisan. Konon, mereka disebut “bismania”. Orang-orang ini dipandang aneh oleh masyarakat, terutama jika mengingat tujuan plesir mereka itu bukan ke pantai atau ke gunung, melainkan ke terminal, ke pool, ke garasi. Bahkan terkadang ada pula yang “niat banget” mengunjungi tempat terjadinya kecelakaan untuk berdoa di sana. Belum lagi mereka yang pergi naik bis entah ke mana. Maksudnya, bagi tipe mania jenis ini: tujuan tidak penting-penting amat karena yang terpenting dari tindakan itu adalah numpak bisnya, bukan tujuannya (simak kisah Rian).

Nah, dari laporan itu, saya mulai mengerti apa bismania itu.  Ia adalah—kurang lebih—sebutan untuk orang/kelompok yang sangat gemar/suka terhadap bis dan dunia perbisan. Pada saat itu pula saya merasa punya teman yang memiliki kegemaran yang sama. “Rupanya, saya tidak benar-benar sendirian dalam keganjilan,” batin saya pada diri sendiri.

Berdasarkan pembacaan dan penelusuran data, saya menemukan kenyataan bahwa para penggemar itu ternyata banyak ragamnya. Ada yang tergabung dalam kelompok, organisasi, komunitas, dan perseorangan. Di antara kelompok/komunitas tersebut, yang pertama saya tahu adalah, ya, “bismania” itu sendiri. Perkumpulan ini berdiri tahun 2007 dan pecah setahun kemudian: bismania.com (berkomunikasi lewat forum, juga dikenal dengan ‘forbiscom’) dan bismania.org (berkomunikasi lewat ‘mailinglist’ di ‘yahoogroups’, berbentuk komunitas, dikenal dengan ‘BMC’ atau ‘bismania community’). Perpecahan ini, konon, dipicu oleh perbedaan visi saja, bukan yang lain. Sesudahnya, muncul lagi nama-nama kelompok lainnya, seperti Jakbus, Bandung Bus Lover, dan entah apalagi.

Mengapa saya bergabung dengan BisMania Community (BMC)?

Tak lebih hanya karena rujukan dan jujukan yang pertama kali saya temukan dan akhirnya saya ikuti itu adalah ‘milist’ (mailing-list). Hanya itu saja alasannya, lebih karena faktor kebetulan. Jika ada lagi alasan karena BMC itu berbasis komunitas dan oleh karenanya ia bersifat/bervisi nirlaba, itu hanyalah faktor alasan yang datang kemudian.

Di awal-awal bergabung dengan komunitas ini, saya kenal dengan Pak Harsono dan Irawan (Cak Awan), dua orang sesepuh yang mungkin saja termasuk tokoh utama yang terlibat dalam pendirian perkumpulan ini. Perkenalan itu menyebabkan perkenalan selanjutnya. Awalnya, kami “saling mengenal” hanya di dunia maya, hanya di mailing-list dan belakangan di Facebook. Terus terang, saya bukanlah aktivisdi komunitas ini, tidak rajin kopi darat (kopdar), dan hanya beberapa kali saja mengikuti jambore nasional-nya, termasuk jambore yang ke-8, yang terakhir. Jambore yang pertama kali adalah pada tahun 2007 dan bertempat di garasi PO Nusantara, Kudus. Berikut rinciannya:
Jambore 1 Kudus
Jambore 2 Jogja
Jambore 3 Salatiga
Jambore 4 Bandung
Jambore 5 Malang
Jambore 6 Jepara
Jambore 7 Banyumas

Visi-Misi Bismania

Hari ini, ketika hampir semua orang memiliki akses ke media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, mudah ditemukan orang yang mengaku dan mendaku seorang ‘bismania’ hanya karena mereka gemar bis, atau suka foto-foto bis, atau suka ngomong tentang bis. Tentu saja itu hak mereka untuk menggunakan sebutan “bismania” untuk dirinya sendiri jika yang dimaksudkan adalah sekadar definisi penggemar bis belaka. Namun, jika untuk menjadi keluarga besar BMC (saya tidak tahu, apakah ini juga berlaku untuk komunitas yang lainnya), tentu saja tidak sesederhana itu syaratnya.

Bagi saya, menjadi bismania di BMC itu harus memiliki visi dan misi yang jelas, yang salah satu dasarnya adalah persaudaraan. Seseorang yang mengoleksi miniatur bis, punya banyak kaos karoseri, bahkan punya perusahaan otobus, orang penting di ATPM, dan mungkin pula mengoleksi emblem pabrikan, boleh saja menyebut diri ‘bismania’ atau ‘bismaniak’ atau ‘penggemar bis’. Namun seorang bismania dalam pengertian warga BMC haruslah, sekali lagi, memiliki asas persaudaraan, persahabatan, kemanusiaan.

Di antara hiruk-pikuk jambore nasional (jamnas) bismania ke-8 (berlangsung pada hari Ahad yang lalu, 23 April 2017, di Mekarsari, Cileungsi, Bogor; dituanrumahi oleh korwil Jakarta Raya), banyak momen berharga yang terjadi, berlangsung sekilas bahkan mungkin tak pernah terjadi lagi. Ada pemandangan haru ketika saya melihat rekan-rekan panitia sibuk mempersiapkan segalanya demi peserta. Saya melihat dan saya memperhatikan. Begitu pula, di saat yang sama, saya juga mengamati, ada yang cuma asyik foto-foto sendiri dan mengabaikan apa pun yang ada di sekitarnya. Saya lihat, ada pula satu-dua orang yang saling berkenalan serta berasal dari daerah yang saling berjauhan. Ada pula yang datang sekeluarga, lengkap dengan pasangan dan anaknya.

Sungguh menarik pemandangan ini. Akan tetapi, yang paling menarik perhatian saya adalah manakala di antara mereka, saya melihat Cak Awan dan beberapa anggota kawak dari Surabaya, berusaha membimbing rekan-rekan muda lainnya, mendidik mereka, untuk memberikan hormat kepada sesepuh dan para panitia dengan mengajaknya bersalaman, pamitan. Nah, inilah salah satu bentuk pewarisan nilai yang saya maksudkan, nilai dalam persaudaraan. Bahwa bis/bus itu hanyalah tambang yang saling mengikat, sementara pasak dan tiang pancang yang diikat itu adalah nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan itu sendiri.

Bukan tidak mungkin, ada yang datang ke jamnas itu hanya karena ingin mendengarkan “perang telolet”, atau sekadar hanya punya keinginan melihat-melihat puspa ragam model karoseri dan warna-warni livery, atau hanya karena ingin foto-foto bis belaka. Akan tetapi, saya kira, lebih banyak lagi orang yang datang ke jamnas karena dorongan persaudaraan. Dengan asas ini, BMC bukan lagi sekadar nama bagi sebuah komunitas penggemar bis semata, melainkan lebih dari itu. Bagi saya, BMC atau ‘bismania community’ itu adalah rumah bagi banyak orang dan sahabat, tidak ada pandang bulu di dalamnya, baik Anda pemilik PO atau hanya sekadar penumpang. Karena itu, menjadi seorang bismania itu sejatinya harus mampu menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan karena didasarkan atas kesamaan kegemaran, bukan sekadar menyalurkan hal-hal remeh yang bakal habis dalam waktu sebentar.

Inilah pandangan saya. Dan Anda, tentu saja, boleh berbeda pendapat, kita tetap bersahabat, menjadi seorang bismania.

______________________

*) Dalam KBBI, kata yang baku adalah ‘bus’, bukan ‘bis’. Saya tetap menggunakan kata ‘bis’ hanya karena sudah terbiasa, suka-suka.
**) foto-foto oleh Fathurrozzaq

Tokoh Utama di Luar Cerita

Ini catatan lama (2012) yang mula-mula saya terbitkan di mailinglist bismania community @ yahoogroups. Saya terbitkan ulang di blog ini karena ini catatan merupakan catatan yang paling sering saya baca sendiri, juga agar teman-teman lain lebih mudah mengaksesnya. Pertama kali saya dengar nama “Mila Sejahtera Dona-Doni” itu dari Bado (Badrus Sholihin). Ia sering ulang-alik tujuan Jember-Jogja, dan salah satunya, ya, dengan armada tua ini. Dia memberikan rekomendasi bis kawak ini setelah pada 16 September 2011 lalu ia pernah berangkat telat dari Probolinggo karena mogok dan harus diperbaiki dulu, namun masih mampu mencapai Solo pukul 6 pagi (6 jam 10 menit). Nah, baru enam bulan berikutnya saya bisa membuktikannya untuk yang pertama kali dan menuliskannya dalam catatan perjalanan (caper) ini.

Menurut Cak No, kernetnya, “Pak Kaji niku (maksudnya sopir Mila Sejahtera Dona-Doni dalam catatan ini) termasuk ajaib! Dia enggak pernah perpal, nyopir terus sejak dulu, bahkan termasuk di saat-saat hari raya… Alhamdulillah sehat terus.”. Sayangnya, armada Mila Sejahtera ini sudah pindah garasi ke AKAS IV Probolinggo per 16 Januari 2015 dan ia beristirahat atau menikmati masa tuanya di sana.

Selamat berlibur, Dona-Doni. Semua kisahmu yang terlanjur ditulis hanya lekat dalam ingatan, sedangkan engkau tidak akan pernah ada lagi di muka bumi ini kecuali sekadar serpihan-serpihan cerita lain yang serupa, yang mirip, namun sesungguhnya tidak pernah sama.

Catatan Perjalanan Jember-Jogjakarta, Sabtu 14 April 2012

11060246_10206660566254388_196350947224755331_n

Dari areal parkir Terminal Tawang Alun, Jember, saya berjalan menuju peron dengan langkah panjang-panjang. Saat itu, jam sudah lewat 5 menit dari titik 8 malam. Itulah jam kencan yang saya sepakati dengan Cak No, kenek Mila Sejahtera, bis yang akan saya naiki menuju Jogja.

Di jalur pemberangkatan paling utara, betul saya melihat ada 2 Mila Sejahtera. Saya lega, tapi sebentar, karena setelah diamati, kedua-duanya bukanlah Mila yang saya cari.

p1010076

Ini patas dan ‘Predator’. Di manakah ‘Dona-Doni’?” terbetik tanya dalam hati.

“Pak, Sampeyan di mana?” Saya menelepon kernet Mila Sejahtera Dona-Doni.

Sepurane, Dik. Saya cuma sampai Probolinggo. Waktunya gak nutut karena tadi malam kena macet di Nganjuk.”

“Terus, bagaimana nasib saya?” Hawa dingin melintas di urat nadi. Rasa ingin hampir pupus untuk pergi.

“Sampeyan naik ‘Shamber’, sama saja kok. Itu bisnya parkir di Jember. Bisnya ada gambar orangnya itu, Dik.”

Malam itu, saya bermaksud pergi ke Jogja dari Jember. Beberapa orang teman menyarankan saya agar ikut Mila Sejahtera ‘Dona-Doni’. Kata si empunya cerita, Dona-Doni jaminan mutu. Artinya, bukan berarti bis tersebut selalu pasti tepat waktu, melainkan jarang berhenti karena punya banyak pelanggan sejati.

Saya diam sejurus, sembari merasakan darah dingin mengalir. Nafas tertahan. Ludah menggetir. Sensasi indah dalam bayangan pun memudar perlahan. Dengan langkah gontai, saya masuk ke kabin Mila Sejahtera ‘Predator’ yang parkir di belakang patas. Sambil memperhatikan keadaan kabin; kursi 2-3 yang masih terawat dan AC dingin yang menyeruak, saya menyandarkan tubuh di kursi yang empuk berpenyangga lengan. Tetapi, suara hati tak dapat dilawan. Hanya semenit saya bertahan di dalam.

Kembali saya menelepon Cak No, kernet Mila yang namanya saya ketahui belakangan. Saya mengeluh sekaligus mengancam, bahwa jika saya tidak bisa ikut bersama ‘Dona-Doni’, maka rencana ke Jogja tak bakal jadi. “Pokoknya, kalau Sampeyan berangkat sebelum saya sampai di Terminal Probolinggo, saya akan langsung ke Surabaya dan lanjut ke Madura dan saya akan gagalkan rencana ke Jogja.”

“Iya, Dik. Iya. Nutut, Dik!”

“Saya kejar Sampeyan sampai Probolinggo, ya! Nutut, enggak? Jam berapa ‘Dona-Doni’ berangkat dari Probolinggo?”

Hasrat ikut ‘Dona-Doni’ tak bisa disembunyikan lagi.

“Jam 10, Dik.”

“Baik.”

Tanpa ba-bi-bu lagi, saya menghampiri seorang lelaki muda berkumis tipis. Dialah pengemudi patas Mila Sejahtera yang parkir di garis pertama.

“Pukul berapa bis ini berangkat?”

“20.45.”

“Saya mau mengejar ‘Dona-Doni’ di Probolinggo. Saya mau ke Jogja. Nutut?”

“Nutut! Saya kenal baik sama sopirnya. Yakin.”

 

* * *

 

Setelah nyaris gagal, saya langsung mendapatkan bonus hiburan, yaitu memperoleh tempat duduk di bagian kiri, saf pertama. Rupanya, penumpang di malam Minggu itu tidak begitu ramai. Bis bermesin Mercedes-Benz lawas dengan nopol N-7514-US tersebut diberangkatkan pada pukul 20.42, tiga menit lebih cepat dari jam yang terjadwal.

Sopir bis langsung pasang tempo tinggi begitu selesai nyeser penumpang di sepanjang pintu keluar terminal Jubung hingga Rambipuji. Selepas kota kecamatan itu, kondektur beranjak dari kursi CD, mulai menarik karcis. Saya menukar selembar tiket dengan uang Rp.22.000. Karena kursi CD telah kosong, saya menggantikan posisinya, duduk di samping pengemudi, bertukar tanya dengan jawab, sambil menyaksikan pendar lampu jalan yang jatuh di atas aspal, memantul dan berkilat, melukis siluet-siluet indah di malam gelap.

“Mercy Prima-nya masih top, Pak,” puji saya, sok akrab.

“Semuanya tergantung perawatan, Mas.”

“Masih ngejoss, ya!”

“Iya, kami sangat menjaga perawatan mesin.”

 

Pukul 21.00: Gambirono.

 

Sepintas, saya melihat Mila Sejahtera ‘Predator’ parkir. Bis yang semula direncanakan untuk saya ikuti ke Jogja sebagai alternatif dari ‘Dona-Doni’ tersebut tampak turun dari aspal. Benarkah? Entahlah. Saya baru meyakininya benar setelah patas yang saya tumpangi ini menepi untuk menurunkan penumpang selepas lampu merah Banyuputih, di depan terminal Minak Koncar, Lumajang. Pada saat itulah, dari sisi kanan, Predator masuk, mendahului.

“Di mana, Dik?” Terdengar suara dari seberang, kernet Dona-doni menelepon.

“Lumajang. Predator barusan nyalip.”

“Iya, saya tunggu, ya. Predator itu mau perpal karena AC-nya macet. Penumpangnya ikut saya.”

Oh, rupanya, firasat saya untuk tidak ikut Predator dari Jember benar adanya karena ujung-ujungnya semua penumpangnya akan dioper ke Dona-Doni, di Probolinggo nanti.

 

* * *

 

22.34: Terminal Bayuangga, Probolinggo.

“Ugh!”

Tak sadar saya mendesah begitu melihat bodi Mila Sejahtera Dona-Doni untuk pertama kali. Mungkin, inilah bis paling jelek di trayeknya, apalagi jika disandingkan dengan armada-armada yang berangkat dari Surabaya, semisal Sumber Group (Sugeng Rahayu, Sumber Selamat, Sumber Kencono) dan Mira. Asap hitam bersemu putih keluar dari cerobong semprong kirinya, menandakan polutan yang melimpah, juga kompresi mesin yang mungkin sudah jauh berkurang dari tenaga maksimalnya. Lalu, tanya saya dalam hati, apakah alasan teman-teman memberikan rekomendasi bis ini dinaiki menuju Jogja? Bodi-nya jelas tidak; AC juga tidak; suspensi jelas tak mungkin; soal mesin apalagi. Lalu, apanya?

Pengalaman pertama! Ya, itu dia alasan yang paling masuk akal.

“Mila tujuan Jogja diberangkatkan…”

Terdengar TOA pengeras suara Terminal Bayuangga berbunyi begitu bis bernopol N-7249-US ini melenggang keluar pada pukul 23.00. Karcis ditukar dengan uang Rp 56.000, coret-Probolinggo dan coret-Jogja. Saat melihat senarai nama 15 kabupaten dan 66 titik perhentian meliputi kecamatan dan desa, saya langsung takjub pada perjuangan bis tua ini, melahap trayek Blambangan-Mataram setiap malam, ya, setiap malam.

Memperhatikan cara memindah gerigi persneling, saya langsung mengambil kesimpulan awal bahwa sopir bis ini adalah sopir senior. Perpindahan percepatannya sangat samar, nyaris tanpa hentakan. Bis berjalan pelan. Kenek yang berdiri di pintu kiri, maupun sopir yang ada di kanan, masing-masing pasang pandangan awas, berharap ada lambaian tangan dari calon penumpang yang menggubit di tepi jalan.

Begitu Mila keluar dari Kota Probolinggo dan terlibat dengan konvoi bis-bis pariwisata yang datang dari arah timur, barangkali dari Bali atau Lombok, saya sempat meragukan kemampuannya. Kenapa cara mengeremnya begini? Ada sentuhan staccato di sana! Patah-patah. Namun, anggapan ini tidak bertahan lama karena ‘Dona-Doni’ segera mengganti ketukan yang lain, seperti seorang arranger yang memainkan modulasi nada pada reffrain.

Lampu sein kanan berkedip cepat. Symphonie Die 9 Pariwisata terlewati. Mila masuk ke jalurnya lagi, lalu menyalip kembali beberapa kendaraan kecil, menyela ke jalur kiri, lantas mendahului patas Akas New Armada, kemudian melesat, menguasai jalan aspal itu sepenuhnya. Mulailah saya berubah pikiran. Sopir ini sedikit gelojoh, suka lahap-melahap; bis di depannya ibarat nasi sesuap, sedangkan kendaraan kecil jadi lauk-pauknya. Sekali menyuap, beberapa lauk-pauk juga harus diembat.

Mencermati gelagat akselerasinya, saya pun mulai menaruh curiga, tidak yakin jikalau komponen mesin bis ini masih standar Hino AK, tak mungkin. Membawa penumpang hampir 80% penuh, akselerasi masih bagus, maka boleh jadi mesin ini sudah dioprek sedemikian rupa. Hal lain yang saya rasakan agak aneh adalah rasio gigi persnelingnya, terutama ke-3 dan ke-4. Pada percepatan tersebut, langkahnya terasa jauh. Ibarat sprinter, napasnya sangat panjang. Ibarat diver, ia mampu lebih lama menyelam.

Paduan suara tangisan anak kecil, gemelatak kaca geser yang tidak lagi rapat, serta bebunyian gedubrak yang riuh-rendah, menciptakan simponi unik di dalam kabin, bumel sebenar-benar bumel. Dan sang sopir tahu bagaimana cara menimpali semua hiruk-pikuk itu, yaitu dengan menderumkan raung mesinnya lebih gahar lagi.

Bis masuk kota Bangil pada paruh malam. Dan hanya beberapa menit kemudian, setelah melewati bundaran Gempol, bis berhenti di sebuah warung makan. Soto Lombok namanya. Semua penumpang dipersilakan turun. Bagi grup Mila Sejahtera, baik yang datang dari Banyuwangi maupun dari Jogja, warung ini merupakan tempat ambil jeda untuk makan dan istirahat. Alasannya mungkin karena posisi Gempol sebagai titik tengah perjalanan dari Banyuwangi ke Jogjakarta, 33 dari 66 kota/kecamatan.

Semua penumpang keluar dari bis, kecuali sopir. Ia masih bertahan di belakang kemudi, mencari-cari sesuatu. Oh, rupanya ia menyalakan rokok. Tempias nyala api koreknya membuat raut wajahnya kelihatan. Saya taksir, usianya 50 tahunan. Seraya mendekat, saya bertanya.

p1010077

“Pak, dahsboard-nya model lama, ya? Ini Hino AK tahun berapa?”

Lelaki gempal dan berkumis itu mungkin sama sekali tidak menyangka ada pertanyaan seperti ini dilontarkan oleh seorang penumpang yang bersarung dan berpeci hitam seperti saya. Dia mengelih, sekilas senyum, lalu melontarkan kata-kata bersemangat.

“Tahun 96, Mas.”

Adanya pemandangan asing yang membuat saya menahan diri untuk mengajukan pertanyaan berikutnya: sebilah keris terpajang di atas pintu sopir. Sambil menukar pandangan dengan tasbih yang digantung di atas spion dan dua cincin yang dikenakannya, saya amati itu semua dengan satu kesimpulan: orang ini bukan sopir biasa.

p1010078

“Tahun 96? Tapi, kok tarikannya saya perhatikan tadi sangat bagus, ya, Pak? Eh, nama Bapak?”

“Saya Paiman, Mas. Iya, bis ini sudah pakai turbo.”

“Hah? Masa? Dipasang sendiri?”

“Iya, dipasang sendiri di bengkel NNR (red: Akas). Saya pakai turbo-nya Mercy karena lebih murah. Namun mesin tidak panas karena juga dipasangi intercooler. Kalau dari Banyuwangi sampai Jogja, paling-paling airnya cuma tekor se-Aqua gelas-an.”

“Apa nggak boros?”

“Saya tombok 10-20 liter setiap kali jalan. Jatah dari perusahaan hanya 220, habisnya 230 liter, bahkan terkadang sampai 240. Tapi, ya, gak apa-apa, Mas. Larinya juga lumayan bagus,” katanya seraya tersenyum.

Saya memilih percaya daripada harus cerewet mengumbar tanya. Lebih dari itu, sejatinya Pak Paiman tadi telah membuktikan omongannya ini di trek Probolinggo-Pasuruan yang notabene merupakan lintasan paling ramai sepanjang jalan dari Probolinggo sampai bundaran Gempol. Akan tetapi, saya berkata dalam hati, “Pembuktian yang sesungguhnya itu nanti, Pak, di trek Mojokerto sampai Jogja, karena di sana Anda akan berhadapan dengan keluarga besar EKA-Mira, juga keluarga Sumber Kencono Group yang terkenal sebagai penguasa jalanannya.”

Kami pun turun bersama-sama. Dia ambil soto, saya pesan kopi. Menemaninya duduk di teras, saya melemparinya satu-dua pertanyaan untuk mengulik informasi. Darinya saya tahu, ia akan naik haji tahun depan. Hati saya berdesir mendengar kabar ini sambil mengingat pernyataan sebelumnya, tentang tombok solar setiap hari. Demi niat suci, rupanya sopir ini masih mampu menabung sisa komisi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

“Oh, ya? Alhamdulillah jika begitu.”

“Ya, saya akan ke Makkah bersama nyonya. Tadi nyonya yang ngantar saya ke terminal, kok,” katanya sambil melirik rendah. Barangkali dia berharap agar saya menangkap kesan romantis pada intonasi ucapannya. Lagi-lagi saya dibikin tercekat ketika membayangkan kehidupan sopir bis antar-provinsi, seperti dia, dalam menikmati kehidupan rumah tangga bersama istri dan anak-anaknya. Kapankah waktu mereka untuk kumpul bersama? Berapa jam sisa waktu dalam setiap minggu untuk bercengkerama? Rasa kemanusiaan membumbui percakapan kami malam itu: kisah cinta, waktu yang terbatas untuk keluarga, harus bertarung dengan sisi lain kehidupannya, mengais rezeki setiap malam di jalan raya.

Malam itu, selembar halaman dari kitab kehidupan baru saja selesai saya baca. Satir yang getir atau lelucon yang konyol barangkali akan saya temukan di halaman yang lain.

 

* * *

 

“Yang ke Jogja, berangkat, berangkat…!”

Pukul 1 dinihari kurang limabelas menit, Mila Sejahtera bergerak meninggalkan warung Soto Lombok, Gempol. Bis masuk Kejapanan dan mesin dipacu kencang sekali. Jalan arteri itu sepi, membuat pengemudi bebas menginjak pedal gas sesuka hati.

Jalan ini milik kami.

Malam ini milik kami.

Saya menarik ponsel Nokia 6310i dari tas pinggang yang melingkari sarung begitu bis menjejak aspal trek Mojokerto-Jombang: pukul 1 lewat 18 menit.

Menghadang di depan: Restu, Akas Asri pariwisata, dan entah bis apa lagi. Di antara bujuk kantuk untuk berpejam, lelah yang nyaris tidak tertanggungkan, saya bertahan jaga sampai akhirnya tampak ekor bodi Legacy W-7033-UZ, Sumber Selamat. Bis kami mendekat seolah-olah hendak mendahului. Namun, pada sebuah karnaval kendaraan yang beriring rapat, Pak Paiman terkecoh. Mendadak, sebuah mobil Daihatsu Zebra menyela, membuat jarak terpaut makin jauh antara “Sumber” dan “Mila”.

Pak Paiman lagi-lagi menginjak rem secara staccato, patah-patah. Bis bermesin Hino AK namun dengan kaki-kaki hasil modifkasi milik Hino RG ini terangguk-angguk. Beberapa orang penumpang kelihatan terbangun dari kantuk karena tersorong. Semua mata, kini, terarah ke muka.

Saya menduga, Pak Paiman ingin membuktikan kekuatan tenaga mesin bisnya. Namun, pada jalan lurus di Mojoagung, adu kecepatan tetap bertahan 10 meteran. Sumber Selamat tidak menjauh, Mila juga tidak mampu menyusul.

Pemandangan ini terasa aneh bagi saya. Untuk apa dia hendak menguji mesin tua buatan 96-an dengan cara mengejar Hino turbo rilisan 2010/2011? Jangan-jangan, tenaga “turbo” pada Mila Dona-Doni pegangannya ini tidak berada di dalam ruang mesin bersama manifold, melainkan pada pamor dan keluk kerisnya yang ia pajang di atas pintu.

Mila Sejahtera telah mendahului Sumber Selamat yang menyalakan lampu sein kiri untuk menurunkan penumpang. Namun, karena Mila juga bertaruh peruntungan dengan cara nyeser di sekitar stasiun Jombang, wusss, Sumber Selamat kembali memimpin, mengambil alih kesempatan untuk meraup calon penumpang lebih dulu. Maka, di bypass menuju Embong Miring Jombang itu, dua bis berkejaran, tak terelakkan. Lagi-lagi, Mila Dona-Doni terus menguntit di belakang: mengejar seperti mengancam; membuntuti dengan determinasi.

Rasa penasaran saya belum juga pupus, mengapa harus mengejar? Mengapa Mila Sejahtera begitu bergairah untuk menyalip Sumber Selamat? Bukankah jarak tahun produksi kendaraan yang terpaut 15 tahunan sudah cukup rasional untuk mengalah saja? Ya, jikalau Sumber Selamat menggunakan AC dan Mila tidak; jika Sumber taripnya murah dan Mila mahal; jika Sumber bermesin baru dan Mila bermesin lawas; jika jarak antar-kursi Sumber lebih lapang dan Mila sempit, masih adakah yang dapat diandalkan Mila Sejahtera ini untuk itu semua? Ada. Jawabannya adalah kesetiaan penumpang, sisanya adalah reputasi!

Mendekati Gudo, tepatnya tikungan tajam ke arah Kertosono, jarak antara kedua bis semakin mendekat. Dan persis setelah tikungan, Mila berhasil menyalip Sumber 7033 itu, tentu dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, juga dengan gulungan asap di belakangnya. Bertepatan saat dari arah berlawanan, patas Eka sedang diburu Sumber Selamat.

Sembari menaksir lama perjalanan ke muka, saya mendapatkan kesimpulan awal: tidak yakin dapat bersalat Subuh di Janti. Dengan demikian, saya harus mengatur jadwal hendak turun di mana meskipun karcis sudah terlanjur coret-Jogja. Pemberangkatan dari Probolinggo yang sedikit molor karena satu dan lain hal membuat Dona-Doni ini baru melewati Sukomoro, beberapa saat sebelum Kota Nganjuk, pada saat jam menunjuk pukul 02.18.

Kala itu, melalui kaca depan, saya melihat Sugeng Rahayu, nama baru dari keluarga besar Sumber Kencono, sudah kembali menghadang. Saya tidak tahu, jam berapa bis tersebut berangkat dari Surabaya. Yang pasti, bis dengan nopol W-7663-UY itu juga didahului di lampu lalu lintas menjelang kota Nganjuk karena terjebak truk, salah mengambil posisi. Dan setelah melewati kota, sebelum tidur, saya masih sempat melihat Pak Paiman melakukan spekulasi dengan menyalip sekitar 8 kendaraan sekaligus, yang berjalan lambat karena terperangkap di sisi kiri garis panjang dalam tanjakan, selepas palang pintu kereta api. Salah satu yang terjepit di antara karnaval kendaraan itu adalah si cokelat, Mira AC.

Pukul 02.53, Caruban. Mila Sejahtera ambil kanan, lewat Karang Jati.

Inilah salah satu keuntungan hemat waktu bersama Mila Sejahtera (juga Akas tujuan Jogjakarta). Dona-Doni melalui jalan yang biasa dilewati patas Eka dan bis-bis malam, berbeda dengan Mira dan Sumber yang lewat Madiun dan Maospati lebih dulu untuk tembus di Ngawi. Bahkan, Mila bisa lebih hemat waktu ketimbang patas Eka sekalipun karena tidak perlu masuk rumah makan lagi.

Saya mulai merem-melek saat bis masuk di lintasan ini. Bangun pukul 03.06, tampak gapura bertulis Ngawi. Tidur lagi. Buka mata ternyata bis sudah lewat Gontor Putri, Mantingan, pada pukul 03.58. Tidur lagi dan terbangun saat bis masuk terminal Solo, pukul 5 pagi kurang lima menit.

Keluar dari Terminal Tirtonadi, seperti seorang gitaris yang sedang pamer kemahiran guitar solo, Mila Sejahtera Dona-Doni berlari kencang seorang diri. Sinar merah dari timur mulai semburat. Tulu‘ muncul tak akan lama lagi.

“Pak, saya turun di depan,” kata saya setelah berpindah tempat dari kursi penumpang ke kursi CB (kursi kenek).

“Loh?” bukannya Jogja?”

“Nggak jadi, turunkan saya di tempat yang dekat dengan masjid.”

“Wah, tahu begitu tadi saya berhenti di masjid yang enak parkirnya, biar kita berhenti sama-sama.” Ini suara Pak Paiman.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya mau ngopi-ngopi dulu. Biar nanti saya ikut bis Solo-an saja.”

Sein kiri. Bis menepi lalu berhenti. Saya turun dan menyeberang jalan, menuju sebuah masjid. Atta’awun namanya.

p1010081

Seusai shalat Subuh di masjid yang terletak di dusun Kaliwingko, Banaran, Delanggu itu, saya duduk di depan sebuah warung, menunggu pagi. Sambil menyaksikan bis-bis malam yang berdatangan dari arah ibu kota, saya menyeruput kopi: menepis pahitnya kufur dengan mencerap manisnya syukur.

FOTO-FOTO TAMBAHAN:

601987_10200616752882831_1682648694_n

Catatan perjalanan di atas ada di buku ini

 

326671_1924757728217_1456130738_o

Mila Sejahtera Dona Doni (tahun 2011, foto oleh Bado Solihin)

mila-sejahtera-donadoni-cikar-nippon

Dona Doni di Probolinggo (foto Juni, 2012)

Kopdar di Gumitir, sewa Big Bird dan Dona Doni (7 April 2013)

Tak sengaja nemu Dona Doni turun mesin di garasi AKAS-MILA Jogja (10 Pebruari 2013)

menunggu-mila-di-soto-lombok

Warung Soto Lombok, Gempol: menunggu Dona Doni (lawas) terakhir kali, 28 Oktober 2014