Sarang Building: Main ke Jumaldi Alfi

Sarang adalah tempat tinggal burung. Sejauh ini, saya juga mengenal Sarang dalam wacana yang lain, yaitu sebutan untuk nama desa yang identik dengan pondok pesantren asuhan Mbah Moen, di ujung timur kabupaten Rembang sana. Kini, entri Sarang masuk satu lagi ke dalam daftar pengetahuan saya: studionya Jumaldi Alfi.

Beliau ada seorang pelukis. Saya mengenal beliau secara kebetulan saat beliau pergi ke Madura, ikut Prof Gaffar Karim bertandang ke Madura, bersama Rifqi Fairuz dan Iqbal Aji Daryono, ke tempat saya di Madura, tepat setahun yang lalu. Baru setahun kemudian, saya bisa melakukan laga tandang ke Sarang, di Banguntapan, Bantul.

Saya sama sekali tidak menyangka kalau dia seorang pelukis, mengingat beliaunya identik—di foto-foto Facebooknya—dengan jaket terbuka sehingga kaosnya tampak: Iron Maiden, Anthrax, Testament, Kreator, dll. Kumis yang lebat dan janggut panjangnya sepintas malah lebih mengesankan dia seorang pentolan band metal, bahkan mirip Tom Araya, vokalis band metal Slayer.

Kembali ke Sarang…

Sarang adalah tempat seni dan juga kafe. Di sana, Alfi membangun sarang besar dari besi, mirip sangkar tyrexsaurus dalam Jurassic Park. Kalau kita datang dan memarkir kendaraan di halamannya, kita bakal disambut tembok besar yang tertutup tanaman merambat (sejenis creeping fig), kesan asri tapi juga horor malahan (entah karena saya datang bakda maghrib, ya?). Di baliknya teradapat rangka besi, seperti sarang tyrexsaurus dalam Jurassic Park. Pokoknya, kalau kita masuk ke dalam, akan disambut hutan mini, begitu lebatnya tumbuhan di dalam, dengan rumbai-rumbai tanaman.

Di bawah sana, di lantai dasar, ada pendapa balaikambang, pendapa yang y dikelilingi kolam ikan. Di ponjok barat daya, ada kamar, entah buat tamu atau buat si empunya saat bertapa. Dan kamar ini adalah satu-satunya kamar yang bisa ditempati tidur di lokasi yang sangat luas ini. Sarang juga menyediakan kafe. Ada namanya.

Sebagai ruang seni terbuka, tempat ini menyediakan studio tertutup dengan bingkai kaca transparan. Ruangnya cukup buat hadirin 50-70 orang. Agaknya, balekambang itu adalah imbangan, sebagai tempat acara terbukanya. Secara keseluruhan, sejatinya, di pojokan lain, di tempat ini, sebetulanya masih cukup layak dan luas untuk ditempati acara pementasan teater dan sejenisnya.

Sarang II

Jumaldi Alfi juga membangun Sarang II, berada tak kebih 10 meter dari Sarang I. Sarang II ini, menurutnya, diprioritaskan untuk galeri seni dan pameraan seni rupa, lukisan khususnya. Sarang II bahkan lebih luas lagi secara tempat, juga lebih strategis untuk pementasan musik karena rumah penduduk di kanan-kirinya agak jauh. Sementara di sisi belakang adalah sungai.

Sarang II memiliki tempat parkir yang luas, bahkan saya kira bisa diukur dengan citra satelit Wikimapia. Kalau lampu-lampunya dinyalakan sebagian saja, dan kita datang malam hari, maka sudah cukup syarat untuk uji nyali jika kita mau masuk ke dalam, saking luasnya. Di pintui masuk, ada pohon kamboja dan pulai.

Setelah gerbang, kita masuk ke area kedua. Kita akan bertemu dengan kolam ikan yang sangat besar (beruntung tempat ini dilewati kali yang airnya mengalir), bersanding dengan kebun klengkeng. Di atasnya, ada bangunan besar, mirip gudang. Kata si empunya, itu sekolah seni yang sudah dibangun dan sudah jadi. Masih ada satu bangunan klasik yang tampaknya bisa dibuat tempat tidur. Di ujungnya, di bagian bawah, ada galeri besar untuk pameraan lukisan.

Pada saat saya ke situ, 26 Juli 2020, tampak ada bangunan besar lain yang sedang dibangun, entah untuk apa. Saya penasaran, tapi malas lagi bertanya sama beliaunya mengingat saya ingin segera pergi dari tempat itu karena ada acara tahlilan dan baca puisi di kafe Main-Main, di Sorowajan. Di samping itu, saya datang juga pada waktu yang kurang tepat. “Mestinya datang sore hari,” kata dia. “Saya sudah nunggu Anda dari sore di sini,” ujarnya.

Di atas semua itu, sebagai tempat seni, sungguh tempat ini sangat indah sekali.saRAng2-800x600 httpsabinebvogel.atkunst-in-yogykarta

sumber foto: httpsabinebvogel.atkunst-in-yogykarta

Kenangan Bersama Fajar Setiawan

74476906_1385175734976912_2118786132522041344_nPernah suatu sore, Fajar datang bersama Dewi, istrinya. Jarang sekali saya lihat pemandangan seperti ini. Anak-anak di kos sudah mulai berfantasi, bakal nemu buka puasa yang lumayan enak. Sebab, di hari-hari yang lain, buka puasa kami kan ya gitu-gitu saja.


Halo, Mas!”

Kata kawan kos yang rata-rata sudah kenal sama beliaunya.
“Halo…” balasnya.

Mas Fajar lalu mendekat ke saya, menyatakan suatu kalimat yang intinya dia buru-buru, tidak bisa berlama-lama karena sedang bersama istri, anak, dan pamannya juga. “Ini buatmu!” katanya, sembari menyerahkan isi kantong plastik dan sambil melangkah menjauh, menuju Kijang Super. Saya mengangguk dan berterima kasih. Tapi, saya rasakan, ada yang ganjil. Kantong plastik itu rasanya terlalu ringan untuk ukuran nasi daging atau ayam goreng.

Giliran Fajar pergi dan saya kembali bertemu kawan-kawan, ah, penonton bukan kecewa, tapi malah tertawa. Kantong plastik itu isinya ternyata jamu gemuk. Mereka tertawa kiranya bukan karena dugaan yang salah, tapi juga mungkin karena saya yang kurus. 

Itulah sekelumit kenangan yang melekat dalam pikiran saya dan beberapa orang teman yang berada di lokasi kejadian. Kesan itu sangat membekas. Buktinya adalah; ia kerap diceritakan ulang dan kami tidak bosan. Dan esai memorabilia ini sudah lama ditulis, sekitar 5 tahun yang lalu, ditulis ulang karena demi mengenang kawan yang telah berpulang beberapa waktu lalu.

Saya pernah tinggal beberapa lama di Solo (bukan dalam waktu yang lama, sebentar-sebentar tapi dua tahun lebih rentang masanya, kira-kira tahun 2001-2003). Ketika itu, saya masih aktif kuliah tapi sudah tidak ngekos, numpang di sana dan sini. Saat itu, saya punya teman akrab dari Solo, tepatnya dari Sukoharjo. Mereka adalah Fajar Setiawan Roekminto dan Siti Muslifah. Keduanya berjejaring sesama UNS (yang oleh sebagian teman saya disangka Univ. Neg. Solo, padahal Univ. Neg. Sebelas Maret). Nah, saya akan bercerita pertemanan saya dengan Fajar Setiawan ini, yang dua hari lalu meninggal dunia.

Awal-awal perkenalan kami, dia ngundang saya buka puasa di rumahnya, di Gedangan, Solo Baru, ke arah Baki. Tentu saja, undangan ini aneh karena saya tahu dia tidak menganut keyakinan akan kewajiban puasa Ramadan.

“Datang, ya, ke rumahku! Ada acara buka bersama.”

“Oh, ya? Kapan?”

Fajar lantas menyebut tanggal.

Dan pada tanggal itu, saya datang ke acara yang disebutnya buka bersama tersebut. Ternyata, acara di sore itu adalah acara kopdar (kopi darat). Ya, dia adalah anggota penglaju Solo-Jakarta yang sering pergi-pulang naik keretaapi Fajar Utama. Entah apa nama komunitasnya, saya tidak ingat.

Saat acara sudah dimulai, anggap saja dimulai karena tidak ada aba-aba secara resmi, di antara mereka ada yang tiba-tiba bergeser ke emperan.

“Mau ke mana, Mas?” tanya saya.

“Mau merokok dulu, di luar,” bisiknya seraya misem, “Udah kecut, nih. Maaf, ya!”

Kejadian sore itu menandai kesan pertama bagi saya: buka bersama tapi ada yang nunggu maghrib malah sambil merokok di pojokan, di tempat yang agak terlindung dari pandangan orang.

***

Tempat pertama kali yang saya tuju di Solo adalah Carikan, rumah Ibu R. Ay. Tatiek Winarno, pemilik “Sekar Kedhaton”. Rumah beliau berada di Jl Gajah Suranto 7 , sekitar 150 meter baratnya Pasar Klewer, bersebelahan dengan dinding dan pojok benteng. Beliau adalah seorang perias busana pengantin. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah ini, rumah dan pekarangan yang besar yang dihuni oleh lebih satu keluarga dan lebih dari satu keyakinan. Dari tempat ini, saya mulai tahu betapa di tempat yang jauh dari rumah saya tersebut ada orang yang hidup damai dengan beda-beda iman. Kesan ini, lagi-lagi, juga tergurat di dalam pikiran.

Kenangan tentang Solo sebetulnya bukan sekadar tentang Fajar, pluralitas, keyakinan, dan stasiun Solo Balapan saja, bukan itu saja. Di sana, banyak pengalaman yang mengesankan, bukan cuma itu. Pengalaman ‘tragis’-nya ada juga, misalnya waktu pergi ke Solo naik Honda Astrea Prima dari Jogja enggak tahunya orangnya tidak ada di tempat, pergi entah ke mana. Mana kena hujan pula sepanjang jalan. Maklum, kala itu, saya tidak menghubunginya lebih dulu karena belum punya ponsel, beda dengan dia yang hidupnya sudah lumayan mapan dan karenanya punya ponsel (dia adalah seorang dosen (belakangan jadi dekan di Fakultas Sastra) di UKI, Cawang, Jakarta.

Perjalanan ke Solo yang paling sering dilakukan dengan Prambanan Ekspres, kereta jarak dekat: Jogja-Solo. Dan dari Jogja, saya naik dari Lempuyangan, turun di stasiun Solo Balapan. Setiap kali naik kereta ini, selalu saya punya kesan mendalam manakala tiba di stasiun. Saya sangat suka tempat perhentian tersebut, tapi tidak menyukai perjalanannya. Mengapa tidak naik bis? Alasannya adalah posisi terminal yang tidak menguntungkan jika saya mau tempat tujuan. Kalau tak salah, hanya sekali saya naik bis ke Solo dan naik bis medium dari Tirtonadi ke Solo Baru.

Dalam banyak hal, kami punya beberapa kesamaan, meskipun beda-bedanya juga banyak. Dalam hal ini, saya tersanjung karena Fajar telah memberikan keistimewaan buat saya di rumahnya. Mengapa istimewa? Banyak jawabannya, tapi salah satunya adalah karena saya diberi ‘lisensi’ untuk pakai sandal di atas rumahnya ketika mau shalat sementara mereka tidak. Ya, saya punya sandal jepit khusus alas kaki di atas, di dalam rumah, yang digunakan hanya untuk shalat. Saya punya sajadah sendiri dan ‘pojokan sendiri’ untuk shalat di dalam rumahnya yang di dinding-dindingnya terpajang beberapa salib.

Saya kenal dengan iparnya, Dodit. Dengannya, saya punya kesamaan yang lain: sama-sama menyukai lagu rock. Dia juga pernah ngajak saya bertemu kawan-kawan bandnya di sebuah studio, di tengah kota Solo. Kami akrab, tapi jarang bertemu karena dia pergi pagi hari ke kantor, ke tempat kerjanya, sementara saya kadang pergi sore, keluar rumah, saat dia datang.

Selama datang dan pergi ke Solo Baru, banyak sekali pengalaman keluyuran. Kadang main ke tempat orang lain yang agak jauh. Pernah juga saya “menyasarkan diri” hingga ke jalan akses Tawangmangu. Begitulah, lalau lagi bingung mau ngapa-ngapain, kalau sudah bosan tinggal di rumah, bosan nonton televisi, saya dipersilakan Fajar agar keluyuran sendirian, bawa sepeda motornya: GL Max kesayangannya.

Selepas kuliah, dia sempat bekerja sama dengan saya, menerbitkan bukunya, “45 Menit X 2 Ala Indonesia” (Penerbit Djambatan). Saya diminta nulis kata pengantar di sana, tapi saya menolak karena tidak bisa. Fajar ngotot agar saya tetap membuat kata pengantar untuk buku kumpulan anekdot sepakbolanya itu. “Sebisanya!” desaknya. Jadilah! Kata pengantar pakai puisi. Dan salah satu kesan lainnya terkait ini adalah; dia berhasil mempengaruhi saya jadi penonton bola liga-liga Eropa (ketika itu liga di Indonesia sama sekali tidak menarik minat saya) hingga saya pernah kecanduan nonton sepakbola selama 2002-2008. 

Dia juga sempat mendaulat saya hadir di kampusnya, di Fakultas Sastra, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, bersana Donny Anggoro ketika itu. Sejak acara sastra di Fakultas Sastra UKI itu, mungkin tahun 2006, saya lupa tidak mencatat—kami tak pernah bertemu lagi. Kami hanya dihubungkan lewat telepon dan SMS. Saya bahkan tidak tahu apakah dia masih wira-wiri Solo-Jakarta, tinggal di Jakarta, atau sudah menetap di Solo dan sesekali ke Jakarta. Terakhir saya ke rumahnya di Solo Baru pada 27 Des 2007 di Solo, saat terjadi banjir besar dari Bengawan Solo. Akhir tahun 2009, saya  ke Solo Baru lagi, tapi tidak ketemu Fajar, cuma ketemu Dodit, iparnya. Dan pertemuan selanjutnya, 25 Maret 2011, terjadi lagi di UKI yang waktu saya mampir sebelum pergi ke ke IIBT di Kemayoran.

Sejak lepas itu, kami sangat jarang berkomunikasi. Bertemu tidak sama sekali. Hanya lewat Facebook, sesekali lewat SMS saja kami terhubung.

Dan entah ada angin apa, 6 September 2014 dia datang bersama beberapa orang, main ke rumah saya di Madura. Yang mengejutkan saya, dia juga mengaku pindah agama. Dia sedikit cerita tentang pengalamannya bekerja di KPU Tarakan, Kaltara. Sebagai teman, saya percaya saja, berbaik sangka saja. Karena sesungguhnya, iman atau keyakinan itu adalah rahasia terdalam setiap pribadi yang tak perlulah saya interogasi seberapa dalam ia diyakini. Saya sadar dan tahu diri:  saya bukan satpam, juga bukan malaikat.

Hingga akhirnya, di antara sekian rencana kunjungan, saya baru bisa membalas laga tandang ke rumahnya di Solo, pada 22 November 2019, enam bulan yang lalu. Namun, ketika itu, saya Fajar tidak tinggal di Carikan maupun Solo Baru. Saya menjumpainya di daerah Sangkrah, dekat pasar Kretek (kalau tak salah), tak jauh dari Jembatan Gilingan, Solo, bersama Istu, istrinya. Satu-satunya putranya, Defa (yang saya tahu hanya saat dia masih kecil, dulu) tidak ada di sana. Saat itu, dia baru sembuh dari sakit. Dia memang meminta saya agar mengunjungi dan menghiburnya. Namun, ketika melihat kondisi fisiknya, saya rada cemas, rasa cemas yang terbukti enam bulan berikutnya. Ya, karena pertemuan itu telah menjadi pertemuan kami untuk yang terakhir kalinya.

(Ditulis 15 Mei 2019, dua hari setelah wafatnya)

Celebis: Manado-Makasar Naik Bis

Apa perbedaan antara naik mobil pribadi dan naik bis umum saat kita melakukan perjalanan jauh? Banyak, dari unsur antropologis-psikologis hingga holobis-kuntul-baris, semuanya ada, eh, beda. Penumpang mobil homogen, sudah saling-kenal. Penumpang bis heterogen, bermacam-macam. Suasana kabinnya saja berbeda, demikian juga sensasi perjalanannya.

Sebelum melakoni perjalanan darat dari Manado ke Makassar, saya buka-buka buku ATLAS dulu sebagai orientasi medan (terbitan Mediantana; cet. 2010; dibeli awal 2011; harga Rp10.000). Dugaan saya, garis warna kuning di atlas tersebut menandakan Jalan Nasional, yang merah tebal kelas kabupaten (kolektor), yang merah tipis itu kelas residental, jalan desa. Atlas ini selalu saya bawa karena di samping aman dari pencurian, ia tetap memberikan informasi meskipun tidak ada sinyal.

Titik awal perjalanan adalah Manado. Saya tiba di sana, Jumat, 11 November 2019. Oya. Di Kota Seribu Gereja ini, nyari masjid agak sulit, tapi masih lebih sulit nyari gereja di Tidore (yang berjuluk Pulau Seribu Masjid). Hari itu, Arther, kawan saya, mengajak saya berdiskusi literasi dengan adik-adik MTs Al-Inayah. Sekolah tsanawiyah di sana mungkin tak banyak, atau malah satu dua saja. Dan ini adalah yang nyaris itu.

Saya memulai perjalanan panjang ini pada esoknya, Sabtu, 12 Oktober 2019. Jika kita anggap Celebes itu burung kasuari, maka Manado adalah kepala-nya. Terminalnya tipe A, bernama Malalayang, tapi kecil sekali, lebih kecil daripada terminal Caruban. Bis-bis medium rata-rata berangkat pagi, bis besar (tujuan Palu atau Luwuk) berangkat siang. Setelah lohor, terminal akan sepi, apalagi malam, sudah sepi, masih gelap pula.

Saya naik PO Rajawali (nopol DB-7192-MK; bermesin Hyundai, tapi stirnya pakai punya Xenia) dari Manado. Bis berangkat pukul 05.45 dan tiba bakda asar di Gorontalo. Ongkosnya 100.000 saja. Tempat rehat makan siangnya di Bintauna. Aslinya, bis kami melaju biasa, kisaran 60-70 km/jam. Cuman, karena tidak ada macet, 450-an kilometer dapat ditempuh 9,5 jam saja.

Malamnya, kami ngobrol buku dengan kawan-kawan pegiat literasi, seperti Jamil Massa dan Bang Imal serta kawan-kawan AJI. Perjumpaan ini membuat keluyuran saya lebih ‘literatif’, tidak sekadar rekreatif. Saya nginap di rumah Mak Zubaidi (saudara sekampung) demi alasan silaturahmi dan pengiritan biaya penginapan.

Esoknya (Ahad, 13/10), setelah ziarah ke Ju Panggola Raja Elato, saya berangkat lagi pada 09.27 dari Terminal Dungingi (Gorontalo), menuju Palu, ibukota Sulawesi Tengah. Rute kali ini lebih jauh, yakni 600 km. Saya naik PO BONE RAYA (DM-7574-AA). Sasis dan mesin: Toyota Dyna 135L. Ongkosnya Rp150.000 untuk waktu tempuh 19,5 jam dan jarak 600-an km.

Trek dari Gorontalo menuju Sulteng relatif sama dengan dari Manado, bedanya kelak-keloknya tidak seganas trek pantura-nya Sulut tersebut. Kami melewati Boalemo dan Pohuwato. Kota pentingnya Tilamuta dan Marisa. Bis masuk Moutong, ujung timur Kab. Parigi Moutong (prov. Sulteng), pada pukul 17.00 WITA (hampir maghrib). Kami tiba di Terminal Mamboro, Palu, menjelang subuh. Jadi, begini! Kalau kita susuri kabupaten yang ada di bagian ‘leher’ Sulawesi tersebut sejak matahari terbenam, maka kita baru akan nembus kabupaten berikutnya, Poso, menjelang fajar/subuh.

Setelah sehari dan setengah malam melakukan perjalanan, tiba di Toboli, bis belok kanan, tidak ambil lurus (ke Poso, Luwuk, Morowali). Kami melintasi Kebun Kopi—sebuah hutan sejauh 50-an kilometer—demi mencapai pantai barat Sulawesi, yaitu kota kecil Tawaeli, kota sebelum Palu. Dalam Atlas saya, jalan pintas ini berwarna merah tipis, artinya jalan residental (tapi sekarang sudah diperlebar). Sepanjang Gorontalo ke Palu, selain Hutan Santigi, medan yang tergolong ‘berat’ adalah trek ini.

Di Palu, saya dijemput Burhan untuk ziarah ke SIS. Siapa beliau? SIS adalah pendiri Al-Khairaat, salah satu perguruan Islam yang memiliki peran banyak penting dalam pendidikan. Selain itu, bersama Dedy Aryanto, saya diantar ziarah ke Dato Karamah. Meskipun bukan pejabat, saya diajak ninjau lokasi gempa/likuifaksi, juga diajak nyambangi Neni. Nama terakhir ini adalah pegiat literasi, pendiri “Nemu Buku”.

Saya nginep di kantor-nya Dedi Askari, kantor Komnas HAM. Saya juga baru kenal sama pak ketua ini di sana, diperkenalkan oleh orang ketiga yang sama-sama mengenal kami berdua. Alasan menginap di sana masih sama dengan alasan sebelumnya, gratisan.

Besok paginya, pukul 8, saya melanjutkan perjalaan ke Toraja. Di trek ini, saya tetap pilih bis ¾ atau medium: PO KETTY (DP-7610-KA). Sasis/mesinnya Mitsubishi Ragasa tahun kawak. Saya menukar Rp230.000 untuk rute Palu – Palopo – Rantepao yang jaraknya berkisar 650 km itu. Di dua etape sebelumnya, saya perhatikan, spesies truk/bis Mitsubishi kalau secara jumlah masih kalah sama Dyna dan Giga. Rute ini adalah yang paling lama dan terjauh. Jaraknya 650-an kilometer dengan total lama perjalanan (termasuk gangguan sistem buka-tutup jalan karena perbaikan ruas Kebun Kopi) adalah 24 jam.

Setelah kota Parigi, ada nama desa Dulango dan Masari. Sesudahnya, ada Torue. Mulai Kendaki sampai Tolai, banyak pura di rumah-rumah tepian jalan. Mungkin banyak perantauan Bali di sini, bahkan hingga ke batas kabupaten pun, tempat ibadah orang Hindu masih mudah dijumpai, berselang-seling dengan gereja dan sebagian kecil masjid. Sementara itu, sajian penoramanya berbeda sensasi dengan yang sebelumnya. Hamparan padi dan gunung makin berasa indahnya Indonesia.

Dalam perjalanan kali ini, kami rehat empat kali. Pertama di Sausu Torona, kedua di Taripa, ketiga di Pendolo, keempat di Puncak, Palopo – Rantepao (yang pertama dan terakhir rehat makan, yang kedua dan keempat rehat ngopi). Senang sekali saya amati mereka yang santai dalam menjalani hidup, begitu pula dalam menjalani rute.

Pukul 16.57, kami mencapai Terminal Poso. Sementara di angka 17.47, langit mulai temaram dan kami masuk Tentena. Pada 18.10, azan maghrib berlalu di Sangira. Sesudah itu, di Sulewana, sopir ambil seorang penumpang lagi. ‘Di tempat segelap dan sepelosok ini ternyata ada penduduknya, tho?’ Batin saya. Orang Jakarta perlu dikasih tahu agar jangan berdesak-desakan sampai bikin pulau buatan segala, pindah ke sini saja! Tanah kosong masih banyak.

Selepas Tentena, kami naik-naik ke puncak gunung, tapi tak kulihat pohon cemara di sisi kiri-kanannya, melainkan puspa ragam flora. Kami meliak-liuk. Perut diaduk-aduk. Ah, betapa jauh jarak antar-rumah penduduk!

“Turun mana kita?” Sejurus saya bingung ditanya begitu, baru sadar setelah ingat kalau “kita” itu artinya “kamu” dalam bahasa Toraja. Saya pun menyebut “Rantepao!” sebagai jawaban.

‘Perkotaan’ (perlu saya kasih tanda kutip agar Anda tidak berfantasi seperti kota-kota di Jawa) pertama yang dijumpa sehabis perjalanan dalam gelap adalah Mangkutana (Tomoni), Luwu Timur . Dari Wotu ke Masamba masih dua jam perjalanan. Sesudah kota itu, hanya tersisa lima penumpang tujuan Makale, kecuali saya yang turun di Rantepao (dan sayangnya, kali ini saya tidak bisa ke Kendari karena beda trek dan tujuan).

Ketakjuban itu terjadi saat kami masuk kota Palopo pukul 05.00 WITA. Bis ambil kanan, naik ke atas, ke Toraja. Sopir menepikan bis di halaman sebuah masjid.

“Di sini kalau mau salat,” katanya. Hanya saya seorang diri yang masuk masjid sendirian. Yang lain tentu tidak karena mereka beda keyakinan. Benar kata teman-teman, meskipun semua kru bisnya non-muslim, tapi mereka beri kesempatan saya untuk salat meskipun sendirian. Ini berkebalikan dengan yang terjadi di, ah, malu mau bilang-bilang.

Di tengah perjalanan 60-an kilometer dari Palopo ke Rantepao, kami sempat rehat untuk ngopi. Warungnya tepat berada di tepi jurang. Panorama kelas wallpaper dengan mudah dilihat di hadapan. Rasanya, terlalu indah untuk dituliskan atau direkam dengan gambar. Saya tidak akan menuliskannya karena khawatir terjadi “reduksi keindahan” di saat melukiskannya dengan narasi-narasi murahan.

Pukul 8 saya tiba di Toraja. Nama ini seperti Solo, tak ada di peta. Yang ada adalah Makale dan Rantepao. Keduanya adalah ibukota kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Saya disambut Wemy Evandro Maikel di sana, teman Facebook. Kami lalu tur singkat ke Kete’ Kesu dan wisata minum kopi. Malamnya, saya langsung cus Makassar dengan bis besar, PO Manggala Trans.

Di Toraja, armada-armada bisnya berkelas, seperti Scania K410, Mercedes 2542, atau M.A.N, jenis tronton atau tingkat. Sasis premium macam itu banyak di sini, kayak di Terminal Batoh, Banda Aceh. Pemandangan ini jadi terbalik dengan yang saya lalui selama 6 hari sebelumnya. Agaknya, orang Toraja memang punya kasta berbeda dalam hal selera. Itu tampak setidaknya pada angkutan antar-kotanya. Kata Wemy, “Ada yang pakai Innova Reborn, kok!” Kalau Innova lawas dan LGX, ya, jangan ditanya, saya lihat sendiri. Rupanya, ‘gengsi’ kerbau seleko yang biasanya disembelih di pesta kematian termahal di dunia itu berdampak pada angkutan transportasinya.

Demikianlah, dari perjalanan darat selama tujuh hari kalender di Celebes, dengan jarak tempuh kira-kira 1800 km dan 61 jam duduk di bangku bis, masih kalah rekor dengan perjalanan tahun 2018 dari Sabang ke Madura, yang 202 jam di atas bis, dan jarak sekitar 3800-an kilometer. Meskipun begitu, sensasinya sama-sama unik, sama-sama menakjubkan. Jadi, demikianlah. Ibarat skripsi, esai ini adalah kata pengantar sekaligus kesimpulannya. Adapun batang tubuh alias isinya, datang saja Anda sendiri ke Sulawesi. Surga itu ternyata tidak begitu jauh letaknya.

Mengendalikan Sampah dari Halaman Sekolah

M Faizi [1]

Kalpataru 2Hari-hari belakangan ini, isu bahaya dan dampak sampah plastik gencar terdengar di sekitar kita, bahkan di seluruh dunia. Kabar buruk tentang nano-plastik yang menyaru slick, yang memenuhi laut di sekitar perairan Hawaii (menurut laporan National Geographic edisi Mei 2019) merupakan kelanjutan kabar buruk sebelumnya yang investigasinya ditulis di dalam edisi “Bumi atau Plastik” (Juni 2018). Datanya mencengangkan: jumlah sampah di laut itu lebih banyak daripada ikan-ikannya.

Sementara itu, tidak seperti plastik, isu kertas kalah ‘seksi’. Ia sedikit sepi dari gosip dan rasan-rasan aktivis lingkungan. Mungkin karena masa peluluhannya yang jauh lebih singkat (hancur sendiri ‘hanya’ dalam hitungan bulan atau beberapa tahun), beda dengan plastik yang butuh ratusan tahun, itupun senyatanya tidak hancur, melainkan sekadar merepih dan berganti wujud, dari serakan ke sobekan, lalu berubah ukuran ke mikro lalu nano. Alasan inilah yang mungkin membuat kertas dianggap lebih ramah lingkungan. Kertas juga identik dengan media bacaan atau buku yang notabene merupakan sumber ilmu, padahal sebetulnya mata rantai produksinya juga rumit dan panjang.

Baru-baru ini, tersiar kabar seekor paus yang mati di perairan Waktobi dengan perut berisi hampir 6 kg plastik (termasuk di antaranya bekas sandal jepit) menghiasai berita beberapa media. Entah karena berita ini atau karena hal lain, selama April-Mei, Greenpeace, sebuah NGO internasional yang misinya adalah penyelamatan lingkungan, gigih berkampanye soal pengendalian penggunaan plastik sekali pakai (single-use). Menurut mereka, salah satu yang terbesar menciptakan limbah ini adalah Nestlé. Salah satu wujud aksi mereka adalah membuat “monster plastik”, menyusun sampah-sampah plastik berwujud binatang prasejarah, lalu menggiringnya, mengembalikan sampah sekali pakai (single-use) tersebut ke pabriknya, yaitu ke  kantor pusat Unilever di Amsterdam, kemudian dibawa ‘berenang’ ke Vevey, Swiss, tempat kantor pusat Nestlé berada.

Harus diakui, isu-isu semacam ini, baik soal plastik atau kertas, belumlah mengakar di dalam masyarakat, belum menjadi tema obrolan di warung atau kafe, kalah rating jika dibandingkan tema politik elektoral. Bahkan, ia baru menjadi wacara warga kelas menengah atau kaum terpelajar, itupun jika kelompok yang terakhir ini benar-benar mau membaca dan peduli pada isu lingkungan daripada sibuk main di kafe dan mal. Secara ironis, orang terpelajar lainnya justru memiliki keranjingan yang luar biasa terhadap sampah plastik. Jika tidak percaya, lihatlah gaya hidup mereka. Salah satunya adalah dengan melihat cara dan gaya mereka berbelanja.

Jika kita masuk ke mart atau toko swalayan, tidak ada bungkus daun pisang dan daun jati di sana. Semua bungkus dan kemasan serba-plastik. Kalau kita membeli korek yang bisa langsung dimasukkan ke kantong baju pun harus dibungkus menggunakan kantong plastik. Ketika ditolak, kasir juga menolak untuk tidak memberikan kantong plastik. Katanya,  itu merupakan SOP toko yang dijaganya. Perhatikan, bagaimana saat itu terjadi proses lahirnya sampah plastik dengan waktu paling singkat, hanya 30 detik, yaitu sekira perjalanan dari depan kasir ke keranjang sampah di balik pintu toko. Syukurlah, belakangan ini, setidaknya sejak awal tahun 2019, banyak toko yang mulai mengerti dan mengubah aturannya dengan lebih mengutamakan perspektif environmental daripada memberikan kantong plastik sebagai bagian dari pelayanan.

 

Sementara itu, kertas punya persoalan sendiri. Sebelum milenium kedua berakhir, peradaban nir-kertas sudah diramalkan oleh Bill Gates dalam pidatonya di saat ia mengundurkan diri dari kursi Microsoft. Ia membayangkan, di masa yang akan datang, semua orang tidak akan kesulitan lagi mengontrol bacaan, informasi, dari media digital. Ia membayangkan, orang bisa pesan minuman sekaligus baca berita dari meja kafe yang di situ pula ia menunggu pesanannya datang. Dan itu benar-benar terjadi sekarang. Era komunikasi dan informasi berbasis digital ini, kalau mau disederhanakan, dapat disebut sebagai “era matinya media berbahan baku kertas”.

Sejauh ini, industri buku rupanya masih aman-aman saja. Meskipun Jardiknas telah meluncurkan Buku Sekolah Elektronik (BSE) pada 20 Agustus 2008 yang silam, yang dimulai dari ide membeli hak cipta kepada penulis oleh Bambang Sudibyo (Mendiknas kala itu) agar buku dapat disebarkan dengan murah, dan dua tahun kemudian jumlah total BSE telah mencapai 407 buku, namun buku cetak masih berjaya sampai hari ini. Secara pasti, tidak ditemukan angka pemerosotannya secara karena ternyata masih banyak perusahaan penerbit dan percetakan yang tetap bertahan. Alasannya, paling tidak, kita belum tidak akrab dengan dunia digital rupanya.

SUDUT PANDANG YANG MENYESATKAN

Lantas, apa yang dapat kita lakukan dalam menyikapi masalah ini? Mengubah suatu tabiat yang sudah terpola nyaris tidak mungkin dilakukan, kecuali dalam waktu yang lama. Yang paling tepat haruslah dimulai dari lembaga pendidikan. Mengubah sudut pandang lewat lembaga pendidikan akan berdampak masif karena mereka akan turut memberikan pengaruh yang hebat kepada masyarakat sekitarnya. Kampanye poster dan banner bukan berarti tidak berguna, tapi jauh akan lebih bermanfaat dan berkelanjutan jika hal itu dilakukan dari lapisan yang paling dasar, yaitu dari pesantren, atau sekolah, dan keluarga, dan mode dakwahnya bil hal (langsung dengan contoh), bukan sekadar bil lisan (dengan ucapan/tulisan).

Salah satu masalah kita adalah jebakan perspektif tentang sampah, baik itu limbah plastik maupun kertas. Di mana-mana, dikampanyekan lingkungan yang bersih dan sehat dengan penyediaan tempat sampah. Beberapa sekolah adiyata agaknya juga begitu. Kita tidak pernah berpikir untuk menata pemahaman masyarakat dan lingkungan pada bukan semata-mata benar dalam membuang sampah ke tempat sampah. Yang paling fundamental adalah mengajak dan mengedukasi mereka agar belajar untuk menunda pemakaian barang-barang agar tidak segera menjadi sampah.

Salah persepsi itu berbahaya dan terkadang tidak disadari. Masih ingat, kan, ketika dulu ada ‘hibah’ komputer bekas dari negara luar ke dalam negeri kita sendiri? ‘Hibah’ tersebut nyatanya adalah “menjual dengan harga sangat murah” atau “sekadar mengganti biaya pengiriman barang”. Mungkin benar itu memang hibah, tapi juga sangat mungkin ia merupakan “trik membuang sampah elektronik” (yang jelas-jelas anorganik) dari negara maju ke negara tertinggal atau berkembang. Buang sampah pun tampak seperti gerakan amal, mirip-mirip orang yang jualan barang dagangannya dengan menggunakan dalil-dalil agama. Kapitalisme mana mau mikir soal komodifikasi agama ini.

Perspektif ini sama dengan ketika kita begitu terpesona terhadap negara-negara Barat yang lingkungannya bersih dan mereka peduli terhadap sampah. Tetapi, kita tidak ingat kalau mereka pula yang tanam modal di negeri kita lewat dengan industri: merusak alam dan tentu saja membuang limbahnya juga di sini. Belumlah kita perlu bicara sampah-sampah di angkasa luar sana. Tentu saja kita tahu negara mana saja yang paling bertanggung jawab untuk hal ini, tapi kita tidak pernah tahu seperti apa dan bagaiamana bentuk pertanggungjawabannya.

BERBAGI PENGALAMAN DARI SEKOLAH

Di SMA 3 Annuqayah, salah satu lembaga pendidikan di pondok pesantren Annuqayah (pondok pesantren ini adalah penerima penghargaan Kalpataru pertama pada 1981 kategori penyelamat lingkungan), warga sekolah terbiasa mengelola sampah kertas dan sampah plastik. Sekurang-kurangnya, hal itu dimulai sejak peringatan Hari Bumi pada tahun 2008 yang digagas oleh kepala sekolah kala itu (M Mushthafa) dengan membentuk komunitas pemulung sampah, Pemulung Sampah Gaul (PSG) namanya. Ia merupakan komunitas yang secara organisatoris berada di bawah OSIS.

 

Hari ini, setelah 11 tahun kemudian, PSG berperan aktif mengendalikan sampah plastik di lingkungan sekolah, menyaring sampah dari hulu, dari depan kelas, sebelum dibuang ke tempat akhir yang sebagiannya dijadikan kompos untuk dibuat pupuk umbi-umbian yang ditanam di bidang tanah tersisa. Umbi-umbian ini adakalanya dipanen, diolah, dan disuguhkan ketika sekolah mengadakan acara atau kegiatan temporal. Layar acara yang digunakan adalah kain lebar dan tulisannya menggunakan kertas bekas. Tidak ada banner dan vinyl di dalam aula atau ruang kelas. Minuman yang disajikan pun berbasis gula merah dan daun sereh, menggunakan gelas atau cangkir. Walhasil, setiap selesai melaksanakan kegiatan, nyaris tidak ada sampah (plastik) yang tersisa.

Pada fase-fase awal, tentu saja ide dan cita-cita ini mengalami tantangan, terutama dari siswa, bahkan guru, yang tidak terbiasa berpikir panjang tentang limbah plastik dan kerusakan lingkungan. Pola berpikir yang ada begitu sederhana: selagi ada dana/uang, beli AMDK atau barang apa pun, buang sampahnya, bersihkan ruangan, selesai. Begitu urutannya. Hidup sederhana itu dianjurkan, tetapi menyederhanakan persoalan, apalagi pemikiran, itu yang keliru. Belakangan, semuanya berubah. Hampir semua lapisan warga sekolah sudah paham terhadap sampah, dari bentuk kemasan hingga menjadi limbah.

Untuk sosialisasi, PSG menumpang pengajian ibu-ibu (karena seluruh siswa di sekolah ini adalah perempuan) untuk memperkenalkan jenis dan bahaya sampah plastik. Dengan cara melibatkan tetangga, hubungan sekolah dengan masyarakat sekitar jadi lebih terbuka, tidak eksklusif sebagai banyak kita lihat di berbagai tempat. Mereka juga bekerja sama dengan sekolah atau madrasah terdekat untuk berbagi pengalaman dalam mengeola sampah plastik, di antaranya dengan mendaur ulang, seperti membuat kriya atau kerajinan tangan berbahan plastik bekas, seperti tas dan dompet. Terakhir mereka bekerja sama dengan toko milik yayasan: menghadiahi para pelanggan dengan tas plastik buatan mereka namun dengan nota kesepakatan, yaitu akan membawa tas tersebut jika berbelanja dan menolak menggunakan kantong plastik sekali pakai.

Di lingkungan sekolah tersebut, disedikan air minum dalam galon yang diletakkan di beberapa titik, di depan kelas, dengan piket penyediaan yang diatur oleh OSIS. Begitu pula, kerjasama dengan kantin dan penjual cemilan dijalin, yaitu dengan menyediakan piring (dan tidak lagi dibungkus kertas nasi) serta mangkok (bagi penjual pentol, tidak lagi pakai plastik), dan lain sebagainya. Meskipun cara ini ribet dan pada awalnya ditentang oleh pihak penjual, namun berkat penyadaran dan kerjasama, masalah dapat diurai dan berjalanan lancar. Yang melanggar tentu saja masih ada, tapi tidak seberapa.

Adapun cara mengendalikan sampah kertas, di SMA 3 Annuqayah, kepala sekolah menggunakan kertas bekas setengah pakai (halaman sebaliknya masih kosong) untuk program Perpustakaan Masuk Kelas. Teknisnya: sekolah menyediakan berbagai macam bahan bacaan (artikel 500-600 kata) dan dicetak di kertas tersebut, lengkap dengana sari katanya. Kertas dibagikan pada jam pertama, sebelum guru datang. Jadi, sebelum kegiatan belajar di kelas dimulai, minimal satu artikel sudah dibawa oleh siswa, beberapa kosa kata telah dihapal. Artikel-artikel dari kertas bekas ini kemudian dihimpun lagi dan ditukar dengan kelas yang lain, begitulah seterusnya.

Pemanfaatan kertas bekas juga dapat diterapkan untuk laporan akhir tahun sekolah yang disebarkan kepada guru dan/atau kepada wali siswa pada saat pembagian rapor. Di samping untuk menghemat anggaran, cara seperti ini dimaksudkan untuk untuk mengedukasi warga sekolah perihal sampah, termasuk cara berhemat dan mendaur ulang. Biasanya, pada saat sambutan, kepala sekolah menjelaskan sedikit hal tentang alur produksi kertas sehingga hadirin tahu dan sadar bahwa laporan dalam wajud kertas bekas itu bukanlah karena sekolah kurang menghargai mereka atau bahkan pelit, melainkan lebih karena alasan environmental.

Masih banyak cara lain yang dapat dimanfaatkan dari kertas bekas ini. Namun, yang terpenting adalah mengubah pola pikirnya jika tujuannya adalah jangka panjang, seperti menjelaskan bahwa dengan adanya uang dan ketersediaan dana bukan berarti kita lantas boleh untuk menghambur-hamburkan atau mubazir dalam menggunakan barang, termasuk menggunakan tisu dan kertas lainnya. Agaknya, pola pikir “ada uang = boleh mubazir” seperti ini masih banyak ditemukan di dalam kehidupan masyarakat kita. Nah, dengan memulai pendidikan dan menciptakan kebiasaan dan pembiasaan dari ruang-ruang kelas di sekolah, bukan mustahil, capaian jangka panjang, yakni pemahaman masyarakat terhadap lingkungan, akan terbentuk dengan baik.

Untuk melengkapi proyek sekolah berwawasan lingkungan ini, sekolah, melalui PSG, sesekali mengadakan pameran lingkungan atau kemah lingkungan. Semua kegiatan dan aktivitsnya harus saling mendukung. Di dalamnya, disediakan makanan berbasis gula merah karena kebetulan berada di wilayah yang dekat dengan petani siwalan dan kini mulai banyak ditinggalkan. Adapun penganannya, sebagian besar, diproduksi sendiri, seperti umbi-umbian yang dipanen dari kebun sendiri dengan cara memanfaatkan sisa lahan tanah kosong milik sekolah atau pinjam pakai terhadap tetangga sekitar.

Apa yang telah dilakukan satu sekolah selama lebih dari satu dasawarsa untuk berkomitmen dan peduli terhadap lingkungan, boleh jadi tidak bisa diterapkan di sekolah/tempat lain karena alasan beda kawasan dan kebiasaan. Akan tetapi, yang dapat kita lakukan di mana pun adalah komitmen untuk terus berbuat kebaikan dengan memantapkan niat agar yang kita lakukan tidak murni hanya gerakan biasa, melainkan juga ibadah yang akan mendapatkan pahala. Jika pembiasaan telah menjadi kebiasaan, maka semua masalah sampah akan beres dengan sendirinya.

Kita dapat memulai dari mengubah sudut pandang. Salah satunya dengan tidak sibuk memasang plakat buanglah sampah ke tempatnya, melainkan membiasakan hidup berpengendalian dan kontrol, seperti menunda penggunaan barang yang segera menjadi sampah, terutama sampah plastik. Kita mestinya tidak sibuk dengan plakat dan jargon yang hadiahnya sebatas penilaian pada akreditasi sekolah, melainkan dengan tindakan dan tindakan nyata dengan demi proyek jangka panjang. Siswa meneladan guru dengan melihat dan meniru. Misi pendidikan akhlak lingkungan tidak bisa sekali jadi. Ia harus dibangun sejak awal, dan dimulai dari lingkungan kecil-terbatas, dari ruang keluarga dan ruang kelas.

(artikel ini rencananya mau diikutkan lomba esai yang diselenggarakn oleh Qureta, tetapi terlambat dikirimkan karena lupa 😦 )

 

 

Yang Hilang: Yang Terasa dan Yang Tanpa Disadari

Ada hak-hak yang ketika tidak terpenuhi ia akan langsung terasa. Contohnya adalah seperti hak mendapatkan ruang bagi pejalan kaki. Ketika tepian jalan dihabisi, langsung terasa betapa susahnya kita berjalan dan merasa aman. Ada pula hak yang hilang dan kita tidak segera menyadarinya. Apa itu? Banyak sekali, di antaranya adalah hak untuk melihat keindahan alam, seperti sawah yang membentang, hutan yang lebat, atau keindahan bukit-bukit batu karst yang membujur di atas pulau.

Trotoar yang beralih fungsi tempat jualan atau parkiran dapat dikembalikan dengan aturan atau regulasi, lalu kita dapat kembali merebutnya kembali, menjadi tempat yang nyaman untuk berjalan kaki. Hutan yang dibabat, yang beralih fungsi, hilangnya keanekaragaman hayati, barangkali butuh puluhan tahun, atau ratusan, untuk melihatnya maujud kembali, tentu saja dengan syarat tanpa adanya kerakusan generasi berikutnya.*)

 

Akan tetapi, jika yang hilang adalah bukit batu dan tanahnya, bagaimana cara kita menciptakannya kembali? Bisakah kamu membuat batu menggunduk di atas gunung, bisakah kamu menciptakan air untuk diminum? Batu terbuat dari suratan dan air terbikin dari tangisan. Sekali ia pergi, ia tak datang kembali. Maka, manakala kamu apel pagi atau merayakan upacara tujuhbelasan, pastikan tanah yang kaupijak: milikmu, milik kita sendiri, yang nyata, bukan pinjaman, apalagi hanya terbentang di dalam cerita rekaan.

Sesungguhnya, yang kamu anggap hak milik, hak-hakmu itu, bukan benar-benar dan sepenuhnya milikmu. Ada hak-hak cucumu juga di sana. Di Bumi ini, kita ini hanya menumpang. Hak kita untuk tinggal, kewajiban kita untuk merawat. Jadi, jangan rakus! Wariskan ia untuk anak cucu kita sebagai kekayaan bumi pertiwi, bukan sekadar warisan cerita: “Pada zaman dulu kala, di sini terbentang alam nan indah, namun kini telah tiada…”

(M. Faizi)

__________________

*)

Menurut Routledge Handbook of Corruption in Asia (2017), inilah yang membuat pelaku korupsi mendapatkan pembenaran sehingga mereka melakukan itu semua dengan biasa saja.

Prof Hariadi Kartodiharjo (dalam buku “Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan”, terbitan Forest Wacth Indonesia, 2018), menulis bahwa dalam suatu pertemuan di KPK yang membahas inisiatif swasta dalam pengendalian korupsi, tahun lalu (buku terbit 2018, berarti kejadiannya 2017), disebutkan bahwa pontensi suap di seluruh Indonesia –hanya dalam satu tahun saja mencapai sekitar 51 trilyun. Semuanya terkait dengan perizinan.

Tersurat data kajian di lembaga anti korupsi tersebut, kalau di tahun 2015, pendapatan negara yang hilang sebab kayu bulat yang berasal dari konversi hutan untuk kebun dan tambang telah mencapai angka 49,8 – hingga 66,6 triliun per tahun, itu hanya 11 tahun saja (2003-2014). Dalam pelaksanaan GNPSDA-KPK, didapati temuan kekurangan bayar pajak sektor pertambangana, perkebunan kelapa sawit, maupun dari sektor kelautandi tahun 2014  sekitar 126 triliun. Nilai uang sebanyak itu berpotensi sebagai dana kampanye dalam pelaksanaan PILKADA.

 

 

Disebabkan oleh Tembakau (Drama)

Campalok Jambangan Guluk-Guluk Sumenep 2Naskah oleh M. Faizi

(Para Pelaku: Sarip, Sujak, Tajul, Haji Dul Gani, Hansip)

Sarip:                (Menggumam sambil ngelap sepeda motornya) Memang, musim tembakau memberikan banyak keuntungan, ya, bagi pedagang, bagi bandul, bagi siapa sajalah, bahkan kalau pedagang emas seperti Haji Mahfud itu, wah, bisa beli mobil lagi dia. Honda Supra pun sebenarnya sudah cukup, kok.

 

(Improvisasi: monolog tentang keuntungan tembakau)

 

Bahkan kalau saja tembakau Madura bisa diekspor, semua masyarakat di sini mungkin akan pakai mobil, tapi repot juga sih, entar kalau aku beli, nanti mau diparkir di mana ya, wong jalan ke rumahku saja nggak ada, thak paletthok. ohoi…gampang, bisa dititip di Haji Dul Gani yang di pinggir jalan.

Sujak:               Tapi, enggak jugalah, friend. Aku bahkan punya ide agar penanaman tembakau dilarang di seluruh Madura.

Sarip:                Sebentar, maksudmu dilarang  gimana? Memangnya masyarakat kita mau disuruh makan garam saja? Atau mau disuruh cari makan ke Malaysia, Arab Saudi? Kalau bukan tembakau, kita ini punya apa?

Sujak:               Tapi, kalau semua ini cuma permainan,  mau apa lagi, bubarkan saja tembakau. Ganti dengan, apalah, yang tidak berbahaya bagi kesehatan. Sebab nyatanya, setiap tahun, tembakau memakan korban, setiap tahun, tembakau selalu over produksi. Akibatnya menumpuk, tak terbeli. Yang kalah, petani lagi, petani lagi yang rugi. Sekali-kali, petani, dong, yang menang, yang jadi pahlawannya, jangan dikalahkan terus-terusan.

Sarip:                (mencoba bergaya bijak)Ya, tidak sesederhana yang kamu katakan, Jek. Persoalan ekonomi itu persoalan kompleks. Kalau cuma mau bisa menyalahkan, enggak usah sekolah pun bisa, kok! Lihat kemiskinan bangsa kita, tidak bisa dilihat dalam satu perspektif saja: sosbud dan politik juga dipertimbangkan.

Sujak:              Tapi, kamu ngomong kayak gitu karena kamu diuntungkan oleh tembakau, kan?

Sarip:                (menghadap penonton) wah, repot kalau bicara dengan orang yang tidak   punya basis intelektual!

Tajul:                (masuk tergopoh-gopoh, bingung) Tolong aku. Tolong aku! Aku numpang ngumpet. Aku dikejar Hansip!

Sarip&Sujak:    Ada apa? Ayo jelaskan dulu, tenang, tenang. Di sini kamu aman.

Tajul:                (kepada Sujak: sambil tertawa) Oh, iya, kamu kan hansip juga, ya? Wah, iya, iya (garuk-garuk kepala). Kalau begitu, aku salah minta perlindungan nih.

Sujak:               Tidak kawan, jangan khawatir. Soal keamanan bisa diatur. Ada apa, sih?

Tajul:                Katanya bensin turun, tapi harganya, kok, selangit; katanya tembakau mahal, tapi, kok, berbal­bal tembakauku enggak laku. Gudang sudah tutup.

Sarip:                Lho, apa hubungannya dengan minta perlindungan?

Tajul:                Aku itu dikejar-kejar orang. Dia nyuruh hansip agar memburuku.  Dia bahkan mengancam akan menyerahkanku pada polisi kalau tidak segera membayar tunggakan hutangku…lha, wong, duitnya kugunakan untuk menomboki utang belanja palaron untuk pengairan kampung.

Sujak:               (bergaya membetulkan suatu ucapan yang salah) Bukan palaron, tapi balaron.

Sarip:                Terus, hubungannya dengan kamu dikejar-kejar?

Tajul:                Ya, yang salah aku, sih, sebenarnya. Dulu aku ngutang baralon, eh, palaron, kupakai dulu buat sumur di rumah. Dan setelah aku punya uang, aku ganti, tapi pakai uang dia itu, he, he.

Sujak:               Ngawur kamu! (Kini memandang tajam pada Sarip) Nah, ini satu lagi bukti konkret bahwa tembakau yang digunakan untuk merokok tidak cuma menyebabkan serangan jantung dan kanker, tetapi membuat orang dikejar­kejar utang.

Sarip:                Kamu itu payah, sudah terpengaruh. Ya, itu kan salah dia, bukan salah tembakau.

Sujak:               Tapi, kalau diusut, penyebab utamanya ‘kan tembakau juga

Sarip:                Ya, nggak lah, tembakau itu urusan bisnis, kalau dia urusan penipuan…

Sujak:               Tapi, penipuannya kan karena bisnis tembakau.

Sarip:                Kamu itu; pernyataan benar, alasannya salah.

Sujak:               Nggak apa­apa, yang penting kan cepat menjawab. Terserah mau benar, mau salah, yang penting cepat tanggap. Yang jelas, semua keributan, penipuan dan kerugian, disebabkan oleh tembakau.

Tajul:                (intonasi marah sambil menunjuk) Diam kalian! Yang punya masalah itu aku, bukan kalian, kok malah kalian yang bertengkar. Sekarang yang jadi permasalahannya; aku ini mau sembunyi di mana?

Sujak:               Pokoknya, aku akan adukan ke Pusat. Bubarkan tembakau! Bubarkan tembakau! Garap lahan yang lain. Kita itu kaya, Rip. Tambang? Ada Pagerungan dan  pulau-pulau yang lain.  Kekayaan laut? Rumput laut kita ekspor, ikan berlimpah, kurang apa? Produksi garam? 70% garam Indonesia itu dari Sumenep. Kita seharusnya memaksimalkan fungsi otonomi daerah, dong, jangan cuma tembakau melulu yang diomongkan. Kita ini kaya, tapi kenapa kok bisa kita miskin?

Tajul:                Itulah keanehan yang lain: bensin turun tapi harganya naik, kita kaya tapi kok miskin. Ayo, bisa jawab, enggak?

Sarip:                Hey (kepada Sujak) Kamu ternyata pintar juga, ya! (kepada Tajul) dan kamu ternyata kritis, pandai ngoceh! Kalau pagi suka makan pisang, ya? Tapi, kalau permintaaan kalian itu dituruti, yang akan merugi pasti banyak.

Sujak:               Pasti lebih banyak untungnya. Aku yakin, dengan kekayaan kita, utang Luar Negeri tidak usah dibayar Indonesia, cukup Sumenep yang bayar!

(Haji Dul Gani masuk bersama seorang Hansip, tiga orang lainnya terkejut).

Haji Dul Gani:  Assalamualaikum…

Sarip:                W.a.l.a.i.k.u.m. s.a.l.a.m. (terbata­bata) Jidul Gani, hah?

(Sujak dan Tajul sama­sama ketakutan).

Haji Dul Gani:  Rupanya, di sini, ya, markas kalian?

(Ketiga­tiganya saling menyalahkan, mereka merasa telah tertipu, terjebak)

Haji Dul Gani:  Sarip, kembalikan motor yang kaupinjam itu! Ngomongnya setengah hari, kok jadinya seminggu?

Sujak, kapan kau mau membayar uang sewa tanah?

Sujak:               Tapi, saya bangkrut, pak haji. Sungguh, tembakau saya juga enggak laku. Saya ngambil tembakau di Jawa dan ternyata gudang sudah tutup, mungkin bulan depan, ya, bulan depan pak haji.

Tajul:                (dengan tampang bego) Kalau saya, rencananya memang mau ke tempat pak haji, ya, sesudah rembukan di sini, saya ke mari cuma mampir, kok. (menrik napas panjang) Dan alhamdulillah, ternyata pak haji datang dengan sendirinya ke mari.  Jadi, saya tidak perlu ke rumah pak haji.

Haji Dul Gani:  (Gembira, tertawa jumawa) Yah, alhamdulillah kalau kamu sadar. Uang yang kamu pakai itu kan kas kampung, jadi aku bertanggung jawab untuk segera membelikan paralon agar pengairan di kampung lancar. Yang merasakan enak kan tidak kamu dan aku saja, tetapi semua masyarakat.

Tajul:                Tapi, pak Haji…

Haji Dul Gani:  Kenapa? Malu kalau bayar di sini? Enggak apa­apa, di luar saja.

Tajul:                Nggak pak haji, rencananya..

Haji Dul Gani:Oh, iya, aku paham. Aku paham, kok. Kalau mau ke rumahku, ya, silakan. Sekalian, kamu mau silaturrahim kan?

Tajul:                Bukan pak haji, saya memang mau silaturrahim ke rumah pak haji, sekaligus mau minta maaf.

Haji Dul Gani:  Maaf apa? (nada agak merah)

Tajul                 Saya mau ketemu pak haji untuk mengatakan… mmm… bahwa saya akan menunda pembayaran utang ke musim tembakau di tahun depan. Maaf sekali, pak haji.

(Haji Dul Gani langsung roboh, semaput)

Tajul:                Kurang ajar kalian! Tembakau itu anugerah, otak kemaruk kalian saja yang kejam. Rupanya kalian ini pencoleng semua, Bajilll…

(Orang­orang bergumam, saling menyalahkan, mereka menggotong pak haji ke luar dan pementasan telah selesai).

 

7 September 2002

Semalam di Pulau Raas

Raas.png

Berlayar ke Pulau Raas, Jumat-Sabtu (1-2 Mei 2018) kali ini adalah kali pertama bagi saya, entah bagi anggota rombongan lainnya. Kami agak kerepotan sedikit karena harus berangkat sebelum subuh dari rumah agar “sudah menjadi musafir” pada hari Jumat sehingga kami bisa mengerjakan salat duhur-asar di Pulau saja. Diputuskan: habis sahuran, kami berangkat.

Kabarnya, KM Dharma Kartika yang dikelola oleh Dharma Dwipa Utama (dulu DLU) baru jalan lagi setelah sebulan docking (diperbaiki). “Makanya, penumpang tidak banyak,” kata Zidqi yang menjemput kami, “karena mungkin masih banyak yang tidak tahu kalau hari ini kapal ini berlayar lagi.” Memang betul, Jumat pagi kala itu, tidak banyak penumpang, kecuali mobil barang. Di ruang penumpang bawah, saya hitung kurang dari 10 orang.

Laut tenang di awal Juni. Kapal berangkat molor sedikit dari jadwal: 08.15. Kabarnya, selasa sebelumnya, 29 Mei, angin kencang luar biasa sehingga banyak orang yang mabuk laut. “Bahkan, orang Raas pun bisa mabuk,” kata Wasid memberikan testimoni kehebatan ombak. Beruntung hari ini tidak, bahkan relatif tenang sehingga saya (bersama Om Mamak, Affan, Pak Suyar, dan beberapa santri yang mudik) sudah bisa sandar pada pukul 12.46.

Di Raas, astaga, saya bertemu dengan banyak orang yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya kalau mereka berasal dari sana. Di antara mereka adalah Lukman Mahbubi dan Rafli yang notabene murid saya di Madrasah Aliyah Annuqayah. Kebahagian langsung menyemburat pada pertemuan pertama.

Sakala.pngRaas ini adalah pulau yang secara jarak berada di 72 kilometer dari pelabuhan Kalianget. Jauh memang, tapi ingat, Kabupaten Sumenep masih punya Pulau Sakala yang jaraknya 270 km dari Kalianget atau Karamaian yang berjarak kira-kira 250 km.  Apakah Sakala ini adalah pulau yang paling jauh dari daratan kepulauan? Di Sumenep iya, tapi tunggu dulu, di dunia ini adalah Pulau Paskah yang jaraknya 2700 kilometer dari tepi barat Chili, di Amerika Latin sana. Semua jarak di atas menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan yang ini, bukan?

Kami datang ke pulau Raas untuk menghadiri undangan anak-anak muda Generasi Pelajar dan Mahasiswa Raas (GPMR). Mereka mengadakan hajatan Festival Malengseng (sebagian menyebut “manengseng”) dan mengemas salah satu sesi acaranya dengan Ngaji Budaya: “Dari Raas untuk Indonesia”.Terdengar ambisius? Tidak juga. Raas sekarang mulai dikenal luas sejak kucing Bhusok masyhur belakangan ini.

Tak habis pikir saya takjub, ada sekelompok anak muda yang punya itikad untuk melakukan perubahan di pulaunya yang jauh dari kota kabupatennya. Takjub yang kedua adalah karena ketuanya, Sulton, baru lulus SLTA. Lebih takjub lagi dan lagi, acara yang diselenggarakan di halaman MTs/SMK Al-Ittihad tersebut dihadiri oleh Pak Camat Raas dan segenap aparatur negara, lengkap. Mereka anteng mengikuti acara sampai pukul 00.10.

Saya bermalam di kediaman Pak Masdawi Syam, dekat pelabuhan Ketupat, ujung barat Raas (padahal fery yang kami naiki berlabuh di ujung timur, desa Brakas). Jarak yang membentangi pulau adalah 14 km. Sebetulnya, desa ketupat ini ‘terpisah’ dari Raas, sehingga lebih tepat kalau disebut Pulau Ketupat andaikan Anda menggunalkan citra satelit untuk melihatnya. Konon, para sesepuh pulau, dulu, menimbun permukaan laut yang paling dangkal dengan batu-batu karang setelah sebelumnya mengamankannya lebih dulu dengan menanam tenjang (dibaca “ténjhang”; bakau, mangrove) di kanan-kirinya.

Tetangga desa Ketupat adalah Jungkat. Asal penamaan desa Jungkat ini konon berawal dari upaya Adi Rasa, sang pembabat pulau, yang menjunjung kayu besar dan kemudian mengangkatnya untuk dijadikan jembatan: jadilah “jungkat”. Makam beliau ada di desa Kropoh, desa yang berdampingan dengan desa Alasmalang. Adapun pusat administrasi kecamatan ada di desa ujung timur, di Brakas, setelah sebelumnya ada di ujung barat. Dua desa yang lain di pulau itu terletak di sisi selatan: Karang Nangka dan Poteran. Ada beberapa pulau kecil berpenghuni di sekitar Raas (Tonduk dan Guwa-Guwa, Komereyan, Talango Aeng, Talango Tengah). Ada pula Talango Timur dan Saro’ yang sama-sama tak berpenghuni. Nah, kedua pulau ‘nirawak’ ini yang biasanya rawan jadi milik pribadi.

Pelayaran pulang hari ini, Sabtu, 2 Juni, dengan kapal yang sama, Dharma Kartika, sangat menyenangkan dan menenangkan. Pelayaran sungguh ‘licin’ (istilah orang pulau untuk menjelaskan laut yang tenang). Rombongan pulang duluan paginya naik kapal kayu, sementara saya pulang sendirian siang hari naik fery karena masih sempat mikir untuk bermalam lagi. Sayangnya, rencana mengingap lagi tidak jadi karena saya punya jadwal lagi besok malam (Ahad, 3 Juni). Siang itu, lautan benar-benar tanpa gelombang. Para penumpang juga masih tidak terlalu membeludak. Lebaran masih setengah bulan lagi.

20180601_124651-01

foto milik Pangapora

20180601_123435-01

foto milik Pangapora

Maghrib turun saat kapal menyisir sisi selatan pulau Poteran (Talango). Para penumpang berbuka bersama di anjungan, sebagian di kamar. Lampu-lampu sudah menyala di Kalianget. Pelabuhan tak jauh lagi. Suatu saat, saya akan kembali, Raas! Karena tidak mungkin saya menceritakan banyak hal jika ia hanya bersumber dari satu kali kunjungan sehari-semalam.

Sabang – Madura

Perjalanan saya ke Sabang awal Maret lalu dengan cara melakoni jalan darat hingga Madura terlaksana dengan baik. Keinginan ini sudah saya simpan begitu lama. Menghayati keindahan sebagian alam Indonesia melalui setiap tikungannya benar-benar berasa menakjubkan. Sebab itulah, terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan apresiasi, tenaga, pikiran, sumbangan material, dorongan, dan sebagainya.

Berikut adalah rangkuman perjalanan saya. Adapun catatan perjalanan yang lebih rinci untuk setiap babak jalur daratnya sudah saya tulis dan saya terbitkan secara langsung, di Facebook dengan hashtag #sabangmadura. Foto-foto pada posting blog ini bersumber dari kamera yang saya gunakan maupun dari orang lain (mohon izin saya pakai).

HARI KE-1, SABTU, 3 MARET:

Diantar Mundzir pakai Honda Grand ke Prenduan, saya berangkat pukul 23.00 dengan AKAS menuju Surabaya, nyampe pukul 02.30.

HARI KE-2, AHAD, 4 MARET

Makan soto dulu di tempat biasa sambil melihat kesibukan terminal Purabaya, saya berusaha duduk tegak di bangku depot, tidak bersandar, takut ketiduran. Hampir subuh, karena bis Damri tujuan Bandara baru beroperasi pukul 05.00 sedangkan jadwal penerbangan saya pukul 05.30, saya pun berangkat ke Bandara, ngojek dengan ongkos 30.000 (ojek biasa, bukan gojek; saya tidak pakai aplikasi). Habis subuhan di mushalla bandara yang sempit (bandaranya gede amit, mushallanya sak crit-iprit), saya langsung cari pintu 8 untuk boarding, siap masuk ke kabin Batik Air (ID 6401).

Tiba di Jakarta, jatah waktu transit cukup pendek, tapi masih leluasa untuk mengurus penerbangan lanjutan (connecting flight). Maka, pukul 07.45, saya nyambung lagi ke Banda Aceh dengan maskapai yang sama (kodenya ID 6896) dan tiba di BTJ pukul 10.35. Landing sangat halus, mungkin pilotnya bekas pilot pariwisata. Namanya Kapten Damar kalau saya tak salah dengar.

Saya dijemput oleh Ananda Ampon. Orang ini tidak pernah jumpa dengan saya. Kami hanya berteman di Facebook. Kami diperkenalkan oleh Mas Fatur. Dia datang dan saya langsung menyebut nama tujuan: warung kopi kesohor. Dia ajak saya ke kontrakannya sebentar, lalu bawa saya ke Solong. Saat itu, saya juga janjian dengan Nazar. Orang ini malah sudah lama kami saling kenal. Saat saya minta petunjuk arah sama si Ampon dan bilang bakal ada satu teman saya yang juga mau bergabung. Saya jelaskan sama Ampon bahwa teman saya itu pendiri sekaligus vokalis band “Apache 13”. Dia kaget karena saya kenal dia. Saya ikut-ikutan kaget karena ternyata Nazar sekarang sudah jadi artis, sama sekali saya tidak menyangka. Ketika bertemu, kami kaget berjamaah karena ternyata bisa bertemu sungguhan, hanya diperantarai oleh kupi-kupi di atas meja..

Sorenya, pukul 16.00, kami nyeberang ke Pulau Weh, Sabang. Rencana ini bersifat dadakan karena Ampon bilang ada kerjaan sama Mas Uhib. Jadi, sore itu kami pergi bertiga. Rancangan awal perjalanan adalah pergi sendirian, esoknya, Senin, 5 Maret 2018. (Intinya, saya harus sudah berangkat ke Medan pada malam Selasa, itu kata kuncinya).

Kami naik ferry cepat Express Bahari. Ongkosnya 80.000 per gundul. Jaraknya 30,5 km yang  ditempuh 45 menit. Bisa dibayangkan kecepatan ferry ini, atau gunakan hitung-hitungan kalau mau tahu angka spido yang pasti.

HARI KE-3, SENIN 5 MARET:

Saya masih ada di penginapan sampai pukul 10.00. Agak rugi juga kalau cuma ngendon di situ, pikir saya. Tetapi, saya juga tidak bisa ngapa-ngapain kerena dua orang sahabat baru saya ini sepertinya masih punya urusan serius dengan bantal dan kasur. Saya biarin, tapi saya tidak ikut-ikutan. Untuk apa jauh-jauh pergi ke Sabang jika hanya untuk tidur?

Siang kami balik ke Pelabuhan Balohan. Gara-gara keasyikan ngopi di pelabuhan, menu kopi saring (kupi tarik) yang rasanya memikat, sampai-sampai kami yang menunggu lebih dari satu jam untuk kapal cepat yang terjadwal berangkat pukul 14.30 itu pun berakhir ‘tragis’. Kami terlewat. Kami berlari ke pelabuhan dan ferry ternyata sudah berangkat. Akhirnya, kami balik lagi, duduk lagi, ngopi lagi. Nasib kami sama seperti kemarin: dapat kapal yang terakhir. Coba saja ketinggalan lagi, pasti kami sudah menginap di Pulau Weh ini. Tentunya, jika hal ini terjadi, seluruh rancangan perjalanan akan berubah.

Dari pelabuhan Ulee Lheu (Banda Aceh), saya mampir sebentar di rumah paman Ampon. Dia ada urusan katanya. Sebentar kemudian, saya menuju ke Landom. Kami janjian dengan Fauzan. Untungnya, Fauzan ngontak kawannya yang ternyata juga merupakan kawan saya yang lain, Azahari Aiyub. Di antara waktu yang tidak lama itu, kami ngobrol banyak hal, mulai dari tradisi ngopi, ketaatan menjalakan syariah warga Aceh sejak sebelum diperda-perdakan, serta kegiatan kami bertiga selama ini.

Ananda Ampon lantas pergi entah ke mana. Kami janjian ketemu lagi bakda isya, di kedai kopi El Commandante, depan Terminal Batoh. Sementara saya memasrahkan diri kepada Fauzan agar setelah azan maghrib, saya diumpan ke Masjid Raya Banda Aceh, Masjid Baiturrahman, dan setelah itu agar mengumpannya lagi ke terminal. Semua itu dieksekusi dengan baik. Maka, malam itu, perjalanan darat naik bis yang saya taksir akan menempuh 3800 kilometer sampai rumah ini pun dimulai.

Saya melakukan perjalanan naik bis di Pulau Andalas ini ke Medan dengan bis PMTOH.

HARI KE-4 SELASA 6 MARET:

Saya tiba di pool PMTOH di Medan pada pukul 08.39. Tak lama setelah itu, datanglah Iqbal Gobel bersama Fandi, sepupunya. Menyusul setelahnya adalah Frans. Canaka, yang saya hubungi pertama justru datang paling bontot. Belakangan, saya tahu, Canaka berangkat dari tempat yang paling jauh, dari Pelabuhan Belawan: sebuah nama yang sudah lama saya kenal berkat lagu Tommy J. Pisa.

Kumpul semua? Yok berangkat! Dari situ, dengan mobilnya, saya diantar Iqbal ke RM Sinar Pagi, dekat Tugu SIB (Sinar Indonesia Baru), tugu yang tampaknya memiliki sejarah penting bagi pers di Medan.

Di rumah makan, Toni datang. Toni adalah adik Inyak Ridwan. Tumbennya, Toni ternyata kenal dengan Akhyar, calon tuan rumah saya di Bukittinggi besok yang juga belum pernah saya kenal hingga hari ini kecuali di media sosial saja. Habis ngembat soto dan beberapa cemilan, kami lanjut ke pool ALS di Jalan Sisingamangaraja, Km. 6,5. Saya janjian dengan Ayu (dihubungkan oleh Ampon) yang membantu membelikan tiket dan memilihkan armada jurusan Padang. Lagi-lagi, saya juga enggak kenal sama perempuan ini sebelumnya.

Sebelum ke lokasi, kami sempat mampir di Istana Maimun, hanya menunaikan rukun medsos, yaitu foto-foto. Dan saat tiba di pool ALS, tiket saya langsung diserahkan oleh si Ayu.

Pukul 12.00, bis bergerak meninggalkan kota Medan, melewati Tebing Tinggi, Siantar, Toba Samosir, Simalungun, Balige, Siborong-Borong, Sipirok, Pahae, Padang Matinggi, dan Bukit Sikaping. Tibalah kami di Bukittinggi pada pagi Rabu saat matahari sudah tinggi. Cerita lengkap semua perjalanan sudah saya tulis secara langsung tempo hari di Facebook.

HARI KE-5, RABU 7 MARET:

Ada dua orang yang menyambut saya. Namanya Akhyar Fuadi dan satunya Rinal Wahyudi. Keduanya, sama seperti Ampon dan Ayu, tidak saya kenal (kalau Gobel, Canaka, dan Frans, saya kenal duluan, akrab bahkan). Dia lantas mengajak saya pergi ke Ngarai Sianok, ke salah satu panorama indah di Bukittinggi yang gambarnya pertama kali saya lihat di pecahan uang kertas 1000 rupiah zaman dulu, zaman di kala itu nominal sebesar itu cukup buat beli nasi dua piring pakai lauk tahu.

Di bawah ngarai, kami makan “Gulai Itiak Lado Ijau” (karena “adiak” itu adik, jadi “itiak” itu adalah itik. Demikian rumus Bahasa Minang), salah satu kuliner ternama di sana, katanya, sih, begitu. Setelah lihat-lihat pemandangan ngarai dari dalam ngarai, kami ganti melihatnya dari atas, dari tempat melihat yang dikarciskan, satu komplek dengan Lubang Jepang.

Sehabis itu, mereka lantas mengantar saya ke penginapan. Wah! Tak disangka. Saya berharap agar tidur di bilik pondok, kok malah dikasih tempat begini rupa? Lumayan nikmat untuk punggung yang duduk terus-menerus selama 32 jam di atas bis sedari Banda.

Usai ganti baju dan istirahat, kami berangkat ke PP Ashabul Yamin. Saya berbagi pengalaman dengan “adiak-adiak” santri di sana. Mereka kecil-kecil dan imut. Pondoknya tak kalah imut, berada di daerah Lasi Tua, Agam, di kaki Gunung Marapi. Tentu saja, pemandangannya superb: indah nian. Belakangan, saya tahu kalau si Akhyar ini ternyata juga mengajar di sana. Dia pegang kitab “Bidayatul Balaghah” karangan Kiai Sirajuddin Abbas (kenal, kan, sama nama ini? Itu, lho, buku “40 Masalah Agama” yang empat jilid). Pondok ini didirikan oleh salah satu murid Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, salah satu pendiri PERTI.

Seusai acara, kami diantar mereka ke Payakumbuh karena saya bilang ingin jumpa sama kawan saya: Iyut Fitra. Sebelumnya, saya diajak melahap makanan berat khas Sumatra Barat di Pangek Situjuah. Restoran ini sangat asri karena berada di tengah pematang sawah, mewah menunya, dan nyaris bersantan semua.

Senang luar biasa ketemu sama Uda Iyut. Betul saya guyon sama beliau tempo hari lewat SMS, bahwa uang buku dia yang saya bantu jualkan tidak akan saya transfer, melainkan akan diantar langsung. Beliau, kala itu, cuma haha-haha karena mengira saya guyon. Ya, saya memang guyon ketika itu, tapi malam itu saya menyeriusinya: mengantar langsung uang tersebut dan menyerahkannya dari tangan ke tangan, di beranda rumahnya.

Sepulang dari Payakumbuah, saya kembali ke Bukit, minum jamu “teh talua” (teh dicampur telur, tapi tidak amis). Saya sempat kaget karena menerima telepon dari rumah. Kabarnya:  anak ketiga sakit (yang kebetulan namanya mirip dengan nama pondok yang saya singgahi, tadi) dan anak keempatnya (yang lagi belajar bicara) selalu nyebut-nyebut saya. Demikian kata mamaknya. Waduh, gawat. Saya galau dan sedih.

Malam itu, saya gelisah, sembari mikir cari cara jalan pulang naik pesawat dari Padang, tapi mau pakai duit siapa? Entah. Untunglah, saya tidur, dan esoknya berita sudah berubah. Beres semua masalah. Alhamdulillah.

HARI KE-6, KAMIS 8 MARET:

Saya tiba di agen PO Yoanda Prima, Jalan Simpang Taluak, Jambu Air, Bukittinggi. Kabar yang saya terima dari agen sungguh langsung bikin mules: bis masih di Solok dalam perjalanan ke Bukittinggi, baru pulang dari Palembang. Wah, mau telat berapa lama ia? Saya tidak tahu, di mana letak Solok karena saya tak bawa GPS dan atlas saya ketinggalan di rumah. Untung, di Medan, tempo hari, Frans kasih saya peta lipat. Itulah bekal utama saya untuk orientasi medan lintas Sumatra.

Bis datang persis setelah saya shalat duhur. Berangkat tak lama setelah itu. Beruntung pula saya bawa sangu nasi bungkus yang dibawakan oleh Akhyar. Saya makan sangu itu di Padang Panjang saat bis parkir sebentar untuk nambah sewa. Akan tetapi, keterlambantan ini dibayar tunai oleh pemandangan dan bentang alam Sumatra Barat yang memikat. Sungguh sulit diceritakan dengan kata-kata, lebih baik dengan foto atau datangi langsung tempatnya saja supaya Anda tidak penasaran. Hampir semua spot yang saya lewati itu indah semua, semuanya.

Masalah muncul ketika bis masuk Muara Bungo, pukul 23.10. Udara suspensinya tidak naik yang artinya mesin kompresornya rusak. Setelah diperbaiki dua jam lebih, ketemulah masalah. Karet klepnya sobek. Untuk darurat, kru bis menggantinya dengan ban dalam. Aman, bis berjalan kembali. Esok paginya, bis kembali bermasalah pada pengatur suhu (AC) kabin, hanya karet kendor, beres dalam hitungan waktu 10 menit. Kru bis sumatraan memang bisa sembari merangkap jadi montir. Mungkin, kalau mereka pindah ke Jawa, sudah layak buka bengkel.

HARI KE-7, JUMAT 9 MARET:

Yang terjadwal sampai di Palembang pagi, eh, kami tiba sore, pukul 14.30. Ya, itu tadi penyebabnya: berangkat telat dan pakai acara mogok, padahal reputasi bis ini sangat bagus. Saya turun di Grand City, main ke rumah Pak Mukhlisin. Perumahan ini milik Ciputra. Tahu sendirilah, kayak apa perumahannya, he, he. Pos satpam-nya saja pakai dua lapis. Melihat tampilan saya yang pakai sarung dan muka kucel, mestinya mereka curiga, tapi ternyata tidak. Mas satpam menyambut baik. Pasti, yakin pasti, Bang Muk sudah kasih “kata sandi” sama mereka soal tamu yang akan datang ini.

Di rumah Pak Muk, saya bertemu Wayan, kawan yang kenal di Surabaya tapi Bali ‘poenya’. Di sana, saya juga janjian dengan kawan sebangku dulu, di IAIN, Walidin Iskandar. Senang sekali mendengar kabar kalau dia kini jadi dosen di IAIN Raden Fatah, Palembang. Saya pinjam emper rumah Bang Muk untuk reunian.

Rencana shalat jumat di Masjid Raya Palembang gagal, istirahat pun gagal. Bagaimana mau istirahat wong waktunya serbamepet. Bertemu dengan orang-orang baik dan menyenangkan itu sesungguhnya merupakan rehat dalam bentuk yang lain, percayalah!

Malamnya, pukul 23.00, saya berangkat menuju Lampung. Saya nebeng bis pariwisata Cahaya Wisata (saya sebut ‘nebeng’ karena Dian–yang saya hubungi sebelumnya–tak mau diganti ongkos). Saya diajak Dian Damar agar pergi bersama. Ada banyak kawan baru malam itu, beberapa kawan Sumatra yang baru saja saya kenal, ya, pas saat itu, beberapa menit sebelum saya bergabung dengan mereka, termasuk dengan Kang Harjo dan Kang Julianto RG (cc-nya besar sekali). Berdasarkan nama, kayaknya mereka ini “pujakesuma”: putra Jawa kelahiran Sumatra. Sungguh, saya merasa, betapa media sosial itu memang modal sosial, tentu saja pengertian ini hanya berlaku bagi yang memahaminya begitu.

Kejutan terjadi di penghujung malam, di ujung “jalan pintas” itu, ketika sudah tinggal selangkah lagi kami mencapai Batukuning, Baturaja, bis terhenti. Dua tronton dan satu trailer terjebak di jalan rusak, selip. Posisinya melintangi jalan. Kami menyerah.

HARI KE-8, SABTU 10 MARET:

Kami (saya, Wayan, Yosa), akhirnya berpisah dengan rombongan. Berat sungguh harus berpisah. Ternyata, perasaan demikian bukan hanya tergambar di dalam lagu-lagu dan video klip saja sedihnya. Pokoknya, saya (dan mungkin kami) harus segera tiba di Sari Ringgung, Lampung, karena tempat itu memang merupakan lokasi acara salah satu tujuan perjalanan, jadi harus segera “gerak”, tak boleh kelamaan “terjebak”. Acaranya siang, sementara pagi itu kami masih berada di area Sumatra Selatan.

Jelang pukul 6 pagi, ada ALS tujuan Medan-Jogja melintas. Kami cegat, numpang, dan selamatlah. Tujuh setengah jam kami bersama bis ini hingga tiba di Masgar, Pesawaran. Mereka berhenti di rumah makan, kita lanjut lagi dengan bis Puspa Jaya menuju Bandar. Selamat lagi, tapi kami sedang kelaparan.

Untungnya, kami ditolong oleh Yuli Nugrahani yang menyambut kami di Bundaran kota, lewat sedikit dari pukul dua siang. Ia membawa kami ke ayam geprek. Kembali selamat, kembali tertolong. Ajaib, pemilik warung (Pak Aji) menggratiskan semua hidangan di meja. Tetangga warung, entah ibu siapa namanya (Yuli pun tidak kenal) turut berbuat kebaikan dengan nyumbang dua piring sate rempelo ati dan sepiring ikan kembung (jazahumullah). Pak Aji bikin kejutan tambahan, ia meminjamkan mobilnya untuk kami supaya cepat tiba ke lokasi.

Hari itu, kami ikut menyaksikan acara jambore nasional bismania community (BMC). Bagi saya, yang terpenting dari acara ini adalah niat silaturrahmi. Ini yang utama, bahkan itulah yang menggerakkan semangat saya dalam menempuh ribuan kilometer. Soal foto-foto dan lainnya hanyalah “de-el-el”-nya.

Pukul 9 malam, kami pulang. Saya numpang armada kawan-kawan Jakarta Raya, nebeng lagi dan gratis lagi. Mereka menolak ketika saya urun sumbangan. Apa uang saya tidak laku di Sumatra? Saya tidak tahu, kenapa kok selalu begitu. Saya naik PO Haryanto MD-02 yang kebetulan kenal baik sama pengemudinya, Pollo (keluar pelabuhan, saya ganti bis, pindah ke rombongan satunya yang naik PO Panorama). Numpang, sih, numpang, tapi saya dapat “kedudukan” di kursi nomor 1. Mungkin mereka kasihan karena muka saya menyiratkan gurat-gurat kilometer-kilometer mahapanjang dari Kilometer Nol Indonesia di Sabang.

Kejutan belum berakhir, saya ditakdirkan bertemu dengan Rusman dan Maman Bayzuri, teman main masa remaja dulu, di Panjang, di jalan akses ke Bakauheni, pada saat beberapa orang anggota penumpang beli buah tangan dan bis berhenti, parkir berbanjar. Oh, heroik sekali. Kedua kawan tersebut menempuh perjalanan sekitar 3 jam demi salaman dan foto bersama (untung fotonya enggak blur) dan bertemu sekitar 15 menit saja. Alangkah betapanya!

HARI KE-9, AHAD 11 MARET:

Masuk ferry pukul 02.30 di Bakauheni, kami tiba di Merak pukul 06.00. Subuhannya berlangsung di atas KMP Sebuku. Inilah pengalaman pertama saya naik ferry bertingkat; dua lantai untuk mobil dan lantai atas untuk penumpang. Mengharukan karena di atas ferry itu dikumandangkan azan dan lengkap dengan shalat subuh berjamaahnya. Sumatra memang istimewa. Sejak saya berangkat, tidak satu shalat pun terlewat, terutama subuh yang kalau di Jawa itu bis-bisnya pada ngelibas semua (satu dua saja yang mau berhenti dan mempersilakan penumpangnya untuk menunaikannya). Sejauh ini, tiga bis Sumatra berbeda PO, selalu mempersilakan penumpang untuk subuhan.

Kami tiba di Cawang, dekat UKI, pukul 9 pagi. Langsung saya isi perut dengan soto yang ditraktir oleh—entah siapa, apa Rully atau Mas Fatur atau siapa. Setelah kenyang, kami bubar. Saya nunut Wagim ke kontrakan Mas Fatur; titip tas di sana dan mandi di kos Rully: suatu teknik agar mereka sama-sama merasa disinggahi.

Saat nunggu bis di Pulo Gebang, saya bertemu lagi dengan kawan lama, Masrur Akhmadi, cowok ganteng dari Purworejo. Ia bersama tiga anak dan satu istrinya. Ia nyangoni saya roti-roti supaya tidak kelaparan, katanya. Karena duhur sudah masuk dan bis belum datang, saya shalat dulu, dikawal oleh Bimo, petugas dishub di situ yang kebetulan baru akan berteman di Facebook dengan saya beberapa saat sesudahnya. Rasanya, saya seperti kepala terminal yang sedang melakukan sidak kebersihan mushallanya.

Bis datang pukul setengah satu siang lewat sedikit. Rupanya ia datang dalam keadaan sudah membawa penumpang dari Tanjung Priok. Akhirnya, saya pun berangkat setelah dada-dada sama para mas-mas pengantar: Fatur, Moko, Rully, Masrur sekeluarga, juga Bimo. Puji syukur, perjalanan saya dengan Karina bis tingkat ini lancar jaya, tanpa rintangan, sehingga pagi sekali sudah masuk Madura.

Oya, saya naik bis ini secara BDB, ditraktir oleh seseorang yang bergerak di dunia perbisan juga, tapi yang jelas bukan orang-orang di lingkaran Lorena-Karina.

HARI KE-10, SENIN 12 MARET:

Saya turun di masjid Masjid Al-Jihad, Juklanteng, dekat pelabuhan Tanglok, Sampang. Saya langsung subuhan dan kembali berdiri di pinggir jalan.

Tadi, di Masjid Al-Ihsan, Nyiburan, timurnya Lomaer, saya sempat lihat AKAS ASRI sedang parkir. Mungkin mereka mempersilakan para penumpangnya untuk shalat subuh. Dengan asumsi demikian, posisi bis tadi berada di belakang kami. Maka, benar sesuai dugaan, tak lama kemudian, bis itu datang. Saya menggubit. Bis sein kiri, menyisi. Saya pun ikut dan bayar 15.000 untuk tujuan Prenduan.

Walhasil, tibalah saya di rumah menjelang pukul 8 pagi dalam keadaan utuh, baik tubuh maupun barang-barang bawaan. Yang berkurang dan nyaris tidak tersisa hanyalah isi dompet.

Melihat Masa Depan Bumi dari Beranda Rumah

oleh M Faizi (admin)

Saya sedang duduk di beranda rumah sembari menyesap kopi dan menikmati cemilan. Televisi menyala dan hanya terdengar suaranya, tak ada yang menonton. Di atas kursi malas, mulailah saya membaca…

(jeda sejenak)

Sebuah artikel tulisan Bapak Hendro Sangkoyo yang pernah dimuat di KOMPAS, 24 September 2014. Dalam artikel yang berjudul “Ulang Tahun Penanda Bencana” tersebut, dijelaskan bahwa pada bulan dan tahun tersebut, sekjen PBB menggelar ”pertemuan puncak darurat” perubahan iklim di markas PBB, yang kesannya jauh dari perayaan ulang tahun. Dua tahun terakhir memang muncul serangkaian berita baru perubahan iklim yang tak satu pun menggembirakan. Tahun lalu, jumlah emisi karbon dan suhu atmosfera tertinggi sejak 1984. Dekade 2001-2010 adalah yang terpanas dalam tiga dekade terakhir, dengan suhu rata-rata permukaan laut dan pertemuan daratan-udara 0,47 derajat celsius di atas suhu rata-rata 1961-1990. Pada 2012, luas dataran es Arktik di musim panas, penunjuk penting krisis perubahan iklim, mengerut 3,3 juta kilometer persegi (seluas India) dari luas minimum rata-rata 1979-2000. Di dekade yang sama, muka air laut naik 3,2 milimeter per tahun, dua kali kecepatan kenaikan sepanjang abad XX. Dengan tingkat penurunan laju emisi sekecil sekarang, tulis Hendro,  diperkirakan kenaikan suhu muka bumi 3,6 derajat celsius pada 2050 atau lebih awal lagi.

Tentu saja, saya tidak akan berbicara terlampau jauh soal emisi karbon atau mitigasi (langkah produktif mengurangi dampak bencana). Membicarakan langkah Konvensi Kerangka PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC)  dalam menciptakan mekanisme finansial kompensasi emisi gas rumah kaca setara karbon masih terasa mewah, apalagi dibicarakan di forum diskusi yang pesertanya bukanlah pakar. Namun demikian, berdasarkan data-data tersebut, mestinya kita tahu, bahwa proses kehancuran Bumi sedang berlangsung dengan sangat cepat. Kita tidak perlu membicarakan tabrakan antarbenda-benda meteorit atau  mendiskusikan datar-tidaknya Bumi, baik dalam perspektif Heliosentris atau Geosentris. Kita cukup melihat perubahan iklim dan menyadarinya.

Perubahan iklim tidak dapat dibantah; menciptakan ancaman serius tetapi kurang diperhatikan. Terjadinya kemarau panjang pada 2014 dan ketidakstabilan musim pada tahun-tahun berikutnya, durasi yang timpang antara kemarau dan tengkujuh (musim  hujan), adalah salah satu bukti paling kasat mata akan nasib Bumi di masa mendatang. Semua itu dapat dengan mudah diteropong dari ruang pribadi, dari depan rumah kita sendiri.

Sebetulnya, alam itu bekerja teratur dan simultan. Dalam perspektif keimanan, semua itu berlangsung atas prakarsa Tuhan. Akan tetapi, kita dapat menalar kerja organik ini dan bersiklus ini sebagai salah satu wujud alamiah semesta raya karena adanya keseimbangan; yin-yang, berpasang-pasangan.

Dari keseimbangan ini, manusia mendapatkan anugerah mahabesar dari alam berupa suhu, cuaca, ketenangan, kesuburan, dan seterusnya. Akan tetapi, di masa berikutnya, sifat rakus menusia muncul dan mulailah segalanya berubah secara global, seperti mencairnya banyak gletser di Alaska dan rusaknya (pengrusakan) hutan (tropis) di Brazil dan Kalimantan dan Papua. Itulah salah satu dampak perubahan iklim terdahsyat.

Manusia membangun banyak lahan pertanian dan perkebunan tetapi sekaligus merusak ekosistem alam dengan menebang hutan; manusia membangun rumah dan kantor tapi sekaligus menggunakan semen yang notabene berasal dari gugusan batu karst. Bahkan, nyaris tidak ada prestasi manusia di dunia ini kecuali dengan juga merusak alamnya. Ironis.

Setelah mengalami kerusakan parah, mulailah muncul gerakan-gerakan penyelamatan. Salah satunya adalah menahan laju kerusakan dengan mitigasi. Sebab, bencana kerusakan alam adalah bencana Bumi dan segenap penghuninya.

Apakah hal-hal yang dibicarakan di atas itu terlalu muluk dan melebar? Jika tidak, sekurang-kurang, kita wajib mengetahui semua itu semata untuk dipahami. Kalau begitu, baik, kita bicara yang remeh-remeh saja.

Orang dahulu merawat alam dengan banyak cara. Salah satunya adalah mitos, misalnya mereka menyebut “penunggu pohon” yang biasanya disematkan untuk pohon-pohon besar dan dikeramatkan. Kita tahu, pohon-pohon besar seperti itu tidak semata-mata digandrungi makhluk halus, melainkan juga sebagai pasak dan penyeimbang ekosistem. Manusia dan serangga sama-sama membutuhkannya.

Belakangan, datanglah manusia serakah bersama korporasinya. Mereka melakukan  demitefikasi, membunuh mitos, lalu menjagal pohon-pohonnya. Yang paling mudah dilihat; betapa banyak penebangan pohon di sepanjang ruas hanya karena dalih pelebaran jalan. Lebih jauh lagi, target percepatan ekonomi berbasis transportasi menjadi kata kuncinya. Demi tujuan itu, bahkan nilai-nilai luhur budaya dan tradisi pun ikut tergerus. Terbukti, pelebaran jalan tidak perlu mempertimbangkan sempadan dan akses pejalan kaki. Di saat di negara-negara lain akses pejalan kaki dimuliakan dengan pedestrian, di sini justru dihabisi.

Itu hanyalah sedikit dari banyak hal yang perlu diperhatikan oleh semua lapisan masyarakat. Oleh sebab itulah, melakukan perubahan dan penyelamatan tidak dapat dilakukan sepihak, melainkan harus bersama-sama. Langkah awal yang harus dimulai adalah dari lingkungan di komunitas terkecil masyarakat, yakni keluarga. Kepala rumah tangga harus mampu menjelaskan sistem tata kelola lingkungan dan kebergantungan kita kepada alam kepada anak dan anggota keluarga lainnya.

Wawasan lingkungan (hidup) harus diketahui oleh semua orang. Ada sedikit dari banyak hal prinsip yang patut kita jelaskan kepada mereka.  Di antara yang paling mendesak adalah kerusakan alam akibat hal-hal yang tampak remeh dan ada di sekitar kita. Di antaranya adalah:

Limbah Makanan

Limbah makanan merupakan satu dari sekian masalah besar di muka bumi. Dan tema ini akan menempati ruang diskusi penghamburan energi yang sangat besar. Rangkaian penyebabnya sangat panjang sehingga kerapkali dianggap tidak berdampak sistemik. Orang awam lebih tertarik membahas efek rumah kaca, yaitu terperangkapnya suhu permukaan Bumi, terhalang oles gas emisi (seperti karbon dioksida) pada atmosfer. Gas emisi tersebut kebanyakan berasal dari asap kendaraan dan pabrik. Semakin hari, semakin banyak jumlahnya. Akibatnya, Bumi semakin panas dan rawan bencana. Namun, soal limbah makanan adalah hal lain yang tak kalah runyamnya.

Elizabeth Royte menggambarkan seperti ini: sayur yang tidak dimakan dan jadi sampah di meja makan itu juga membutuhkan cahaya matahari saat masih menjadi sayur segar. Ia juga diangkut dengan kendaraan yang menghabiskan energi fosil, dan mungkin saja juga masuk ke ruang pendingin yang menyedot listrik, menyerap minyak, dan seterusnya. Tumpukan limbah ini tampak sepele. Namun, dari data yang dikumpulkan Royte, jika seluruh sisa makanan di dunia ini dikumpulkan, maka ia akan setara dengan sebuah negara penghasil limbah terbesar nomor 3, setelah Tiongkok dan Amerika.

Kearifan lokal dari leluhur kita tentang “tangisan nasi yang tidak dimakan di atas piring” akan menemukan eksistensinya di sini. Ini baru perhitungan kasar. Sekadar menyebut contoh, petani kerap terpaksa membuang makanan yang masih layak olah hanya karena tidak bisa diekspor/dijual ke pasar, bukan karena alasan karena tidak sehat, melainkan hanya karena buruk secara bentuk (seperti timun dan terong yang berntuk bulat, atau dlsb), padahal sayur yang bernasib malang itu juga menghabiskan banyak air, banyak pupuk, banyak biaya lainnya. Sejatinya, ia masih mungkin sampai ke mulut manusia sebagai makanan andaikan bisa dikelola.

Adat budaya terkadang  juga kontraproduktif, semisal adanya aturan tidak tertulis untuk menyediakan makanan pada acara-acara tertentu lebih banyak dari yang semestinya mampu dimakan. Mengapa? Alasannya adalah “takut dituduh pelit” atau “tidak pantas”. Kenyataannya, setiap berlangsung acara makan-makan, pemubaziran makanan pasti terjadi. Masyarakat kerap berpikir bahwa “mampu membeli/membayar” itu sama dengan “boleh mubazir”, padahal dua situasi itu adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Dan ini tidak terjadi hanya kepada limbah makanan, melainkan juga pada penghamburan energi.

Pemubaziran Energi

Gaya hidup berperan banyak mengubah kehidupan seseorang bukan semata-mata bagaimana cara ia tampil di muka umun, tapi bahkan dalam hal menghambur-hamburkan. Kita dapat dengan mudah mengambil contoh akan kasus energi ini. Salah satu yang paling tampak adalah pemubaziran energi bahan bakar fosil.

Hingga saat ini, kendaraan bermotor yang perannya sangat besar untuk transportasi orang dan barang adalah pengguna energi fosil. Entah di tahun berapa, mungkin belum diketahui atau memang dirahasiankan, energi fosil akan habis dikeruk dan disedot. Cadangan bahan bakar minyak yang digunakan oleh hampir semua alat angkut terus menyusut meskipun ladang-ladang baru ditemukan dan dieksplotasi. Mengapa kita tidak mengembangkan energi yang terbarukan, energi dari matahari dan angin dan air? Ada jawaban panajng untuk itu yang kurang pas untuk diselempitkan dalam artikel ini.

Rendahnya pemanfaatan transportasi umum juga merupakan bentuk penghamburan ini. Kita dapat melihat perilaku manusia dengan mudah. Jarak yang semestinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki kini sudah dibiasakan dengan mengguakan sepeda motor. Kita juga melihat bagaimana kendaraan umum ke kota yang satu dan tersedia selalu ditinggalkan perlahan-lahan dan tergantikan oleh kendaraan pribadi yang ternyata hanya digunakan oleh satu orang. Dampak dari kenyataan ini, jika dikumpulkan, akan menghasilakn jumlah yang besar sebagai penyumbang emisi karbon, penyerapan bahan bakar fosil, polusi suara, dan serangkaian kejahatan terhadap alam lainnya.

Pada tataran yang lebih ringan, serangkaian kebiasan kontra-produtif juga tampak di ruang-ruang keluarga. Lihat bagaimana keluarga yang mampu menggunakan energi listrik secara berhamburan dan itu terjadi karena satu alasan: “kami mampu membayar. Apa urusan kalian?”. Sesat pikir seperti ini mudah ditemukan dalam cara dan pola pikir masyarakat kebanyakan. Wajarlah jika dikatakan kepada mereka: “Ya, betul. Kalian itu memang mampu membayar pulsa atau rekening, tapi kalian sama sekali tidak akan mampu mengembalikan kerusakan alam yang dirusak lebih parah hanya demi memfasilitasi suplai listrik yang kalian gunakan melebihi dari yang sejatinya kalian butuhkan”. Serangkaian masalah akan mengular jika didaftar: lampu jalan yang menyala di siang hari, charger yang dibiarkan tertancap tanpa kepentingan mengisi baterai; pendingin ruangan yang terus hidup pada saat penghuninya tidak di tempat, dan seterusnya. Semua pemubaziran ini—sekali lagi—bermula dari sesat pikir, bahwa sepanjang mampu membayar, apalagi gratis, kita bebas menggunakanya semena-mena.

Sampah Rumahan

Selain itu, sampah rumahan juga ikut andil besar dalam merusak alam. Yang terbesar di luar sampah makanan adalah kemasan plastik dan popok. Semua ini juga terjadi karena sudut pandang yang menyesatkan tadi, yaitu “mampu membeli = boleh mubazir”. Prinsip ini, tidak dapat dipungkiri. Ia menghuni cara pandang banyak orang. Bukan sebab karena mampu mengeluarkan uang untuk buat beli popok lantas kita boleh semena-mena. Pernahkah Anda berpikir, ke mana popok-popok itu dibuang? Apakah selokan dan sungai adalah tempat sampah? Ditimbun?

Nenek moyang kita membiasakan menggunakan kain perca untuk popok. Di samping dulu teknologi gel belum ditemukan, cara ini dianggap ramah lingkungan juga hemat dan aman. Tahukah Anda, apakah bahan dasar gel itu? Tidak jelas dari bahan apa itu dibuat, tapi mungkin saja berasal dari sampah yang didaur ulang dengan cara “diputihkan” melalui proses kimiawi.

Barangkali, kita tidak benar-benar bisa meninggalkan produk popok-sekali-pakai yang jelas-jelas menyumbang sampah sangat besar bagi lingkungan, tapi kita bisa menunda pemakaiannya dengan cara kombinasi dengan warisan orang kuna, popok buatan. Dan hal itu juga berlaku untuk kasus sampah plastik.

Dari sekian banyak sampah plastik keras, sampah botol air mineral adalah penyumbang terbesarnya. Memang, ia bisa didaur ulang, tetapi sebagiannya tidak, tetap jadi sampah. Coba perhatikan, setiap kali menghadiri undangan, kita akan disuguhi berkat, dan terkadang air minum dalam kemasan. Celakanya, suguhan ini bahkan mampu mengubah derajat gelas beling, bahwa minuman botol plastik lebih memiliki kesan penghormatan kepada tamu daripadanya. Yang terjadi di dalam masyarakat adalah begini adanya. Betapa banyak sampah plastik dibikin hanya untuk sekali pakai dan selanjutnya menjadi sampah yang butuh ratusan tahun untuk bisa diurai. Kita ingin menghormat orang lain (tamu), tetapi tidak juga ingat untuk menghormat alam ciptaan Tuhan.

Harus diakui, kita memang tidak bisa terlepas dari plastik. Kita tidak bisa antipati kecuali akan mengucilkan diri dari sistem kehidupan masyarakat secara luas. Yang dapat dilakukan dalam wujud pendidikan lingkungan adalah “menunda”, sekali lagi “menunda”. Prinsipnya, membuang sampah ke tempatnya (keranjang sampah) itu adalah anjuran yang benar, tetapi menunda barang agar tidak segera menjadi sampah adalah anjuran yang bukan sekadar benar dan baik, tetapi juga bijaksana. Barangkali kita memang tidak bisa tidak untuk menggunakan sampah plastik dalam kegiatan-kegiatan sosial dan massal, namun kita bisa menghindarinya dalam kegiatan pribadi yang sifatnya rumahan. Inilah salah satu itikad yang sepatutnya diinternalisasi kepada semua lapisan masyarakat, dan tentu saja dimulai dari komunitas yang terkecil, yaitu keluarga.

Air, Pembangunan, dan Karst

Masalah pelik lainnya adalah penghancuran pegunungan karst di mana-mana. Target penghancuran adalah batu gerinda pengganti pasir untuk tingkat rendah, dan pabrik semen untuk skala besar. Salah satu dampak terbesar dari penghancuran ini adalah hancurnya tandon raksasa/resapan air.

Kasus petani Kendeng adalah salah satu isu yang mencuat akhir-akhir ini. Ancaman yang lebih besar adalah rencana penghancuran pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kutai Timur. Semua itu didasarkan demi pembangunan, mirip dengan pembukaan lahan pertanian baru dengan membakar hutan; sudah merusak, membakar pula. Filosofi “demi kemakmuran dan kemajuan” terkadang menipu, karena makmur itu tidaklah dengan cara menghancurkan.

Di Madura, penghancuran batu karst sedang berlangsung besar-besaran. Proyeknya kecil-kecil, tapi karena jumlahnya banyak, maka hasil akhirnya tetaplah besar. Pegunungan karst adalah tandon besar untuk menampung air di musim huijan yang akan dihisap/dialirkan hingga akhir kemarau berakhir. Jadi, reboisasi yang digalakkan agar air tercukupi namun tandonnya telah lebih dulu dirusak adalah omong-kosong. Seberapa kuatnya batang-batang pohon menyimpan air? Padahal kita tahu, semua makhluk hidup membutuhkan air, apalagi manusia. Lalu, bagaimana nasib manusia jika hajat dasarnya (air) kini menyusut karena kelakuan yang sedikit dari mereka?

Rusaknya ekosistem dapat menyebabakan banuyak hal. Keruksaan itu mungkin berlangsung secara lambat laun sehingga masyarakat tidak menyadarinya. Mereka baru akan merasakan dampak buruk darinya di masa kemudian. Tentu saja, mereka yang telah merusak di saat ini tidak akan sempat melihat kerusakannya secara langsung sebab mereka telah mati berkanang tanah. Siapa yang jadi korban? Anak cucu tentunya. Maka, banyak di antara kita yang mungkin hanya berpikir rentang 5 hingga 10 tahun ke depan, padahal mestinya apa yang kita lakukan harus dipertimbangkan untuk jangka waktu yang lebih jauh lagi karena alam ini bukanlah milik pribadi, melainkan anugerah Tuhan yang seharusnya diwariskan kepada anak cucu dan generasi mendatang, bukan dihabiskan sekarang.

Lantas, Kita Mau Apa?

Masih banyak masalah lain yang menjadi pekerjaan rumah tangga kita di luar yang sedikit dan sudah dibahas di atas. Persoalan alih fungsi lahan produktif, tata ruang yang semrawut, hingga perampasan ruang hidup dan pengrusakan yang terorganisir, adalah sedikit dari banyak masalah lain yang butuh perhatian. Yang dapat dilakukan adalah mitigasi, advokasi, dan ‘pencerahan’ terhadap semua lapisan masyarakat, terutama sejak usia kanak, tentang hubungan timbal-balik manusia dengan alam serta bahaya pengrusakan terhadapanya. Langkah ini dimulai dari pendekatan budaya dan secara teknis dapat dilangsungkan dari keluarga, terutama di ruang-ruang sekolah.

Di sekolah SMA 3 Annuqayah, dan mungkin juga di banyak sekolah yang lain, salah satu muatannya adalah “Pendidikan Lingkungan”. Di sekolah itu, siswi yang tergabung dalam kelompok PSG (di bawah OSIS) bergerak dalam mengkampanyekan bahaya sampah plastik, manfaat pupuk organik, hingga kampanye pemberdayaan pangan lokal.

Demikianlah, pendidikan tersebut harus dimulai dari ruang yang paling kecil, paling terbatas, berkesinambungan, dapat dimulai dari keluarga, dari mulut ke telinga, dari tangan ke tangan, dan seterusnya. Dan di atas itu semua, gerakan ini harus berlandaskan komitmen yang kuat. Tanpanya, kegiatan akan menjadi kegiatan belaka tanpa hasil yang memadai.

Kata kunci yang harus terus dipegang adalah “keseimbangan”. Dan itulah yang dilakukan nenek moyang kita melalui tindakan tindakan budaya. Dengan menjaga keseimbangan alam, hidup akan sejahtera. Meskipun saat ini kita sudah terlambat, tapi akan lebih mengerikan jika tidak ada yang memulai. Benar seperti kata Emil Salim yang kurang lebihnya seperti ini: “Kita punya satu bumi, tapi yang merusakanya ratusan bangsa yang justru hidup darinya”.

Dan tentu saja, masyarakat tidak bisa dibiarkan berjalan dan bekerja sendiri. Justru Negaralah yang paling besar tanggung jawabnya atas persoalan asasi ini karena tugas Negara adalah menjamin kehidupan rakyatnya. Tapi, apakah kita harus mengharapakan dan menggantungkan harapan kepada mereka? Kita cukup mengurus yang remeh-temeh saja, dari depan rumah, dari keranjang sampah, dari ruang makan. Yang besar-besar yang butuh kebijakan Nasional, biar Negara yang mengurusnya. Sebab, jika hanya berharap kepada mereka, syukur jika suara kita didengar, lebih menakutkan jika justru merekalah yang akan merampas ruang hidup kita dan membuat lebih sengsara melalui kebijakan-kebijakan yang memihak para pemodal tapi justru menyengsarakan rakyat banyak. Semoga tidak!

***

Setelah matahari meninggi dan tubuh mulai hangat karena berjemur, aktivitas membaca saya sudahi. Iklan-iklan dan berita remeh, berita tokoh-tokoh kutu loncat, korupsi, sampah, semuanya sudah saya lewati. Kini, saatnya saya menyalakan mesin pemanas, lalu mandi air hangat, menggunakan sabun dan kosmetika lainnya, membuang banyak limbah bersamanya, menyalakan dan memanaskan mesin mobil seraya membuang banyak polutan ke udara…

Memang kenapa? Tak ada masalah, sudah biasa begitu.

Sebentar lagi, saya akan berjibaku dengan kemacetan jalan raya, lengkap dengan kesemrawutan dan keugal-ugalan para pelalu lintasnya.
Memang kenapa? Tak masalah, sudah biasa begitu.

Semua berjalan normal-normal saja, setiap hari.
Betapa enaknya andai tidak tahu.
Betapa entengnya hidup dalam ketidaktahuan.

 


Artikel ini akan ditulis untuk kegiatan seminar “Pendidikan Lingkungan Berbasis Budaya” yang diselenggarakan oleh Garda Pemerhati Lingkungan Hidup dan Kebudayaan (GPLHK), bertempat di aula STKIP PGRI Sumenep, Kamis, 28 Desember 2017.

Tiga Hari untuk Silaturrahmi

Seringkali, kita berkunjung ke rumah seseorang nun jauh itu karena alasan menghadiri undangan pernikahan dan takziyah. Lainnya adalah kunjungan dalam rangka ini dan itu, seperti bertamu untuk berhutang, menghadiri pertunangan, atau lainnya. Berkunjung hanya semata-hata silaturrahmi, yaitu pergi berkunjung karena memang ingin berkunjung, sudah mulai jarang dilakukan. Maklum, orang-orang pada sibuk sekarang.

Maka, beruntung sekali saya manakala mendapatkan undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan Om Ahmadul Faqih Mahfudz (dengan istrinya, Astri Nihayah) di kediamannya, di Bali. Meskipun kunjungan yang pertama ini bukan kategori “semata-mata silaturrahmi” melainkan “silaturrahmi dalam rangka”, tak apalah. Tanpa undangan ini, belum terbayang saya akan segera tiba di PP Sunan Kalijaga, Sumberwangi, desa Pemuteran, kecamatan Gerokrak, kabupaten Buleleng tersebut. Mumpung saya memiliki semua syarat silaturrahmi (sehat, sempat, dana), saya tunaikan perjalanan ini.

Ini adalah perjalanan ke Bali untuk yang ketiga kalinya tetapi yang pertama yang ditempuh lewat jalur darat, dari Madura. Karena undangan ini sudah saya terima berbulan-bulan sebelumnya via SMS (dan sekitar sebulan lalu melalui surat), maka jauh hari sebelumya saya sudah mempersiapkan diri untuk perjalanan ini, seperti mengatur jadwal ini dan itu, menabung, dan merencanakan hal-hal lainnya.

Perjalanan ditempuh dengan mobil APV sewaan. Saya ditemani seorang sopir yang kebetulan sepupu dua kali (kakek kami bersaudara), ibu, istri, seorang balita, dan pembantu umum.  Perjalanan dimulai hari Kamis pagi, bertepatan dengan 1 Muharram 1438 atau 21 September 2017. Sebetulnya, yang diundang ke acara itu cuma saya, ibu tidak. Sebab itulah, kira-kira 3 hari sebelum berangkat, lebih dulu saya pamit kepada tuan rumah bahwa saya akan datang bersama Ibu. Ini penting dipermaklumkan karena hukum menghadiri walimah itu wajib dan kita terlarang datang jika memang tidak diundang (tatofful) sebab ia termasuk tindakan terlarang.

Sudah sejak lama, kami—tepatnya Ibu—menyimpan keinginan untuk berkunjung dan beranjangsana, pergi ke beberapa tempat di Jawa, khususnya area Jember dan sekitarnya. Nah, kebetulan sekali saya dapat undangan ke Bali, maka “disekaliankan”-lah: Ibarat sekali ngegas, tiga-lima tujuan terlampaui. Demikian tajuk perjalanan kami kali ini. Tentu saya capek kalau harus menceritakan detil perjalanan karena saya terlau sering menulis yang begini-begini. Saya hanya akan mendata orang dan tempat tujuan yang disambangi, termasuk  dalam rangka walimah, takziyah, dan silaturrahmi.

“Zi, cari warung dulu, kasihan ini Warid,” perintah ibu.

“Wah, bagaimana kalau di Sidoarjo saja?” Saya mengajukan penawaran.

“Jangan, takut terlalu lapar.”

Akhirnya, kami pun membeli nasi di Warung Jawa, depan SPBU Tanah Merah. Namun, ternyata, Warid tak makan juga. Nasinya dibungkus dan hendak dimakan nanti, katanya. Istri saya hanya membeli untuk mendulang anak kami di atas mobil yang berjalan.

Pertama, cicip bakso Cak To di Sidoarjo. Demi bakso, saya tahan perut tetap keroncongan sejak tadi. Di Bangkalan saya pun bertahan tidak makan. Beruntung sekali perjalanan etape perdana ini lancar, baik kala melewati 4 jembatan di Madura yang sedang diperbaiki, maupun saat membelah kepadatan arus lalu lintas di Jalan Kenjeran, sehingga kami tiba di lokasi pada pukul 2 siang, saat lapar-laparnya.

Sejujurnya, rencana ini dadakan. Sebelumnya, Lia Zen, sang pemilik, sudah beberapa kali laga kandang (home) ke rumah saya, pernah mengundang Ibu dan istri main ke sana, bahkan pernah mengundang saya untuk menghadiri acara khitanan putranya. Namun, semua tinggal rencana, tak terlaksana. Saya pikir, inilah saat yang tepat untuk menjalani laga tandangnya (away).

Lokasi tujuan terletak di sebelah barat alun-alun Sidoarjo. Akses ke tempat ini sangat mudah: tinggal keluar dari Tol Perak-Gempol di pintu Keluar-Sidoarjo. Begitu bertemu lampu merah, ambil lajur kiri dan kita bisa langsung masuk ke halamannya. Pulangnya juga begitu, tinggal mengitari bundaran lalu kembali masuk tol. Alhamdulillah, siang itu kami bisa sua dengan Lia Zen, si juragan, pendiri Jungkir Balik, dan salah satu Duta Kopi Indonesia 2016.

Kedua, perjalanan melelahkan sejauh hampir 400-an kilometer di babak pertama ini kami akhiri di Sukorejo. Sempat pula kami makan di sebuah warung di area Pajarakan, sebelah timur kota Probolinggo, dipaksa berhenti karena energi yang diolah dari tenaga pentol tadi tampaknya sudah melorot ke bawah perut. Kami numpang nginap di rumah Mbakyu Aisiyah. Sembari membiarkan istri, ibu, dan anak saya istirahat di sana, saya bertandang ke rumah Mukhlis, ambil bonus silaturrahmi, yang letaknya di barat daya Masjid Asembagus. Ngobrol asyik tanpa tema membuat saya kelupaan hingga akhirnya pulang larut, lewat pukul 2 menjelang pagi.

Sebetulnya, rencana menginap di Sukorejo ini terbilang mendadak, direncanakan sambil jalan. Ia merupakan pengganti rencana sebelumnya, berkunjung ke PP Badridduja di Kraksaan yang gagal karena tuan rumah sedang ada di Malang, padahal rencana ini sudah lama diatur. Entah mengapa, dalam tiga kali rencana, saya gagal terus untuk ketemuan. Yah, mau apa dikata, terima saja, rugi kalau sampai ‘baper’ hanya untuk urusan seperti ini.

Ke Bali, Kembali

SAMSUNG

Nostalgia, fery Pottre Koneng yang dulu biasa kami naiki dalam penyeberangan Ujung-Kamal, sekarang ada di rute Gilimanuk-Ketapang

Ketiga, acara inti, perjalanan ke Bali. Setiap kali saya menginap di rumah kerabat terus berencana pamit sepagi mungkin karena alasan berhemat waktu, nyaris saja selalu gagal. Pasti saya ditahan pergi sebelum sarapkan disiapkan. Satu-dua ada, sih, ada yang memberikan izin karena alasan saya untuk segera pergi masih lebih kuat daripada keinginan tuan rumah untuk memberikan penghormatan. Nah, begitu pula yang terjadi pagi ini. Kebetulan, ini adalah yang pertama bagi ibu: berkunjung ke rumah Mbak Aisiyah. Makanya, ‘upacara kecil’ harus dilakoni semua: ngopi, mandi, makan, dan baru dapat izin pergi.

Setelah menempuh perjalanan hampir 100 menit, kami tiba di Pelabuhan Ketapang lalu masuk kapal pukul 9 WIB. Antri tidak lama, kami masuk ke dermaga. Dalam pada itu, adik saya di Madura, mengirim nomor Mas Taqwim, salah satu saudara jauh saya yang jadi mualim namun sama sekali kami belum pernah berjumpa. Sayangnya, saya tidak mikir itu dulu, sebab datang secepat mungkin dan segera sampai di Bali dalam keadaan tidak terlambat adalah yang paling penting. Ya, saya ingat, ini adalah tujuan utama.

Hamdalah, pagi itu, laut tenang. Antrian juga tidak ada. Dan beruntung kami bawa KTP sebab ternyata ada pemeriksaan di pintu keluar. Pemandangna ini sama sekali berbeda dengan yang saya lihat di dermaga Kamal ataupun di Kalianget. Konon, pemeriksaan identitas dilakukan sejak terjadinya Bom Bali.

Ambil jalur kanan di pintu keluar, mobil mengarah ke Singaraja. Trek yang kami lewati adalah Taman Nasional Bali sisi barat. Jalannya lurus dan bagus. Tidak ada satu pun penampakan rumah penduduk. Hanya barisan kayu-kayu yang berdiri, tidak teratur, dan ujung-ujung atas terkadang tampak saling berangkulan. Beberapa bagian berkontur tanah yang tidak rata yang akan membuat kejutan kecil bagi mobil kecil tapi tidak bakal berasa untuk mobil besar, seperti bis. Baru setelah menempuh perjalanan kira-kira 20 kilometer, tampak ada keramaian. Rupanya, ia akses ke tempat wisata Gili Menjangan.

Hari ini, saya datang ke Bali untuk yang ketiga kali selama 9 tahun terakhir. Sangat beruntung karena hari ini pula saya dapat kesempatan pertama untuk salat Jumat di sana, di lingkungan komunitas Hindu, di desa yang penduduk muslimnya hanya kurang dari 30%. Kami datang tidak langsung ke lokasi karena jam masih menunjuk jelang pukul 12 WITA sedangkan undangan pukul 14.00. Saya ambil bonus dulu, mampir melipir ke rumah Rofiqi dan Kafiyatun (kemenakan mempelai) yang lokasinya kurang lebih 2 km dari lokasi acara.

SAMSUNGRumah mereka tepat berada di pinggir jalan. Ancer-ancernya adalah masjid pertama kalau dari arah Gilimanuk, Masjid Nurul Hikmah namanya, satu komplek dengan lembaga pendidikan Nurul Jadid, Pemuteran. Kabarnya, banyak komunitas “Madura Kepulauan” di sana, seperti yang berasal Sepudi dan Raas, dua pulau di kabupaten Sumenep. Konon, saat ini, desa Pemuteran disulap jadi desa wisata. Unggulannya adalah snorkeling dan diving (entah mengapa terkadang kita merasa minder untuk menggunakan kata ‘menyelam’).

Acara walimah dimulai pukul 14.12 WITA, hanya telat 12 menit dari yang tertera di surat undangan. Salah satu materi acara tasyakuran ini adalah sambutan wali sekaligus pesan-pesan bijak yang disampaikan oleh KH Imam Qusyairi Syam dari Situbondo (Malamnya konon juga begitu. Saya tidak tahu karena langsung pulang setelah acara). Jadi, “acara hiburan”-nya adalah ceramah keagamaan, bukan dangdutan dan/atau lainnya. Penceramahnya juga Kiai Qusyai dan Kiai Kuswaidi. Sungguh, berasa unik acara ini karena berlangsung di Bali.

21617472_1989238631320828_1382044698973462243_n

Foto oleh Misrawi via Ahmadul Faqih

Dalam pada kesempatan siang itu, Kiai Qusyai berpesan, ditujukan terutama kepada kedua mempelai namun sebetulnya layak untuk direnungkan bersama. Pesan beliau, di zaman akhir ini, hal yang mulai jarang adalah adanya “taufiq” (petunjuk dari Allah). Banyak kita lihat, bahkan di kalangan orang Islam sendiri, orang-orang dianugerahi kemampuan, kekayaan, kesehatan, namun semua itu justru digunakan untuk melawan Allah. Ibarat pengemis yang diberi makan, diberi pakaian, diberi pekerjaan, lalu setelah mapan, energinya digunakan untuk membentak-bentak dan menentang sang dermawan. Ibarat pepatah, bagai kacang melupakan tanah.

Beliau mengaku senang karena walimah diberlangsungkan di hari Jumat, hari yang diutamakan di dalam Islam. Dan cara ini, menurutnya, termasuk “sunnah mahjurah”, sunnah-sunnah Nabi yang mulai ditinggalkan. Bagaimana sebuah proses itu bisa terjadi dan berlangsung? Hal itu disebabkan tak lain oleh transformasi nilai-nilai dari leluri leluhur yang dirawat dan dijaga. Kiai Qusyai lalu mengutip qaul Imam Malik dalam pengantar kitab Muwattha’: “Suatu generasi itu tidak akan menjadi baik kecuali mau meneladan lalampan (istilah Kiai Qusyai untuk hal-ihwal, tradisi, dan tindak tanduk leluhur) orangtua mereka”. Kiai Qusyai lantas segera menyusulkan “catatan kaki” bahwa yang dimaksud ‘orangtua’ di sana adalah ayah, mertua, dan guru/kiai.

Saya tidak rajin menghadiri pengajian, tapi merasa harus meluangkan waktu untuk mendengarkan pengajian. Untuk ini, yang dibutuhkan bukan hanya waktu, melainkan juga kerendahhatian, kesabaran, dan kesiapan. Masyarakat sekarang sudah pada pintar, banyak yang tahu, makanya kadang mereka malas duduk di majlis ilmu dan mendengarkan ceramah. Bukankah kita selalu membutuhkan orang lain untuk meniup debu dan jerebu yang masuk ke balik kelopak mata karena tidak bisa meniup sendiri? Penceramah itu sumber jika Anda sedang haus dan juga pengingat jika Anda sudah merasa tahu sebab kita selalu susah untuk mengingatkan diri-sendiri.

Sehabis acara, kami langsung pamit pulang karena masih ada rencana menginap di Glenmore, di rumah sepupu saya. Tinggal satu hari tersisa, Sabtu, untuk menunaikan banyak tugas bersilaturrahmi. Makanya, kami tak bisa bermalam lagi di Bali.

SAMSUNG

Sore menjelang petang itu, kami naik KMP Nusamakmur, beda dengan saat berangkat (KMP Satya Kencana II). Sebelum menyeberang, kami sudah terjalin kontk dengan Mas Taqwim dan beliau meminta kami menyeberang selepas maghrib.

“Bagaimana ini, Bu, kita diminta menyeberang sesudah Maghrib agar bisa bertemu.”

“Aduh, jangan. Lain waktu saja. Aku taku laut gelap,” begitu jawaban dari Ibu dan saya menyampaikannya.

Benar, sore menjelang petang itu, kira-kira pukul 17.00 WITA, kami mulai menyeberang. Laut yang biru dan bersih masih tampak tenang. Namun, situasi berubah saat kapal sudah melewati batas tengah. Tiba-tiba, mobil bergoyang-goyang. Ibu dan istri ketakutan. Mereka tegang, merapal bacaan-bacaan. Saya naik ke dek, berbicara dengan seorang kenek truk.

“Kalau malam nanti, gelombangnya akan makin besar,” kata dia yang mengaku berasal dari Singaraja dan ulang-alik penyeberangan untuk mengangkut kaca.

“Kalau yang tempo hari tenggelam itu di sekitar mana?” tanya saya.

“Di situ,” ia menunjuk, “sudah dekat dermaga.”

Sebetulnya, Mas Taqwim sedang dinas hari ini, hanya saja siang tadi dia turun di Ketapang dan mau naik lagi selepas Maghrib. Karena sudah tidak bisa, maka akhirnya kami memilih bertemu di dermaga Ketapang saja. Saya pun kasih tahu ciri-ciri mobil kami berikut plat nomornya. Singkat cerita, begitu kapal Nusamakmur sandar, kami mendarat dengan selamat pada saat maghrib baru saja turun. Hamdalah, kami bertemu Mas Taqwim dan beliau mempersilakan kami menginap di rumahnya. Kami berterima kasih. “Lain kali, semoga,” kata saya. Pertemuan yang singkat itu tetaplah mengesankan. Kami langsung bergerak menuju Gelnmore dan Mas Taqwim juga segera bersiap naik ke Prathita IV yang baru saja sandar.

21640928_1445282085525210_7417108784790414025_o

foto oleh Taqwim via Nabilah Fayshal

Kurang dari dua jam lamanya kami menempuh perjalanan dari Ketapang ke Glenmore. Lepas Isya barulah kami sampai. Di hari  Jumat ini, hari kedua, kami menunaikan kunjungan keempat, yaitu silaturrahmi ke rumah sepupu sekaligus numpang menginap. Masih begitu, saya ambil bonus, takziyah ke rumah Mugimin, malam itu juga. Rumahnya berada di tengah hutan, namun tak jauh dari PP Majlisus Sa’adah, tempat kami mengingap. Dulu, dia tinggal bersama kami. Kini, dia kembali ke rumahnya dan bekerja sebagai penjaga kebun cokelat milik Perhutani, di Wadung Pal. Beberapa waktu lalu, anaknya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.

Hari terakhir, Sabtu, jatah kami sewa mobil, adalah menuntaskan banyak kunjungan dengan jatah waktu tersedia hanya satu hari saja. Maka dari itu, sepagi mungkin kami sudah berniat meninggalkan lokasi, tapi seperti yang sudah-sudah, nasibnya sama seperti kemarin, tidak segera bisa karena tuan rumah masih menjamu makan.

Baru pukul 07.30 kami bisa bergerak, menembus Mrawan, alas Gumitir, dan tiba di Kertonegoro, sebuah desa sekitar 6 kilometer di selatan Kecamatan Jenggawah, berbatas dengan kecamatan Ambulu. Kunjungan kelima ini adalah takziyah ke mendiang Kiai Nur, menantu Kiai Munir Kemuning, yang wafat 12 hari lalu. Yang menerima kami adalah Abdul Hamid, putranya.

Setelah basa-basi dan seterusnya, ngopi dan seterusnya, makan dan seterusnya, kami izin pulang. Namun, ibu saya ternyata punya rencana tambahan, yaitu pergi ke Cangkring, ke ponpes  Madinatul Ulum. Sungguh tak dinyana, kejutan bertambah. Saya bertemu dengan Imdad Fahmi Azizi yang ternyata merupakan menantu Kiai Lufti, pengasuhnya. Dan ini menjadi kunjungan keenam di hari ketiga.

“Kalau ke Krai, ada jalan pintas?” tanya saya kepada Imdad.

“Ada, Mas.”

“Tolong saya dikasih ancer-ancer.”

“Oh, tidak usah. Biar nanti diantar sampai di jalan itu. Jalannya masih baru aspalnya, bagus.”

Dari Cangkring, seorang santri membimbing kami ke jalan akses dimaksud. Memang, saya tidak yakin kalau saja perjalanan dari Jenggawah ke Krai itu harus kembali dulu ke Mangli, lalu ke Rambipuji, dan menempuh jalan yang biasa. “Pasti ada jalan tembusnya,” firasat saya begitu. Kalau kembali ke Mangli, maka rute ini tidak masuk akal. Mungkin bakal ada sekitar 25 kilometer jarak yang terbuang percuma. Saya memang tidak punya ponsel yang memiliki aplikasi peta digital. Sebab itulah saya harus memanfaatkan “GPS yang lain”, yaitu Gunakan Penduduk Setempat (untuk bertanya).

Sebetulnya, masih ada beberapa kunjungan yang sayangnya tidak dapat dilakukan hari ini. Sudah diputuskan, hari ini adalah hari terakhir kami melakukan perjalanan. Jatah sewa mobil cukup untuk tiga hari saja (Rp 750.000), males kalau nambah sehari lagi dan sewa jadi 1 juta, mending buat subsidi BBM yang ditaksir habis 600.000, kurang lebihnya tak seberapa.

Sementara itu, kami masih “diteror” terus oleh Kak Mustofa yang ada di Kraksaan, semacam “pokoknya harus mampir” dan/atau sejenisnya. Saya bingung karena posisi sudah di Lumajang. Waduh, bagaimana ini?

Sepulang dari Cangkring, kami belok kiri di Jenggawah, mengikuti arah yang tadi kami lalui. Namun, sebelum mencapai Kertonegoro, mobil saya diarahkan ke kanan, menembus jalan kecil namun bagus, yang konon bakal terhubung ke akses Balung. Santri pemandu saya hentikan dan saya beri penjelasan bahwa saya sudah paham jalannya. Dia kembali, kami lanjutkan perjalanan.

Sekitar 10-an kilometer mungkin (saya lupa tidak cek odometer), kami tiba di Balung, sebuah kecamatan di Jember bagian selatan. Lalu, sesuai petunjuk, kami ambil kiri setelah jembatan, ikut jalan ke arah Kasiyan. Di Kasiyan Timur, kami ambil kanan sesuai tengara besar di jalan, menuju  Gumukmas, kanan lagi menuju Kencong, Jombang (ini Jombang yang di Jember, lho, bukan kabupaten yang di sebalah baratnya Mojokerto itu), dan barulah kami tiba di Yosowilangun.

Kami ambil kanan di pertigaan Yoso, mengarah ke Krai, PP Bustanul Ulum. Tujuannya adalah takziyah ke rumah Pamanda Baqis yang putranya wafat tempo hari. Pamanda sedang tidak di rumah, belum pulang dari Makkah. Kami diterima putra beliau yang lain, Ubaid. Paman-paman yang lain sedang tidak di rumah pula, tapi saya sudah berjumpa mereka di Bali, kemarin.

Hari mulai sore ketika kami pamit pulang, pukul 15.40, mengakhiri kunjungan yang ketujuh. Saya tanya-tanya lagi. Kesimpulannya: jalan pintas yang harus ditempuh bukanlah jalan yang tadi, melainkan jalan menuju Kunir. Empat kilometer dari Krai, kami tiba di SMP Kunir, belok kanan, menembus jalan kolektor sejauh 8 km hingga nongol di Tukum/Tekung. Dari situ, nambah lagi 7 km ke arah utara, melewati jalan akses yang relatif baru, hingga alan kami tiba di percabangan Jalan Nasional Lumajang-Jember”, maju lagi sedikit, nembus lagi jalan pintas ke ke arah Klakah supaya kami tidak perlu lewat Wonorejo. Demikianlah, jalan tembus-menembus ini lumayan hemat jarak dan memangkas waktu.

Sedianya, saya masih ingin mampir di Klakah, tapi hari sudah mulai petang. Saya khawatir, acara akan berubah lagi dan skenario perjalanan harus disusun ulang. Kak Mustofa yang di Kraksaan itu sudah telpantelpon melulu.

Setelah melewati Ranuyoso, melintasi perbatasan kabupaten Lumajang-Probolinggo, jalan menurun, perlintasan kereta api, nambah 1 kilometer lagi, tibalah kami di sebuah jalan menikung dan pertigaan Malasan. Menurut panduan kawan Adnan yang pedagang sapi dan biasa masuk ke pelosok desa, kami ambil kanan di sana, ikuti jalan kolektor.

Laksanakan, Ndan!

Di zaman digital ini, kita sudah punya satelit yang dapat mengetahui rute tersingkat. Dengannya, kita bahkan juga tahu kepadatan arus lalu lintas. Kita cukup bertanya kepadanya dan dia akan menjawab lengkap, melebihi yang kita mau. Namun begitu, adanya aplikasi semacam bukan tanpa dampak buruk. Salah satunya keburukannya adalah semakin sedikitnya kesempatan kita untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Kata pepatahnya pun sudah berubah, dari “malu bertanya, sesat di jalan” ke “malu bertanya, pakailah GPS”.

Dari Malasan ke Klenang, 10 kilometer jauhnya, kami menyusuri jalan yang bersisian dengan sungai. Jalannya sepi tapi lali lintas padat merayap. Entah memang begitu atau ini karena malam Minggu. Sepertinya, jalan ini dijadikan jalan pintas oleh orang Klakah dan Lumajang yang hendak pergi ke Kraksaan atau Besuki, begitu pula sebaliknya.

Dari Klenang, kami belok kiri, nambah 8 km lagi untuk muncul Gending sehingga kami tiba kembali di “Jalan Nasional Probolinggo-Situbondo”. Dari situlah kami menuju ke arah timur, menuju Kraksaan demi menutup kunjungan yang terakhir, yang kedelapan, di hari ketiga.

Sehabis ngopi-ngopi, makan, istirahat, kami pun pamit pulang. Memang, acara terakhir ini murni silaturrahmi, sebentuk “bayar hutang” saya karena beberapa kali berjanji dan tidak terlaksana.

“Bagaimana, Rid? Masih kuat?” tanya saya ketika semua penumpang sudah masuk ke dalam kabin dan mesin sudah menyala. Warid hanya tersenyum, seperti biasanya.

Selama kamu tidak mengaku lelah, maka saya tidak akan menggantikan nyopir,” kata saya kepada Warid yang dijawab dengan segera memasukkan gigi persneling ke angka satu sehingga Suzuki APV itu bergerak, menimbulkan bunyi tanah berpasir yang terlindas roda-rodanya.

Sempat terlintas dalam pikiran untuk ngopi dulu di kedai kopi Jungkir Balik, Sidoarjo, tapi saya ingat sopir itu, yang mengemudi sesiang penuh dan harus tetap ajeg di belakang stir semalam suntuk. Belum lagi acara mampir di Pondok Pesantren Sidogiri pada pukul 22.40 sekadar untuk mengunjungi Solihin, mengambil naskah majalah dan titip buku, pastilah itu makin menguras tenaganya.

Hanya sesekali melek yang saya lakukan, selebihnya bobo manis di kursi kiri depan seperti seorang juragan. Saya tahu ketika mobil kami lewat Sidotopo; juga saat mengisi BBM di Jalan Kenjeran, juga saat melintasi Suramadu dan melihat kerumunan orang yang rupanya ada kebakaran kabel PLN. Selebihnya saya tidak melihat apa-apa kecuali beberapa saat menjelang tiba di rumah.

Tepat pukul 03.00 pagi, sampailah kami di halaman, pulang kembali dalam keadaan utuh. Semoga perjalanan ini dinilai ibadah karena demi memenuhi undangan walimah, silaturrahmi, juga takziyah. Segera saya ke dapur, bikin kopi, agar tak tertidur sebab hari sudah menjelang Subuh. Dan baru sehirup-dua hirup, berkumandanglah qiraah di masjid jamik, melantunkan 10 ayat terakhir Surah Ali Imron, ayat-ayat yang konon didawamkan oleh Kiai Ilyas, dibaca setelah bangun tidur. Namun, yah, begitulah. Seperti kata Kiai Qusyai kemarin siang, rasanya ia telah menjadi “sunnah mahjurah”, amalan ringan yang berpahala namun mulai dilupa.